Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 38, Penyakit datang berasal dari diri sendiri


Vin merebus beberapa tumbuhan yang sudah ada kedalam sebuah gerabah tanah liat untuk. Satu persatu tumbuhan itu di masukkan dan di rebus hingga air rebusan tersisa separuh.


Setelah selesai dan mendapatkan air rebusan itu, Vin kembali ke kamar kakek dewa dan memberikan air itu untuk diminum agar sisa-sisa racun yang ada luntur sekaligus mengobati beberapa keluhan penyakit yang di alami sang kakek.


"Ini adalah ramuan ajaib, Aku harap kakek menghabiskannya dan jangan sampai tersisa agar kakek bisa sembuh total. Jika kakek tidak meminumnya tidak akan ada lagi ramuan ke dua ataupun ke tiga. Jadi aku harap kekek segera meminumnya," ucap Vin dan segera menyerahkan ramuan yang berada dalam gelas itu untuk diminum sampai habis.


"Terimakasih nak Vin, kakek tidak akan melakukan semua yang nak Vin perintahkan, termasuk minum ramuan ini. Walaupun sebenarnya kakek tidak terbiasa minum ramuan yang pahit. Tapi kakek ingin sembuh, maka kakek akan meminumnya." Kakek Dewa pun segera meneguk ramuan itu sampai habis dan segera istirahat sesuai perintah Vin.


"Tuan Vin, apakah tuan Vin bersedia mengajari teknik jarum agar saya bisa mendalami pengobatan akupuntur agar bisa lebih baik lagi. Jika tuan Vin bersedia, saya akan membayar tuan Vin setelah mengajari saya." ungkap Dokter Lin.


"Tidak perlu bayar, aku akan mengajari beberapa teknik jarum akupuntur secara gratis buat dokter lin, yang mungkin akan bermanfaat untuk kedepannya." jawab Vin.


Mendapatkan jawaban dari Vin yang mau mengajari dirinya teknik jarum. Dokter Lin langsung berlutut dan hadapan Vin.


"Terimakasih guru. Guru sudi mengajari murid yang bodoh ini. Murid janji akan belajar dengan sungguh-sungguh, agar murid bisa memahami semuanya," ucap dokter Lin. Susi yang melihat adegan tersebut terkejut dengan mencibir.


"Sebenarnya kalau di pikir-pikir aku rasa tuan Vin hanya kebetulan saja berhasil mengobati kakek. Aku tak yakin jika dia bisa melakukan pengobatan seperti itu lain kali." Sindir Susi


"Susi, kamu masih ingat dengan perjanjian kita bukan dan kamu selama setahun ini akan menjadi pelayanku jadi kamu harus belajar menghormati aku sebagai Tuan mu,paham."


Susi memikirkan berbagai cara untuk membujuk Vin agar mau membatalkan taruhan itu.


"Tuan, bisakah aku mengganti kalah taruhan ini dengan uang saja, aku akan membayar berapa pun yang tuan minta," ucap Susi namun di hiraukan Vin dan memilih ngobrol dengan Dokter Lin.


Beberapa kali Susi berusaha memberikan penawaran pada Vin namun Vin tiba-tiba memukul pundak Susi yang membuatnya seketika terkejut, Namun pukulan itu membuat Susi merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Rasa sakit yang ia rasakan setiap dia marah tiba-tiba berkurang dan merasakan keadaannya sedikit lebih membaik, namun Susi masih belum percaya jika pukulan yang dilakukan Vin mampu meredakan rasa sakit itu.


"Sekali lagi kamu berani melawanku, aku akan memukulmu jauh lebih keras dari yang aku lakukan sekarang. Jadi jangan pernah membantah ataupun berani melawan dan ingat, perjanjian tetap perjanjian tidak bisa di tukar dengan apapun. Jadi bersiaplah untuk mematuhi semua perintahku,"Ucap Vin dengan tegas.


Susi hanya bisa menghela nafas, kesempatannya untuk bisa lepas dari taruhan sudah hilang.


"Aku ingin bertanya padamu, aku harap kamu jawab dengan jujur. Apa yang kamu rasakan saat aku memukul pundak mu?" tanya Vin.


"Apa yang aku rasakan? Emmm sebenarnya, eemmm..."


"Jawab dengan jujur!" Bentak Vin


"Aku merasakan, rasa sakit yang aku rasakan setiap aku marah sedikit berkurang. Aku tak tahu penyebabnya itu karena tuan memukul pundak ku tau karena hal lain. Karena selama ini setiap aku meluapkan amarahku, aku merasakan sakit yang teramat di bagian sini dan tadi aku merasakan rasa sakit itu berkurang. Itu yang bisa aku katakan. Jangan bentak aku lagi. Aku tidak akan melawan lagi." Jelas Susi.


Namun Susi yang dasarnya keras kepala tidak begitu percaya sepenuhnya dengan ucapan Vin. Ia pun meminta satu persatu permintaan untuk meyakinkan jika ucapan Vin benar.


"Bisakah Tuan memukulku sekali lagi? aku ingin membuktikan kalau kata-kata tuan itu benar atau hanya ancaman saja."


"Tidak aku tidak bisa melakukannya sekarang. Karena kamu tidak percaya dengan kata-kataku. Sepertinya tugasku disini sudah selesai aku harus pergi sekarang juga." ucap Vin.


"Guru, apa guru lupa? bukankah guru sudah berjanji untuk mengajariku teknik jarum." Tegur dokter Lin.


Vin pun meminta izin pada kakek dewa menjadi media untuk mengajari dokter Lin teknik jarum akupuntur yang dia ingin pelajaran.


Vin pun mengajari dokter Lin titik akupuntur yang jarang di perhatikan oleh ahli medik. Vin mengajari beberapa cari untuk mencari titik akupuntur yang tersembunyi. Vin juga mengajari cara mendiagnosis penyakit melalui beberapa titik. Dokter Lin yang memang sudah ahli medik dengan mudah mempelajari apa yang di ajarkan oleh vin.


"Terimakasih banyak guru atas semua pelajaran yang guru berikan, dan sekarang saya mendapatkan beberapa ilmu bar tentang jarum akupuntur dan titik akupuntur yang tersembunyi. Lain waktu jika guru tidak ada kesibukan, murid harap mau mengajari murid lagi pengetahuan medik akupunktur yang lainnya." Berulang -ulang dokter Lin mengucapkan terimakasih sebelum Vin pergi.


" Aku hanya berpesan gunakan pengetahuan yang aku berikan untuk membantu orang lain dan jangan menyombongkan diri saat kamu bisa melakukannya."


Vin pun ingin mengajak Ambar pergi, namun langkahnya di tahan oleh Kakek Dewa.


"Tunggu nak Vin, jangan pergi dulu!" tahan kakek Dewa. Vin dan Ambar segera membalikkan badan dan menghampiri sang Kakek.


"Ada apa lagi kek? Apa masih ada yang sakit?"


"Tidak. Tunggu sebentar." Kakek Dewa mengambil cek yang ada di lacinya. Ia segera menulis nominal uang yang akan di berikan pada Vin beserta tanda tangannya.


"Ini cek sebagai ucapan terimakasih kakek pada nak Vin." Kakek Vin memberikannya kepada Vin. Saat itu juga Vin melihat nominal uang yang cukup besar, bahkan bisa digunakan untuk membantu mengatasi kesulitan keuangan yang dihadapi istrinya.


"Jangan menolak pemberian kakek. Nominal itu tidak seberapa dibandingkan dengan harga yang harus di bayar untuk menyelamatkan kakek.


"Guru, ini juga ada cek untuk guru karena sudah mau menerima saya sebagai murid dan mau mengajari teknik jarum. Tolong di terima, mungkin ini tidak seberapa tapi ini saya berikan sebagai bentuk rasa terimakasih saya kepada guru."


Vin pun tak bisa berkata apa-apa, Ambar pun meminta Vin untuk mengambilnya. Vin pun mengambil kedua cek tersebut dan berulang kali mengucapkan terimakasih kepada kakek dan dokter Lin sebelum mereka pergi.


To Be continued ☺️☺️