Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 57. Pembunuhan


Setelah terjatuh dari lantai atas, Kevin mengerang kesakitan, saat tubuhnya menimpa Vin yang ada di bawahnya. Hingga membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Walaupun tidak mati Kevin yakin dirinya pasti akan lumpuh.


Sedangkan dibawah Vin tertimpa tubuh Kevin. Dengan sekuat tenaga, Vin mendorong tubuh Kevin menjauh darinya. Keputusan Vin secara darurat untuk meraih Kevin membuatnya hampir mati tertimpa.


"Arrrggghhhh. " Vin mengerang sambil berusaha bangkit berdiri. Walaupun tidak memiliki luka yang cukup serius, namun dada Vin terasa sesak saat tubuhnya ditimpa manusia yang beratnya lebih dari tujuh puluh kilo.


Secara sepintas Vin tau jika Lelaki yang sedang berjaga di luar itu adalah Kevin, salah satu pria yang dimaksud paman Dom dan ciri-ciri yang di sebutkannya.


Karena ingin segera menyelamatkan Ambar, Vin ingin segera pergi sebelum terlambat dan mengabaikan Kevin yang masih tergeletak di lantai. Melihat Kevin yang ingin menyerang rekannya yang lain, sekuat tenaga Kevin berusaha mengambil pestol yang ada di celananya dan menembak Vin, Namun sayangnya sasaran Kevin meleset dah mengenai tembok yang berada tepat di depan vin.


Vin yang terkejut segera menoleh ke arah Kevin yang tengah bersiap untuk menembak ulang. Sebuah batu yang entah dari mana datangnya menghantam Kevin hingga menembus jantung. Seketika Kevin pun meninggal di tempat dengan kematian yang sia-sia. Belum apa-apa nyawanya sudah melayang.


Kelvin tercengang, tak menyangka jika baru yang dia lemparkan ke arah pestol agar tidak membidik dirinya malah mengenai jantungnya hingga membuatnya mati seketika.


Melihat Kevin tak berdaya, Vin tak perduli yang saat ini dia pikirkan hanyalah keselamatan Ambar. Dengan sekuat tenaga Vin berusaha naik ke lantai atas lagi untuk mencari keberadaan Ambar. Akhirnya Vin sampai ke lantai atas dan langsung mendobrak pintu agar bisa masuk ke ruangan direktur. Vin menemukan masih ada enam pembunuh bayaran yang bertubuh kekar dengan membawa senjata, tengah mengincar Ambar dan mereka segera berbalik saat melihat Vin mendobrak pintu dan masuk.


Vin melihat Ambar bersembunyi di bawah meja, akhirnya membuat Vin sedikit bernafas lega melihat Ambar masih selamat. Para pembunuh menodongkan senjata dan dari ke enam pembunuh itu salah satunya adalah Karan.


"Siapa kamu?" tanya Karan yang tak mengenal Vin.


"Bos... Kevin sudah mati di lantai bawah dan dialah sudah membunuh Kevin dengan hanya menggunakan batu," ucap salah satu dari mereka yang sempat melihat Apa yang dilakukan Vin sebelum dia lari kembali dalam kelompoknya.


Vin baru menyadari jika Vin mengunakan tenaga dalam yang lebih hingga membuat batu itu melesat secepat kilat dan langsung merusak tulang rusuk Kevin dan langsung menembus ke jantung hingga membuat Kevin mati sia-sia.


"Keparat! Berani sekali kamu membunuh saudara ku. Akan aku lenyapkan kamu sekarang juga." Teriak Kiran dan peluru yang ada di dalam pistolnya langsung melesat ke arah Vin dan beruntung saja Vin berhasil menghindar. Disaat bersamaan Ambar berteriak.


" Awas tuan...." teriak Ambar dan seketika persembunyiannya di ketahui mereka. Mereka ingin menembak Vindra sekali lagi namun Vin menggunakan batu yang dia miliki untuk menyerang mereka. Beberapa batu mengenai kepala para pembunuh hingga berdarah dan dikesempatan itu Vin menarik pedang lima inchi yang dia miliki seketika pedang itu berubah menjadi pedang dengan kilau api.


Vin memperhatikan pedang tersebut dan mengaguminya dan sekelebat sesuatu merasuki jiwanya. Aura pembunuh pun menyelimuti, mata Vin menjadi merah seperti iblis yang haus darah.


Pembunuh yang tersisa mengarahkan pistolnya pada Ambar untuk membunuh membunuhnya Demi melindungi Ambar. Vin berguling dan langsung meraih tubuh Ambar dah memeluknya menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Ambar, saat itu juga satu peluru melesat dan mengenai pundak Vin yang tengah melindungi Ambar


Darah segar pun langsung mengalir di punggung Vin. Ambar benar-benar terkejut. Demi melindunginya Vin mengorbankan dirinya hingga akhirnya peluru itu mengenai pundaknya.


"Vin..." Kata yang keluar dari mulut Ambar dengan gemetar.


"Aku tidak papa." Jawab Vin membuat hati Ambar benar-benar tersentuh. Segera saja Vin menyuruh Ambar kembali bersembunyi di bawah meja dan ia pun melirik pedang miliknya yang tergeletak di lantai.


Sebelum mereka menembak kembali secepat kilat Vin menjangkau pedang miliknya dan menyerang Karan dengan membabi buta. Vin menyerang balik dan berusaha melenyapkan Karan dengan pedangnya. Namun sayangnya, Vindra kesulitan untuk membunuhnya.


Keduanya pun berkelahi dengan senjata, Vin mengunakan pedang miliknya dan Karan mengunakan besi seadanya untuk melindungi diri.


Bunyi besi yang beradu membuat Ambar menutup mata dan telinga karena ketakutan.


Perkelahian sengit itu membuat Karan kalah dan menyerah dan disaat ingin melayangkan pedangnya untuk menghabisi Karan tiba-tiba seseorang masuk menghentikan Vin.


" Berhenti!!!" Teriaknya.


Vin menoleh ke arah sumber suara dan ternyata seorang Pria paruh baya masuk untuk menghentikan pembunuhan.


"Jangan bunuh musuh yang terakhir, Dalam aturan siapapun yang tersisa nyawanya harus di ampuni. Ini sudah aturan dunia bawah tanah. Lebih baik turunkan pedangmu dan biarkan dia pergi. Ucapnya.


"Aku tidak mengikuti aturan siapapun, jika kamu tidak ingin melihatnya maka berbalik lah dah pergi." ucap Vin lalu membunuh lelaki itu dengan sekali ayunan pedang. Dan kini semuanya sudah lenyap di tangan Vindra.


To be continued ☺️☺️☺️