
"Bunuh dia dan balaskan dendam ku!" perintah Anita.
Yasmin dan Lita saling memandang, menghunus pedang bersama-sama, lalu bergegas ke Andaro.
"Hati-hati" sekali lagi Vin menasehati mereka berdua.
Belum sempat pedang mereka menyentuh Andaro, kedua wanita itu di tendang dengan cepat dan tajam. Mereka berteriak dengan keras, membanting pedang miliknya dan melompat mundur.
Andaro kembali menyerang, walaupun mereka bereaksi tepat waktu, namun mereka masih kalah tenaga dan lagi-lagi mereka terpental, saat Andaro menghantam mereka.
Anita melihat, dua saudaranya mengalami luka tusukan di pinggangnya, walaupun tidak fatal tapi mengeluarkan banyak darah.
"Bajingan."
"Bajingan, dia akan menggunakan senjata untuk menghancurkan orang." Teriak Anita menuduh Andaro.
"Membunuh orang dengan senjata?!" sudut mulut Andaro membangkitkan lelucon. "Apa kamu tidak bisa memahami kemampuanmu sendiri? Lihatlah cara memegang pedang kalian, sama sekali tidak menunjukkan kalau kalian bawahan Tiger Wang. Untuk berurusan denganmu aku tidak perlu menggunakan pedang."
Andaro membuang pedangnya dan berkedip, aura di tubuhnya meledak yang mengejutkan semua orang.
Tiba-tiba Yasmin dan Lita menyerang Andaro dengan pedangnya. "Mati."
Andaro menghentakkan kakinya dan dan seketika lantai terguncang, lantai berubah menjadi puing-puing dan terbang, mereka hendak menikah, namun Andaro lebih dulu meninju pedang mereka hingga terbang, lalu tinjuan itu mengenai dada kedua wanita itu berkali-kali tanpa henti.
Ekspresi Yasmin dan Lita segera berubah dan mereka segera memblokir serangan. Tinjuan terakhir, membuat kedua wanita yang terlihat feminim untuk terguncang hebat dan terhuyung ke belakang. Mereka masih berusaha sekuat tenaga untuk bertahan.
Andaro mencibir dan sekali lagi menendang mereka dengan kuat dan kejam, dan tidak ada waktu lagi untuk mereka bereaksi, hanya bisa menyilangkan tangannya untuk memblokir dada mereka dari tendangan Andaro.
Tendangan Andaro membuat mereka terpental, jatuh dan menghancurkan sofa. Yasmin dan Lita bangkit lalu kemudian mereka memuntahkan seteguk darah, dada mereka naik turun, dan wajah mereka sangat tidak nyaman.
Kesenjangan kedua belah pihak tidaklah kecil.
Pada saat ini Snake Black menghampiri dan membawa orang-orangnya, " Murid dan cucu Tiger Wang, tidak lebih, hanya sampah."
"Bajingan..." kedua wanita itu menjerit, dan bergegas sambil menahan rasa sakit, hanya untuk di tendang Andaro lagi hingga mereka jauh ketanah dan menyemburkan darah.
"Andaro menghela nafas, "Aku tidak akan membunuhmu, aku akan mengembalikan kamu pada Tiger Wang, biar dia tau nasibnya jika berani menentang kita."
Yasmin dan Lita sangat malu dan marah, ingin sekali mereka membalas namun mereka sudah tidak punya energi.
"Tuan Marlin, dan kalian cepat pergi." Anita ingin berjuang lagi. Susi membantu kakeknya untuk bersiap pergi.
Pada saat ini, Vin mengulurkan tangannya meraih lengan tuan Marlin. "Tidak perlu pergi."
Sambil bicara, Andaro menendang Anita lagi hingga terjatuh. "Kamu memang tidak harus pergi dari sini."
Anita Bakti jatuh di depan Vindra dan langsung memuntahkan darah hitam.
"Kakak senior." Teriak Yasmin dan Lita bersama. Wajah cantik mereka menunjukan keputusaan saat melihat sudut mulut Anita mengeluarkan darah. Mereka berfikir, semua sudah selesai hari ini.
Anita menyeka darah sudut bibirnya, sambil menggertakkan gigi dan berlutut. Lalu menatap Vin dan mengutuk.
"Bajingan, kamu ingin membunuh tuan Marlin."
"Kamu sudah selesai?" tanya Vin. Lalu dia meminta Susi untuk menjaga kakeknya dan ia berlahan bangkit berdiri.
"Kamu mencari kematian, dia bukan sesuatu yang bisa kamu tangani. Bahkan kita buka lawannya, apa kamu ingin mati? Dia bisa menusuk mu sampai mati hanya dengan satu jari." Melihat Vin ingin melawan, membuat Anita dan yang lainnya cemas sekaligus marah.
Vindra bicara dengan samar, "Seharusnya kamu tidak mengatakan ini."
"Snake black, jangan bicara omong kosong dengannya, bocah ini, dia terlihat tidak menyenangkan, biarkan aku yang menghabisinya."
Andaro menyeret pedangnya dan bersiap untuk membelah Vindra menjadi dua bagian.
Susi tanpa sadar berteriak, "Vindra..."
sedangkan tuan Marlin tidak menghentikan, namun memperhatikan Vin dengan penuh minat.
Vin memutar lehernya kedelapan, lalu menatap Andaro dan berkata, " jangan kuatir, setelah ini aku akan membakar kertas untuk mu."
"Ha... ha... ha..."
Andaro dan Snake Black tertawa saat mendengar kata-kata Vindra. Bahkan tawa mereka terbahak-bahak, seolah mereka menemukan sebuah lelucon besar sekaligus penghinaan dimatanya.
Pada saat ini, Vin mulai pergerakan. Andaro siap menebas dengan pedangnya, namun sepersekian detik kemudian pedang elang milik Vindra sudah menempel di tenggorokan Andaro.
Beberapa langkah untuk membunuh, semua orang yang melihat terkejut dan langsung terdiam.
Vin menatap sekitaran, "Tertawa, teruslah tertawa..."
Andaro menatap Vin penuh dengan kemarahan, " Ini hanya serangan diam-diam..." Suara Andaro tiba-tiba berhenti. Karena pedang elang telah menembus tenggorokan. Tubuh Andaro tiba-tiba bergetar dan seberkas darah memercik dari lukanya.
Setelah itu dia segera memegang tenggorokannya dan menatap Vindra dengan tidak percaya, dia tidak menyangka Vindra akan membunuh dirinya.
Vin bahkan tidak memandang Andaro. "Sepertinya aku harus memberitahumu sesuatu, sebenarnya Andrea juga dibunuh olehku."
Mendengar hal ini, Andaro ingin sekali mencekik Vindra hidup-hidup, namun sedikit gerakan membuat dirinya lebih cepat mati.
Tak lama, darah menyembur dengan derasnya dan segera ambruk.
Kelompok Snake black langsung terdiam. Susi dan Anita menatap Vin dengan kaget. Tak menyangka Vindra bisa begitu kuat.
Selanjutnya Vin menatap Shake black dan kelompoknya. "Lihat! apakah kamu ingin menjadi begitu sombong?"
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Snake Black, yang merasa Vin cukup berbahaya baginya.
Tanpa banyak bicara, secepat kilat bahkan tidak ada yang bisa melihat kecepatan pedang itu dan kini Vin sudah menghunuskan pedang elangnya tepat di jantung snake black.
Wajah cantik Snake Black seketika berubah, dan berusaha mundur, namun dia terlambat, dadanya kini sudah berlubang dan aliran darah mengalir dari lukanya. Dia benar-benar terkejut, dengan kecepatan yang di miliki Vindra hingga musuh pun sulit menghindar
Seketika, Snake black mati dengan mata terbuka. Snake tak menyangka jika dirinya harus mati di tangan Vindra.
Vin mengacungkan pedangnya pada kelompok Snake Black, "Siapa lagi yang ingin mati?"
Anita dan yang lainnya, memikirkan sikapnya kepada Vindra dan merasa ketakutan.
Ketika Andaro dan Snake Black mati, Susi dan yang lainnya langsung membalikkan keadaan dan menguasai. Saat bantuan dari tuan Marlin datang, semua sudah tidak lagi tegang.
Beberapa menit kemudian, semua kembali normal dan snake black pun musnah.
Vin memperhatikan sekeliling tempat kejadian dan membisikkan beberapa patah kata pada tuan Marlin, dan meninggalkan tempat adegan berdarah itu secepat mungkin.
To Be continued ☺️☺️