
"Cukup kak, kita bahas mobilnya, lebih baik kak vin tunjukkan padaku, atau buka mata batinku biar aku bisa melihat dunia lain."
Vindra terdiam sesaat, tak menyangka Tiffani anak bicara hal yang bodoh dan begitu mudah percaya padanya.
"Jangan bicara main-main, membawa mata batin akan membunuhmu takut setengah mati." Vin menolak sambil memutar setir menuju area permukiman rumah Gultom.
"Jika kak Vin tidak mau menunjukkan padaku malam ini, kak Vin harus janji mau membuka mata batinku lain kali."
Vin tersenyum tak berdaya, "Oke, jika ada kesempatan, aku akan menunjukkannya padamu."
Tiffani menyandarkan tubuhnya disandarkan kursi penumpang. " Ngomong-ngomong, kak Vin, setelah kejadian hari ini, sepertinya aku tidak ingin lagi pergi ke BBI Star Farmasi, dan aku tidak ingin berhutang budi pada kak Johan."
"Jika kamu suka dan ingin bekerja di sana, pergilah untuk wawancara. Gunakan kekuatanmu sendiri dan jangan khawatir tentang apa yang kamu bisa."
"Aku tidak ingin melihat kak Johan dan yang lainnya."
Walaupun Johan sudah membantu, tapi Tiffani merasa jijik dengan gayanya. Jadi dia akan segera membayar seratus juta dan segera memutuskan hubungan.
Vindra tersenyum." Jangan khawatir, sebentar lagi mereka akan berhenti."
"Berhenti? mereka bekerja dengan baik, apa yang mereka lakukan sampai mengundurkan diri?" tanya Tiffani yang nampak bingung.
"Aku punya firasat tentang hal itu." Jawab Vin sambil tersenyum.
Saat bicara, rumah Gultom sudah terlihat, Vin segera menghentikan laju mobilnya
Sekitar dua puluh meter sebelum sampai gerbang rumah Gultom, Vin menghentikan mobilnya. Dia segera keluar dan membantu menurunkan koper Tiffani.
" Tiffani nampak bingung." Kakak ipar, kenapa berhenti disini? Oh, kamu tidak ingin mereka tahu, agar mereka tidak merebut dan dikendarai mereka, kan? Jangan khawatir kakak ipar aku akan melindungi mu dan mengatakan kakak ipar meminjam dari temanku."
Vin menghela nafas, " Tiffani, sebenarnya aku sudah menceraikan kakakmu. Itu terjadi kemarin. Aku tidak akan menjelaskan prosesnya kenapa bisa terjadi, singkatnya aku tidak punya urusan lagi dengan keluarga Gultom. Alasanku menjemputmu di bandara hanya karena aku tidak sengaja setuju. Baik orang tuamu maupun kakakmu tidak ingin melihatku lagi, mereka tidak akan senang melihat kamu bersamaku. Jadi jangan menyuruhku masuk. Kamu bisa masuk kerumah itu sendiri, dan kita tidak perlu saling berhubungan lagi dimasa depan."
"Apa?!" Tiffani sangat terkejut, senyuman langsung membeku, dia menatap Vindra dengan tidak percaya. "Kamu menceraikan kakakku? Apa yang terjadi?"
"Kami sudah bercerai. Tidak perlu ada yang bahas lagi, atau itu akan membuatmu sangat marah. Jangan berpegang pada siapa yang benar dan siapa yang salah. Lebih baik kamu berkumpul dengan keluarga Gultom dan jangan dibahas lagi."
"Jangan pergi kak, jangan pergi!"
Melihat Vin yang akan pergi, Teffani membuka tangannya dan menghentikan Vindra." Kakak ipar, jika kamu tidak menjelaskannya, aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Kakak ipar, apakah orang tuaku mempersulit mu? atau apakah kak Sifa berselingkuh?"
Meskipun Teffani dan Vindra tidak bertemu dalam waktu cukup lama, tetapi Teffani dapat memahami jika Vindra meninggalkan keluarga Gultom, pasti ada sesuatu yang terjadi yang sudah tidak sanggup dihadapi Vindra.
"Ada banyak hal, tapi yang paling mendasar adalah kakakmu tidak menyukai aku sama sekali. Aku tidak bisa menghangatkan hati kakakmu, jadi itu adalah pilihan terbaik untuk melepaskan satu sama lain." Jelas Vindra.
'Kembalilah, istirahat, dan jangan beri Johan seratus juta, aku yang akan mengurus masalah ini." Vin membisiki Tiffani, lalu berbalik dan berjalan menuju kursi pengemudi.
Wajah Tiffani menjadi pucat, kemudian dengan keras kepala membeku tangannya lagi." Jangan pergi!"
Vin segera berbalik dan memutari mobil untuk masuk mobil lewat pintu mobil. Saat dia melangkah beberapa langkah dia tidak bisa melangkah lagi, saat merasa ujung kemejanya merasa tersangkut sesuatu, dan perlawanan yang kuat membuat Vin tidak bisa bergerak maju.
Vin segera menoleh dan melihat Tiffani yang memegang koper, sedang berjongkok dengan tubuh gemetar, dia menunduk tapi satu tangannya memegang erat ujung kemeja Vindra.
Jemarinya mencoba yang terbaik untuk memegang ujung kemeja Vindra dengan erat, tidak perduli bagaimana Vindra menariknya, dia tidak akan melepaskannya.
Vin hanya bisa menatap dengan kosong." Tiffani, aku dan keluarga Gultom benar-benar sudah selesai."
Tiffani menatap Vin dengan sedih, bibirnya bergerak, tapi pada akhirnya tidak ada suara. Jemarinya masih mencengkeram ujung kemeja Vindra, tidak peduli, dia tidak ingin melepaskannya.
Namun pada akhirnya Vindra tetap meninggalkan Tiffani. Dia sudah menceraikan Sifa, jadi mana mungkin dia kembali ke rumah Gultom. Tapi Vindra harus menyetujui permintaan Tiffani sebelum Tiffani mau melepaskannya. Dia mengizinkan Tiffani tetap menghubungi dirinya.
Setelah melihat Tiffani masuk ke rumah Gultom, Vin pun kembali ke klinik CRISHAN.
Sesampainnya di klinik Vin tidak menemukan keberadaan Rahendra Wang, Namun, Vin tidak ambil pusing, karena hanya dirinya yang bisa menyembuhkan Rahendra. Dia percaya sebelum jam dua siang, Rahendra pasti akan muncul di klinik.
Setelah selesai dengan rutinitas sepanjang hari dan beberapa kejadian tak terduga, Vin sangat lelah jadi dia memutuskan untuk segera mandi dan beristirahat.
Saat hendak merebahkan tubuh untuk istirahat, ponselnya pun berdering dan dia segera mengangkatnya.
"Vindra apa kamu sudah tidur?" tanya Dewi.
"Semua sudah selesai dan bersiap untuk tidur. Ada apa kak Dewi? Apa ada sesuatu?"
Dewi tersenyum lembut. Sempel Putri malu sudah keluar dan hasilnya luar biasa. Kami yakin bisa memonopoli pasar kelas atas. Kami memberikan Sempel ke beberapa agen, mereka membuat pesanan untuk setahun ke depan. Singkatnya semua berkembang dengan pesat."
Mendengar perkembangan BBI Star Farmasi, Vin merasa gembira. "Apa yang bisa aku bantu?"
"Ada."
"Sebelumnya aku berencana untuk mengundur waktu kehamilan setengah tahun lagi, tetapi ayah kami ingin secepatnya mendapatkan cucu, jadi kami tidak bisa menundanya lagi. Jadi aku berencana untuk berhenti mengurus manajemen harian akhir bulan ini. Kamu tidak perlu khawatir tentang operasional perusahaan, walaupun aku tidak campur tangan dalam manajemen harian, aku akan tetap mengurus manajemen umum. Selain itu kemampuan Lusiana luar biasa, dia begitu cepat memahami cara kerja perusahaan dan dia juga membuat saran dan juga perbaikan."
" Intinya aku ingin kamu pergi ke perusahaan besok, untuk menunjukkan status kamu sebagai pemegang saham utama dan juga direktur. Biarkan para karyawan perusahaan mengenalmu. Dengan cara ini, perusahaan memiliki tulang punggung. Begitu ada masalah besar di masa depan, tidak akan terlalu canggung bagimu untuk muncul dan menyelesaikannya." Jelas Dewi panjang lebar.
"Baiklah tidak masalah." Vin tertawa dan setuju tanpa ragu-ragu. "Aku pemegang saham utama, dan aku harus bekerja."
Perusahaan sangat besar, dan sebagian keuntungannya adalah milik Vindra. Hanya saja dia tidak mengerti manajemen dan tidak suka menjalankan perusahaan. Itulah alasannya kenapa Vindra tidak pernah muncul di BBI untuk membantu.
Seketika perusahaan membutuhkan dirinya, itu artinya dia harus muncul dan secara alami membuat Vin langsung setuju.
"Sampai jumpa di gedung BBI besok jam sembilan." Dewi tersenyum lalu menutup panggilan teleponnya.
To be continued 🙂🙂🙂