
"Kamu...." Steven menyalahkan Ben dan mengutuknya. " Kamu memang binatang. Mulai sekarang aku tidak akan perduli lagi denganmu."
" Aku juga tidak perduli." Teriak Ben. "Ketika kamu menamparku dan mempermalukan ku, aku menganggap tidak punya saudara seperti kamu. Aku memintamu untuk membalaskan dendam ku, bukan malah mempermalukan aku."
Ben mengarahkan jarinya ke Vindra. "Vindra, aku tidak takut padamu, sebentar lagi kamu akan selesai. Sudah aku katakan, kakek Tuan Glenn akan datang, dia adalah ketua Redblack di kota M. Jika kamu memiliki kemampuan jangan hanya menunjukkan kepada ku tapi tunjukan didepannya nanti."
'Tuan Morgan akan datang?'
Mendengar kalimat ini, ekspresi semua orang langsung berubah, sulit dipercaya kalau kalau ketua Morgan benar-benar datang.
Jika ketua Morgan datang, dapat dipastikan Vindra akan mati, karena kekuatan ketua Morgan setara dengan Tiger Wang.
Marcel menyernyit, dia menyadari jika masalah bertambah besar, dan semua kata-kata Dara hampir benar.
Glenn mengangkat kepalanya, "Ya, kakekku datang ke kota SB dan dia akan datang kesini."
Vindra berjalan mendekati Glenn, "Percaya atau tidak, jika dia berusaha memprovokasi ku, aku akan memukulinya."
"Hahaha, kamu ingin mengalahkan kakekku?" Glenn tertawa terbahak-bahak, memandang Vindra seperti orang gila. " Vindra kamu pikir kamu siapa? Berani menentang kakekku. Asal kamu tahu, sepuluh orang seperti kamu tidak akan cukup untuk mengalahkannya. Dia bisa menusuk mu sampai mati hanya dengan satu jari. Kamu hanya menunggu untuk berlutut dan memohon belas kasih kepadanya."
Dara mendekat dan berbisik pada Vindra." Tuan apakah perlu memanggil paman Dom?" Dara mencoba untuk mengingatkan Vindra tentang lawannya. "Tuan Morgan Morgan memiliki kekuatan yang luar biasa, dan dia menjadi salah satu master. Dia tidak sebagus paman Dom, tapi kemampuannya tidak bisa disepelekan. Semua orang disini takut dan tidak berani melawan tuan Morgan."
"Tidak perlu, dah sebaiknya dia tidak datang. Jika dia datang aku akan mengalahkan dia juga."
Dara terkejut, dia tidak tahu darimana keberanian yang di tunjukkan Vindra tapi dia tidak mengatakan apapun.
Tak lama kemudian, beberapa mobil melaju dengan arogan dan berhenti di kerumunan.
Pintu mobil di buka, dan saat itu semua wajah menjadi tegang. Seorang pria tua berjas keluar dari dalam mobil dan dia tak lain adalah Morgan.
"Kakek..."
"Ketua Morgan..."
"Ketua Morgan..."
Glenn berteriak dan segera membawa kelompoknya untuk menyambut ketua Morgan.
"Cucu kakek, apa yang terjadi? kenapa sampai kamu menginginkan kakek datang kemari?"
Glenn mengarahkan telunjuknya pada Vindra. "Dia sudah berani menggertakku di tempat umum kek."
"Bajingan."
Morgan sangat marah saat melihat kondisi cucunya yang terdapat luka bakar di pipi, luka terbuka di kepala, dan wajahnya bengkak. Biasanya cucunya lah yang selalu menggertak orang lain, sejak kapan menjadi berbalik cucunya yang di gertak orang lain.
Bang...
Kakek Morgan yang melihat keadaan cucunya tiba-tiba menendang Steven hingga jatuh ke tanah.
Belum sempat Steven bangkit berdiri, anak Redblack bergegas mengepung dan memukuli Steven.
Seketika darah berceceran, dan kepala Steven sangat sakit. Beberapa orang maju dan kembali menendangnya.
Sebenarnya Steven mampu melawan tapi dia tidak berani, karena Morgan bisa menghancurkannya sampai mati. Saat ini dia hanya bisa memegang kepala dengan tangan menahan pukulan dan tendangan. Pada akhirnya wajahnya menjadi bengkak, hidung berdarah, tulang rusuk patah, dan beberapa memar di bagian tubuhnya.
Kelopak mata Marcel dan Dara melonjak, mereka tidak menyangka jika lelaki tua itu begitu arogan. Sedangkan Vindra tidak melakukan gerakan apapun, tapi menyaksikan adegan dengan penuh minat, seolah-olah Steven di pukuli tidak ada hubungan dengannya.
Beberapa menit kemudian, Morgan menghentikan muridnya, dia kemudian memandang Vindra, " Kamu melukai cucuku, Glenn?"
"Ya." Jawab Vindra dengan tenang.
Melihat keangkuhan Vindra, Morgan tertawa, lalu suaranya tenggelam dengan cepat. " Apa kamu tahu, apa akibatnya jika memukuli cucuku?"
Vindra tersenyum. " Jangan bertanya, kenapa aku memukuli cucumu."
"Aku tidak perlu bertanya, dan aku tidak akan bertanya, yang aku tahu kamu telah melukai cucuku." jawab Morgan sambil berjalan dengan tangan di punggung.
"Kakek dia bicara dengan arogan, mengatakan jika kakek memprovokasi nya, dia akan memukuli kakek," ucap Glenn mengompori.
"Ya, dia mengatakan itu." saut Ben.
"Memukul aku? kamu memang benar-benar tidak tahu siapa aku." Morgan bicara dengan marah. "Wah sepertinya aku harus menyelesaikan kamu hari ini, agar kamu tahu siapa aku."
"Benarkah? terlalu sombong."
" Tinju dan kekuatan adalah kekuasaan, yang lemah hanya bisa berlutut dan meminta belas kasih. Kamu tanya padanya tentang kekuasaan." Morgan menunjuk ke arah Steven yang masih di tanah.
Vindra menjawab dengan samar, "Wah sepertinya aku akan mendapatkan masalah."
"Berlutut dan akui kesalahanmu dengan patuh, biar Glenn yang menghukum mu, dan aku akan mempertimbangkan untuk membiarkan kamu hidup. Jika tidak, tidak hanya kamu, tapi keluarga mu juga akan menderita," ucap Morgan dengan arogan.
Dara memandang Vindra dengan cemas, tidak tahu apa yang akan dia lakukan dengan ponselnya, tapi dia takut Vindra akan di bunuh Morgan karena kemarahannya.
Dia bisa saja meminta bantuan pada ayahnya, tapi Vindra baru saja menegaskan bahwa dia tidak membutuhkannya.
Saat ini Vindra hanya menyipitkan matanya, menyaksikan kakek dan cucu yang sama-sama arogan.
"Wah, sepertinya kamu mulai takut sekarang." Melihat Vindra yang terdiam, Glenn melangkah maju dan tersenyum.
"Kenapa kamu tidak berlutut sekarang? Cepat berlutut di depanku jika kamu takut!" perintah Glenn, dia berpikir bahwa Vindra tidak akan berani melawan kakeknya.
Namun kemudian kepanikan itu muncul, saat Vindra tiba-tiba menampar wajah Glenn.
"Kamu pikir kamu siapa, berani menyuruhku berlutut." Vindra memandang Glenn yang saat ini jatuh ke tanah.
"Kakek." Glenn menatap kakeknya sambil memegangi pipinya yang bengkak. Glenn sangat marah dan tidak berharap Vindra menjadi begitu merajalela.
Semua yang melihat tercengang sambil membuka mulutnya, mereka tidak menyangka Vindra begitu berani di depan Ketua Morgan.
Saat ini yang paling terkejut adalah Morgan. Karena menurutnya tidak akan ada yang berani melawan dirinya, karena dirinya adalah ketua Redblack kota M yang memiliki posisi tinggi dan kekuatan yang besar. Siapa yang menyangka jika Vindra mengabaikan keberadaan dirinya dan menampar Glenn kembali di tempat umum.
"Hajar Dia!" perintah Morgan. " Hajar dia sampai mati."
Lusinan anak Redblack memutar lehernya dan menyeringai dan siap menghajar.
Detik berikutnya, Vindra menarik sembuh benda dari lengannya dan menarik kedua sisinya, saat itu juga sebuah tongkat dengan ukiran Naga dan Phoenix muncul di depan mereka, dan seketika Semua murid Redblack berhenti.
...****************...