
Pada saat ini, sebuah benda tiba-tiba meleset mengenai pergelangan anak buah William yang sedang menodongkan senjatanya pada Vin. Seketika Mereka berteriak, dan darah langsung mengalir. Pestol pun langsung terjatuh ke lantai bersamaan dengan erangan kesakitan.
"Bajingan mana yang sudah berani melukai bawahanku. Aku akan pastikan membunuh seluruh keluarganya."Teriak Wiliam menentang.
"Bunuh seluruh keluargaku? Ah, keluarga Wells memang hebat, bahkan berani ingin membunuh keluarga Marlin. Aku pikir keluarga Wells sudah menguasai kota." ucap seorang wanita dengan dingin.
Dari arah pintu, masuk sosok Susi Marlin dan juga Dewa Marlin berserta bawahnya.
Ketika melihat Dewa Marlin muncul, semua langsung menyapanya. "Tuan Marlin."
Saat itu raut wajah Wiliam berubah drastis. Dewa Marlin pemilik perusahaan Barang antik, mampu menghancurkan keluarga Wells dalam sekejap.
Dewa Marlin, pertama kali mendapatkan kekayaan, dengan melakukan penyelundupan barang antik dan melakukan perampasan ribuan barang antik. Tak hanya itu saja, panambangan batu giok dan emas, telah membuat Dewa Marlin di hormati dan menjadi salah satu dewa kekayaan.
Kakek Dewa, menatap Wiliam, "Hubungi ayahmu dan tanyakan padanya, Apakah dia berani mengatakan ini?"
"Tuan Dewa Marlin, maafkan aku, aku yang membuat kesalahan." William mengubah postur arogannya dan membungkuk untuk minta maaf.
"Minta maaf, pada Vindra dan berlutut!" perintah Kakek Dewa.
Mendengar perintah Kakek Dewa, ekspresi Wiliam langsung berubah."Aku..."
Plaakkk...
Tiba-tiba tamparan mendarat di pipi Wiliam.
"Cepat minta maaf sekarang!" perintah Kakek Dewa.
"Tuan Marlin, ini hanya salah paham..."
Plaakkk...
Tamparan itu sekali lagi mendarat di pipi Wiliam.
"Cepat minta maaf!"
William yang baru beberapa saat yang lalu, memamerkan kekuatannya dan akan membunuh Vindra. Kini sikapnya seperti anjing yang ketakutan.
"Demi ayahku..."
Pllaaakkk...
Sekali lagi, kakek Dewa menampar Wiliam.
"Minta maaf!"
Wiliam hanya bisa menggerakkan giginya, "Tuan Vindra maafkan aku," ucap Wiliam. Pada saat yang sama, Wiliam akan mengingat kejadian ini dan akan memastikan di masa depan akan membuat Vindra merasakan hal yang sama.
"Apa kamu tuli? Aku baru mengatakan padamu, berlutut, Minta Maaf dan ganti rugi sepuluh juta." Vin segera mengambil minuman di atas meja dan menyiramkannya pada Wiliam.
Seketika Wiliam tanpa sengaja berteriak." Kamu... jangan terlalu banyak menipu orang."
Vin menampar wajah Wiliam," tidak bisakah aku menggertak mu?"
"Bajingan..." teriak Wiliam. Vin menendang dan menginjak William seperti kura-kura.
Anak buah Wiliam, tanpa sadar ingin bergerak untuk menyerang, namun saat melihat Susi, langsung mengurungkan niatnya.
Riana dan Regina tercengang melihat apa yang dilakukan Vin pada Wiliam. Yang lebih tercengang adalah Regina, baru saja dia mendapatkan pendukung. Sekarang sudah di injak oleh Vin. Padahal yang Regina inginkan, yaitu Vin yang berlutut dan memohon belas kasih seperti yang dia lakukan saat minjam uang, bukan seperti sekarang ini.
William lagi-lagi menggertakkan gigi, "Jangan perlakuan Bos seperti ini!"
Vin memukul lagi," Sepertinya ada yang salah dengan gertakan mu."
"Apa yang kamu inginkan...?" Wiliam mulai frustasi.
" Berlutut dan minta maaf. Bayar kompensasi sepuluh juta " jawab Vin.
"Apa kamu mengerti, apa yang di katakan Vin" Saut kakek dewa, membuat Wiliam tidak punya jalan keluar.
Dia pun akhirnya hanya bisa minta maaf, " Vindra , oh tidak, tuan Vindra maafkan aku," ucap Wiliam sambil berlutut. Setelah itu Wiliam menulis nominal sepuluh juta pada cek dan memberikannya kepada Vin. sambil tersenyum tapi ada niat membunuh.
Vin tidak perduli dan segera mengambil cek tersebut dari tangan Wiliam. "Hanya untuk uang sedikit, kamu rela di hajar. "
"Jika kamu melakukannya lebih awal, kamu tidak akan seperti ini." saut Dom dengan bercanda.
William benar-benar terpaksa, untuk menghindari tindakkan Vin yang lebih dari ini. Intinya dia tidak ingin mati hari ini.
Dom berfikir, jika Vin mampu membunuh musuhnya dengan mudah. Mengatasi Wiliam pasti hanya masalah sepele. Hanya saja yang sial saat ini adalah William yang harus bertemu dengan tuan Marlin. Jika saja tuan Marlin tidak muncul, Wiliam mungkin saja sudah bisa membunuh Vin saat itu juga, ditambah Wiliam memiliki kekuatan uang yang bisa memerintah siapa saja.
" Vindra, Jangan beri aku kesempatan, kalau tidak, aku akan membunuhmu." Wiliam berusaha bangkit berdiri sambil menggertakkan gigi. "Bahkan keluargamu tidak akan beruntung." ancam Wiliam.
Vin tidak perduli dan malah berbalik. Dalam hati Vin sudah menulis nama Wiliam sebagai salah satu orang yang masuk daftar kematian.
Wiliam dan rombongannya segera pergi karena merasa malu. sedangkan Regina dan Riana menjadi sedih karena tidak bisa mempermalukan Vin saat ini.
Beberapa saat kemudian, restoran kembali normal kembali. Dom menghampiri Vin dan berkata sesuatu." Tuan Vin, Wiliam itu seperti anjing gila, Untuk wanita dia bisa melakukan apa saja menggunakan uang. Berurusan dengannya sangatlah merepotkan."
"Apa kamu ingin aku melakukan..." Dom menghentikan ucapannya.
"Tidak, aku bisa menyelesaikannya." Sahutnya, Vin tau paman Dominic memilik banyak masalah sendiri, jadi dia tidak ingin merepotkannya.
"Oh, oke. Kalau begitu silahkan atur sendiri. Bicaralah jika kamu membutuhkan aku. Aku tidak akan ragu untuk mendukungmu." Namun Dom masih memiringkan kepalanya memberi kode pada anak buahnya untuk mengawasi Wiliam agar tidak menggangu Vin.
Kakek Dewa menatap Vin beberapa kali. Untuk pertama kalinya Kakek Dewa melihat Dom memberikan dukungan pada orang lain selain Hendra Jakson.
Dominic berbicara dengan Vin dan Tuan Marlin sebentar, lalu memutuskan untuk pergi. Dia merasa akan ada sesuatu masalah yang besar malam ini.
To be continued ☺️☺️☺️