Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 50. Kalung Berlian


Melihat berlian itu menjadi serbuk, semua pengunjung restoran menjadi ketakutan terhadap Vin, dan mereka berfikir jika Vin bukalah orang sembarangan.


"Bagaimana bisa, seorang pria berpendidikan begitu mudah di bodohi oleh penjual dan membeli berlian palsu dengan harga mahal. Orang awam tentang berlian pun tau kalau cincin berlian yang kamu beli itu hanyalah barang tiruan." ledek Vin membuat wajah Fendi merah antara malu dan marah.


"Hey brengsek, kamu harus ganti rugi berlian kakakku yang sudah kamu hancurkan." teriak Medina kesal, dia tidak terima kakaknya di permalukan di momen yang sudah di siapkan.


"Kenapa harus aku yang ganti rugi? Itu adalah kesalahan dia sendiri yang tidak teliti dan akhirnya tertipu dan mendapatkan barang imitasi dan itu 100% kesalahan dia sendiri," jawab Vin menolak permintaan Medina.


"Pembohong, kamu saja tidak pernah melihat berlian yang asli, tapi kamu langsung menyimpulkan dan menghancurkannya. Aku tidak mau tau, kamu harus menggantinya. Itu bukan uang yang sedikit dan kamu menghancurkannya dalam waktu sekejap. Katakan apa kamu akan mengganti rugi atau aku akan laporkan kamu sebagai penipu." Saut Medina memojokkan.


"Kenapa aku harus menggantinya?Aku hanya memberitahu Fendi kalau berlian yang dia bangga- bangga kan itu hanyalah sebuah sampah." Balas Vin.


Vin sangat senang bisa membalikkan keadaan. Vin tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas Fendi yang sudah berani menggoda istrinya di depan matanya. Hal itu membuat Vin murka namun ia tidak ingin buru-buru membalasnya dengan kekerasan, selama masih bisa menggunakan kata-kata untuk mengalahkan, Vin tidak akan membuang tenaganya untuk menghajarnya.


"Aku ingatkan padamu Fendi! Sifa itu istri sah ku. Jadi siapapun tidak boleh ada yang mengganggunya dan kamu Medina sudah cukup kamu ikut campur urusan rumah tangga kami dan jangan pernah kamu berusaha membujuk Sifa lagi untuk bercerai." Pertegas Vin karena sikap mereka yang sudah melewati batas.


"Kamu tidak pantas menjadi suaminya Sifa, kamu itu hanya lelaki miskin yang tidak punya apapun untuk diberikan padanya. Sedangkan aku bisa memberikan apapun yang dia mau." Hina Fendi yang semakin kesal dan tidak mau kalah.


"Aku dah Vin tidak butuh barang-barang seperti itu. Kami sudah cukup dengan apa yang kami miliki." Jawab Sifa, Keduanya saling menatap.


Sifa pun mengajak Vin pergi dan tidak menghiraukan mereka lagi. Saat mereka hendak pergi Medina berteriak karena semakin terpojok.


"Sifa, katakan padaku. Apakah Vin pernah memberi hadiah selama kalian menikah? Aku rasa tidak pernah kan? Jadi apa yang perlu di banggakan dari nya." Teriak Medina.


"Cinta tulus dan kesabaran dan aku rasa tidak semua laki-laki bisa memberikan itu." Jawab Sifa yang sudah jengah dengan pertanyaan yang sama.


Hati vin menjadi hangat saat mendengar kata-kata Sifa yang di ucapkan dengan penuh perasaan. Vin pun ingin menunjukkan kepada semua orang kalau Sifa adalah miliknya dan tak ada yang boleh memilikinya.


Vin mengeluarkan sebuah kotak hadiah dari dalam saku Hoodie dan memberikannya kepada Sifa.


"Ini apa Vin?" tanya Sifa dengan penasaran.


"Buka dan kamu akan melihat isinya," jawab Vin.


Dengan semangat Sifa pun membuka kotak hadiah itu. Sifa penasaran hadiah apa yang bisa di beli Vin untuk dirinya. Ia pun segera membukanya dan alangkah terkejutnya Sifa melihat hadiah yang diberikan Vin.


Sebuah kalung yang terbuat dari dua belas berlian, membuat kalung tersebut menjadi cantik dan mempesona.


Vin membantu mengenakan kalung tersebut di leher Sifa dan membuat Sifa semakin terlihat cantik.


semua pengunjung sangat terpesona dengan kalung yang dikenakan Sifa, dan salah satu pengunjung mengenali kalung tersebut.


" Wah, bukankah itu salah satu kalung berlian limited edition yang dikeluarkan dari perusahaan berlian dan harganya di atas satu Milyar. Banyak sekali wanita yang ingin memiliki kalung tersebut sayangnya kalung tersebut hanya ada beberapa saja." Jelasnya.


Vin yang mendengar penjelasan dari orang tersebut, merasa kalau Susi ternyata orang yang ramah dan juga pengertian.


Melihat apa yang terjadi membuat Fendi semakin Malu, bahkan untuk menutupi wajahnya saja tidak bisa. Medina masih saja membela kakaknya itu.


"Apa masih ada yang lain yang bisa kamu berikan kepada Sifa? hanya kalung saja kamu bangga..." Saut


Medina.


Saat Vin hendak menjawab pertanyaan Medina, tiba-tiba dua polisi lalu lintas masuk untuk mencari seseorang.


"Siapa pemilik mobil mewah yang ada di luar? Bisakah menggesernya! Mobil tersebut menghalangi lalu lintas jalan." ucap polisi itu.


Vin yang merasa memarkirkan mobil tadi dengan sembarangan segera menjawab." Maafkan saya pak, tadi terlalu buru-buru sampai tidak memarkirkan mobil pada posisinya. Saya akan segera menggesernya. Terimakasih Sudah mengingatkan." Jawab Vin.


"Mana mungkin kamu memiliki mobil mewah itu. Jangan bermimpi." Saut seseorang.


"Aku tidak meminta kalian percaya, tapi kalau kalian masih tidak yakin kalian bisa lihat apa aku bisa membawanya pergi." saut Vin, lalu menarik tangan Sifa dan membawanya meninggalkan restoran.


Vin segera membuka Pintu mobil dan mempersilahkan Sifa untuk masuk. Tanpa bicara Vin pun membawa Sifa pergi.


Semua orang kembali di buat tercengang dengan mobil mewah yang dimaksud Polisi lalulintas itu ternyata benar milik Vindra dan segera membungkam mulut mereka yang tak henti-hentinya merendahkan Vin sedari tadi.


Vin dan Sifa pun segera meninggalkan restoran tersebut dan segera pulang dengan mengendarai mobil mewah.


To be continued ☺️☺️☺️