Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 177. Penawar racun


Gadis kecil yang awalnya menunjukkan kesembuhan, tiba-tiba menyemburkan darah dari mulutnya, wajahnya menghitam disertai tubuhnya gemetar.


Setelah melihat hal tersebut, para pasien yang awalnya bersorak, mulai mundur satu persatu. Mereka takut terkontaminasi darah yang mengandung racun.


"Dokter Miranda, lihat, bagaimana ini bisa terjadi." Teriak pria itu sambil menggenggam tangan putrinya dengan cemas.


Pada saat ini beberapa wanita dan pria datang. Mereka adalah ibu dan keluarga gadis kecil itu.


Ibu itu berteriak histeris, saat melihat putrinya sekarat, begitu juga dengan kakek neneknya yang tidak kuat menahan air mata melihat kondisi cucunya.


"Dokter Miranda tolong selamatkan putriku, cepat!"


Wajah Miranda menjadi pucat, tangan kakinya gemetar, dan jantungnya berdetak kencang. Dalam hal ini, Miranda sadar jika serum yang diberikan sudah salah, dan dilihat dari kondisi pasien, bisa itu menjadi semakin kuat dan membuat gadis kecil itu dalam bahaya besar.


Sekarang dia menyesali perbuatannya sekarang. Jika dia tidak marah dengan Vindra, dan mengirim pasien kerumah sakit tepat waktu, semuanya tidak akan jadi begini.


Pada saat ini gadis kecil itu membuka mulutnya lebar dan sekali lagi menyemburkan darah. Detak jantungnya melemah, mulut kemudian berbusa.


"Dokter Miranda tolong selamatkan putriku." Desak ibu anak itu. Melihat kondisi putrinya ibu itu akhirnya lemas dan ambruk sambil terus menangis.


Wajah Miranda menjadi jelek, dia perlahan maju untuk melakukan resistansi pada jantung paru anak itu. Tapi semua itu akhirnya tidak berguna, saat melihat wajah anak itu pucat, mata tertutup, dan jantung berdetak sangat lemah.


"Tidak ada perlengkapan medis yang lengkap disini. Cepat kirim ke rumah sakit." perintah Miranda dan meminta Mateo memanggil ambulans.


"Dokter gadungan, katakan saja jika kamu tidak tahu cara mengobati pasien. Kamu hanya pura-pura menjadi dokter genius disini. Jika kamu tidak menunda ku, aku sudah pasti membawa putriku pergi ke rumah sakit sejak tadi. Jika putriku tidak selamat, aku akan membuatmu terkubur bersama putriku." Ancam pria itu yang mulai meluapkan emosinya setelah melihat putrinya semakin buruk.


Miranda berkeringat dingin, tapi dia masih berusaha tenang. "Cepat bawa dia ke rumah sakit, keselamatannya saat ini sedang dipertaruhkan."


Miranda berusaha membujuk, jika tidak anak itu tidak akan bisa bertahan sampai dirumah sakit dan dirinya akan disalahkan.


"Ini semua karena kamu, semua salahmu dan aku akan membunuhmu." Saat itu juga Pria itu menampar Miranda beberapa kali.


Mateo dan yang lainnya mencoba mendukung Miranda namun pada akhirnya malah menjadi sasaran kemarahan pria itu.


Billy dan yang lainnya tidak melerai mereka, sebab Billy tidak suka cara Miranda.


"Berhenti." Pada saat ini seseorang masuk kedalam klinik untuk melerai. Dia adalah Sifa, dia khawatir ibunya membuat masalah, namun yang dilihat saat ini ibunya sedang ditampar.


"Jangan lakukan itu! Katakan saja apa mau kalian?"


"Pergi, aku akan membunuhmu juga." Pada saat ini pria itu sudah kehilangan akal, dia mendorong Sifa dan hendak menampar wajahnya.


Tubuh Sifa bergetar, bahkan dia tidak bisa menghindar, dia hanya bisa menggertakkan ini menahan emosi. Namun suara tamparan itu tidak ada. Saat mendongak jangan pria itu sudah ditahan dan digenggam erat oleh orang lain.


Orang lain itu ternyata Vindra, Sifa tidak tahu kanapa Vindra datang dan ada didekatnya saat ini.


"Berhenti! Berhenti kalian semua."


"Dokter gadungan, sekelompok dokter ingin membunuh putriku."


"Kembalikan putriku, kembalikan putriku." Mereka semakin tak terkendali. Orang tua mana yang rela melihat anaknya mati sia-sia.


Vin memiringkan kepalanya dan memberi kode pada Black untuk mengendalikan pria itu berserta keluarganya.


'Anak itu sudah mati, apa yang bisa kamu lakukan?" Miranda bicara sambil mencengkram pipinya, "Jangan berpura-pura." Miranda tak percaya jika Vindra bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan gadis yang sudah meninggal itu.


Vindra melirik Miranda," Apa kamu percaya, kamu akan dipukuli oleh mereka sampai mati?"


Sifa buru-buru memegang ibunya agar tidak lepas kendali." Bu, berhenti bicara, biarkan Vindra."


Mateo dan yang lainnya juga memberi syarat pada Miranda untuk tidak banyak bicara lagi.


Miranda akhirnya memilih diam, namun masih tidak ada kepercayaan dimatanya.


Pria itu mulai bisa dikendalikan, dan dia pun bertanya saat melihat sesuatu yang di pegang Vindra." Apa yang akan kamu lakukan?"


Semua orang melihat dengan terkejut dengan apa yang dibawa Vindra, itu adalah ular merah yang panjangnya hampir setengah meter.


"Putrimu digigit ular merah, sudah terlambat jika melakukan detoksifikasi. Tidak ada jalan lain selain menemukan penawarnya yang ada di ular itu sendiri. Jangan khawatir, putrimu akan baik-baik saja."


Setelah menjelaskan, dengan cepat mengeluarkan gelas, lalu mengeluarkan jarum perak dan menusuk ekor ular merah itu tanpa ragu-ragu. Setelah itu darah menetes dari ekor ular itu.


" Tidak masuk akal, aku belum pernah melihatnya. Dia digigit ular dan menggunakan darah ular itu sendiri untuk mendetoksifikasi. Vindra jangan cara sensasi, kamu tidak bisa menyelamatkannya."


"Ular merah ini memiliki racun di kepalanya, tetapi ular ini juga memiliki penawarnya pada ekor. Jadi jika di gigit ular merah, maka ambil darah ekornya untuk detoksifikasi." Jelas Vindra setelah itu dia memberi gadis kecil itu darah ular.


Wajah Miranda menjadi jelek." Aku katakan anak itu masih memiliki detak jantung. Jika dia benar-benar mati setelah minum darah beracun itu, semua kesalahan ada padanya."


Mateo mendukung." Ya, jika terjadi sesuatu padanya kamu tidak bertanggung jawab. Karena aku sudah berusaha ingin membawanya ke rumah sakit."


"Brengsek, kamu tidak tahu malu. Jika bukan karena kamu mengatakan dokter ahli dan bersikeras menyatakan jika putriku di gigit bulat hijau, putriku tidak akan menjadi seperti ini."


"Sekarang saat dokter Vindra mengambil alih, kamu masih berusaha mengelak dari tanggung jawab. "Semua orang kesal dengan sikap Miranda, dan semua mata melotot padanya, jika bukan karena Vindra mencegah, mungkin Miranda akan mati di pukuli.


Miranda benar-benar ketakutan, dan dia buru-buru bersembunyi dibelakang Sifa.


Baru saja darah ular itu diminumkan, tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat, seperti ada kejutan hebat, dan gadis kecil itu kembali memuntahkan darah yang baru saja masuk.


Hal ini membuat ayah dari anak kecil itu sangat ketakutan." Dia akan mati, dia akan mati."


Setelah melihat hal ini, Miranda kembali berteriak." Sudah aku katakan itu tidak akan menyembuhkannya, tapi kalian mempercayainya."


"Ayah. "Suara itu tiba-tiba terdengar. Anak itu menangis, wajahnya yang pucat mulai teraliri darah.


"Lihatlah anak itu menangis."


"Dia sudah sadar."


"Wajahnya kembali normal."


"Luar biasa, dokter Vindra memang dokter genius."


Semua orang tidak bisa menahan diri untuk tidak bersorak, melihat keberhasilan Vindra menyelamatkan gadis kecil itu.


To be continued 👍