Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 156. Pemilik Audi


Tiffani berterimakasih pada Johan, karena dia yakin Johan banyak membantu melalui hubungan yang dia miliki.


"Terimakasih kak Johan atas bantuannya, seratus juta uang yang kamu habiskan aku akan segera mentransfer padamu besok."


"Itu hanya sedikit, tidak perlu, yang penting semuanya baik-baik saja." Johan melambaikan tangannya. " Tuan Raditya terlalu rumit, temanku butuh banyak usaha untuk menyelesaikannya. Walaupun Vindra yang melakukannya, demi Tiffani itu tidak jadi masalah. Kamu tidak perlu membayar, karena aku rasa kamu tidak akan mampu."


"Kak Johan terima kasih. Jangan khawatir, aku berhutang Budi padamu. Tapi aku akan mentransfernya padamu besok."


Tiffani memiliki uang delapan puluh juta, dan dia bisa meminta sisanya pada ibu ataupun kakaknya Sifa.


"Walaupun semua di mulai dar Arif, tapi kakak ipar ku juga terlibat. Jadi aku harus menggantinya. Kak Johan jangan menolak, nanti aku merasa tidak nyaman." Tifani memaksa karena dia tidak ingin berhutang Budi terlalu dalam pada Johan.


Vin hanya tersenyum, dia tidak menyela karena dia ingin melihat wajah Johan.


"Oke Tiffani, jika kamu memaksa,


aku akan menerima uangnya." Johan pura-pura tidak berdaya kemudian menatap Vin dan bersenandung. "Wah kamu harus bersyukur memiliki adik ipar seperti Tiffani."


Vin dengan samar berkata, "Apakah kamu ingin mengumpulkan uang Tiffani?"


"Tiffani bersikeras memberikannya kepadaku. Apa kamu tidak dengar apa yang dia katakan padaku barusan?"


"Apakah ada uang seratus juta di luar sana untuk membayar mereka? tanya Vin seraya mencibir.


"Apa maksudmu? kamu pikir aku menipu demi uang? Brengsek, jika aku tidak menemukan hubungan, mungkin kamu sudah mati di injak-injak tuan Raditya dan yang lainnya. Dan aku menghabiskan uang untuk menyelamatkan kamu, tapi kamu malah meragukan aku. Benar-benar tidak tahu berterima kasih. Jika bukan karena Tiffani, aku sudah membunuhmu sekarang."


Vin ingin membalas namun Tiffani segera menghentikannya. "Kak Vin, kak Johan benar-benar menemukan banyak hubungan untuk menyelamatkan kita. Jangan pedulikan masalah uang, aku akan menggantinya." Untuk saat ini tidak ada yang lebih berharga dari keselamatan Vindra.


Tesa memandang Vin dengan jijik." Berapa banyak uang yang dimilikinya? Berani mempertanyakan?"


"Vindra adalah kakak iparku, jika kamu memperlakukannya seperti ini, aku akan memalingkan wajahku..." Ketika Tiffani berbicara Fina dan yang lain segera menghentikan tawanya, tapi mata mereka masih dengan tatapan menghina. Mereka pun segera pergi ke parkiran dan berencana untuk pulang.


"Hai, bukankah ini mobil Audi?" mata Fina berbinar saat melihat mobil Audi terparkir dan dia pun segera mendekati untuk memastikan.


"Sial, ini memang mobil Audi, dengan harga lima belas milyar."


" lima belas milyar?"


"Apa kamu buta? tidak kah kamu bisa melihat bahwa ini adalah versi anti-peluru yang dimodifikasi. peluru tidak akan tembus."


"Apa anti peluru? milik siapa mobil ini? Hampir semua pengunjung bar sudah pergi. Apa ini milik manager bar?"


Meski Tesa dan Selena memiliki bisnis yang bagus, tapi mereka masih tidak mampu membeli mobil dengan harga milyaran. Jadi mereka mengagumi mobil tersebut.


" Tiffani aku akan mengambil mobil Mercedes Benz dan akan pergi mengantarmu. Tidak aman naik taksi di jam selarut ini."


" Ya, Tiffani kita akan pulang bersama kak Johan." saut Tesa.


"Tidak. Kamu bisa mengantar Tesa dan yang lainnya pulang, dan aku yang akan mengantar Tiffani."


" Kamu ingin mengantarkannya? Bagaimana kamu bisa mengantarkannya?"


"Aku juga punya mobil." jawab Vin.


"Maksudmu sepeda?" hina Johan.


Vin mengabaikan cibiran mereka dan segera mengambil kunci dan menekannya "Bip__."


Audi anti peluru hidup dan dua lampu depan menyala.


"Tiffani ayo pergi." Vindra menarik tangan Tiffani yang masih berdiri tercengang, dan mereka segera melesat pergi.


Johan dan yang lainnya tercengang saat mengetahui pemilik mobil Audi itu adalah Vindra.


Didalam mobil, Tiffani baru menyadari ternyata mobil yang dia tumpangi adalah mobil Audi. karena saat di bandara Tiffani sama sekali tidak memperhatikan mobil Vin dengan seksama.


"Itu tidak benar." elak Vin.


Tiffani segera menepuk jidatnya."Keluarga Gultom tidak memiliki mobil seperti ini, dan tidak mungkin mereka membelikannya untukmu. Dimana kakak mendapatkan mobil ini?"


Vin tersenyum. "Jika aku mengatakan menyewa, apa kamu akan percaya?"


"Kamu memperlakukan aku dengan bodoh kak. Bagaimana rental mobil menyewakan mobil mewah seperti ini. Kalaupun ada sewanya pasti sangat mahal." Tiffani mendengus. "Katakan padaku darimana kakak mendapatkan mobil ini? Jika kakak ipar tidak mau menjelaskan, aku akan memberitahu kak Sifa, dan hukum keluarga Gultom yang akan mengurus mu."


"Jika aku mengatakan jika mobil ini milikku, aku mendapatkannya setelah aku membantu teman dan dia memberikan mobil ini padaku, apa kamu percaya?"


"Aku percaya, kenapa aku harus tidak percaya? Hanya saja aku sedikit penasaran, bagaimana kamu membantunya?"


"Dia telah bertemu dengan roh- roh jahat, dan dia bernasib buruk. Aku membantu memecahkannya. Dia tidak berani mengendarai mobil ini lagi, jadi dia memberikannya padaku." jelas Vin.


"Kakak ipar, aku tidak melihatmu setengah tahun lebih. Apakah sekarang kamu menjadi master? itu luar biasa "


Vin terkejut dengan reaksi Tiffani." Apa kah kamu percaya dengan apa yang aku katakan? Tidakkah kamu berfikir aku bicara omong kosong?"


"Kenapa kamu bicara omong kosong? Dibandingkan menyewa mobil, meminjam mobil dari teman dan lain-lain dengan alasan membantu ini penjelasan yang lebih masuk akal. Aku juga melihat SIM, itu memang mobilmu."


Vin menghela nafas dan ingatnya kembali ke Sifa yang akan lebih percaya jika itu mobil sewaan, dan karena dia tidak akan percaya jika dirinya memiliki mobil yang mewah.


Sifa dan Tiffani Gultom memiliki jarak usia yang tidak terlalu jauh, namun pemikiran mereka sangat berbeda jauh seperti dua generasi yang berbeda.


To be continued 🙂🙂🙂


"Kak Vin, mobilmu begitu mahal."