
"Tuduhan? Kami belum bertemu mereka untuk menyelesaikan masalah, lalu tuduhan apa yang mereka adukan?" teriak Miranda.
"Kakakku menyakiti orang untuk menyelamatkan orang lain, apa itu juga kejahatan?" tanya Medina.
Mereka terus menekan Raden, agar tidak menangkap Fendi, yang bagi mereka adalah pahlawan.
"Kalian punya hak untuk pengaduan keluhan. Kasus Leo Ederson yang membius Nona Sifa adalah pelanggan dan pasti akan dihukum berat. Tetapi Leo Ederson dan Gianna ditikam sampai sembilan kali oleh Fendi dan mereka mengajukan keluhan. Kami harus menyelidiki semuanya sesuai hukum. Jadi tolong jangan halangi kami sebagai penegak hukum." Jelas Raden.
Suara Medina bergetar, "Leo Ederson mereka bertindak tidak masuk akal, apa mereka tidak malu untuk mengeluh?"
"Itu hak mereka. Jika kalian punya keluhan silahkan datang ke kantor polisi untuk mengajukan keluhan kalian."
Fendi menatap Raden dengan tajam." Apakah kamu sudah memastikan, siapa yang menikamnya?" tanya Fendi.
"Saya belum bisa memastikannya, oleh sebab itu saya membutuhkan tuan Fendi untuk bekerja sama dalam penyelidikan. Tapi dari pernyataan Nona Medina dan pengakuan Nona Anna, malam itu anda datang ke club untuk menyakiti orang dan menyelamatkan orang. Saya harap anda membantu kami untuk menyelesaikan kasus ini."
"Fendi, tenang saja kami akan bersaksi untuk mu, kamu menyakiti orang untuk menyelamatkan Sifa. Anna juga akan bersaksi saat waktunya tiba, alasan kenapa kamu menyakiti orang. Jangan khawatir, kami juga akan menyewa pengacara terbaik dan mencoba yang terbaik untuk mengeluarkan kamu dari penjara. Keluarga Gultom tidak akan membiarkan begitu saja." Ucap Miranda.
"Diam!' teriak Medina yang mulai panik.
"Pak polisi, apakah kakakku akan masuk penjara?"
"Membawa senjata, melukai orang di depan umum, dan membawa pengaruh buruk. Hukumnya setidaknya lebih dari tiga tahun." jelas Raden membuat medina tercengang, tak percaya jika kakaknya harus mendekam dipenjara selama tiga tahun.
"Ayo, bawa dia pergi." perintah Raden pada bawahannya.
Mereka pun memborgol Fendi dan segera mendorongnya keluar dari bangsal.
"Tunggu pak polisi, Ini salah paham. Bukan kakakku yang menikamnya malam itu..." Tidak tahan untuk tidak menghentikan mereka. Namun pernyataan Medina membuat Gultom terkejut.
"Bukankah Fendi yang menyelamatkan Sifa?" tanya Gultom.
"Tidak... tidak... kalian salah paham." Medina menarik tangan Raden dengan putus asa. "Bukan kakakku yang melakukannya, bukan dia, tapi Vindra yang melakukan penusukan itu. Anna... Anna... beritahu polisi kalau Vindra yang menyakiti orang, yang kemu beritahu padaku adalah kenyataan yang salah. Cepat! Kakakku tidak boleh masuk penjara." teriak Medina.
Anna menangis dan tidak mengatakan apa-apa, tiba-tiba dia menyadari sepertinya dia kehilangan sesuatu. Nilai kenaikan Vindra tidak sebanding dengan biaya tutup mulut yang diberikan Medina.
Setelah mencari akhirnya Sifa menemukan Vin dan segera menarik lengan baju Vin yang hendak masuk kedalam taksi.
"Vin tunggu, Aku tau aku semena-mena, aku dibutakan... Seharusnya aku tidak meragukanmu, tapi aku tidak menyangka kamu akan datang ke club istana kaisar untuk menyelamatkan aku."
Vin tidak menjawab apa-apa, lalu menyingkirkan tangan Sifa dari lengannya, dan memikirkan untuk segera pergi.
"Aku tau kamu tidak nyaman. Memang itu menyakitkan saat disalahkan. Tapi kamu tidak bisa menyalakan aku sepenuhnya. Saat itu aku benar-benar tidak sadar, jadi tidak tau siapa yang menyelamatkan aku dan Anna juga mengatakan kalau Fendi yang menyelamatkan aku."
Vin masih tidak menanggapi, Sifa pun sekali lagi meraih lengan Vindra. "Vin apa yang akan kamu lakukan sekarang? Aku tahu kebenarannya sekarang, dan aku tidak menyalahkan kamu lagi. Apa yang kamu inginkan sekarang?"
"Selanjutnya, saat aku mengalami kecelakaan, kamu juga ikut bertanggung jawab. Jika bukan kamu yang menambahkan seratus juta padaku, tidak mungki aku minum dengan Leo Ederson." imbuhnya.
Vin berbalik dan menatap Sifa. "Aku pikir kamu tahu yang sebenarnya, setidaknya kamu akan mengatakan aku minta maaf. Tapi seperti biasa, kamu tidak mau mengakui kesalahan, ketika kamu datang dan tutup mulut, itu hanya untuk melepas tanggung jawab. Bukannya Fendi menipumu dan Anna membohongimu, tapi kamu menyalahkan orang lain. Kamu adalah kelinci dari awal sampai akhir. Kesalahannya hanya saat kamu di bius kamu tidak bisa membedakan. Semua orang salah dan menganggap kamu satu-satunya yang benar. Bahkan kamu menyalahkan aku dah memukulku."
Sifa linglung dan tidak bisa mengatakan apa-apa. " Aku..."
"Sifa, apa kamu tau kesalahan terbesar mu?"
Sifa terhuyung dan segera meraih pergelangan tangan Vin. "Di mana?"
"Kesalahan terbesar, kamu tidak memiliki aku di hatimu, jadi kamu tidak pernah percaya padaku. Bahkan jika kamu melihat apa yang aku lakukan didepan mata kepala sendiri, secara naluriah kamu masih meragukan aku."
"Ini juga terjadi di club' istana kaisar, kamu banyak cara untuk memahami kebenaran, tapi kamu memilih mendengarkan percaya pada Fendi. Karena dihatimu hanya ada Fendi yang bisa diandalkan daripada aku. "Vin menertawakan dirinya sendiri. " Aku mengkhianati diri sendiri dengan sia-sia selama ini."
Sifa menggelengkan kepalanya berulang kali " Tidak seperti ini Vin, tidak..."
"Sifa, lebih baik cerai, biarkan aku pergi, agar kamu bisa hidup bahagia." Vin mengulurkan tangannya membelai wajah cantik Sifa." Biarkan aku menyimpan wajah cantikmu untuk yang terakhir kalinya. "Setelah itu Vin melepaskan tangannya dan segera masuk taksi dan pergi.
"Tidak...." Sifa ingin mengejarnya, namun kakinya tersandung dan tidak bisa berdiri dengan kuat, lalu ia berteriak, "Vindra apa kamu mencoba untuk menyiksaku..."
To be continued 🙂🙂🙂