Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 191


Mendengar Vindra pemilik Peach Blossom 1, senyum Arum seketika membeku. Mereka semua tidak bisa bereaksi untuk sementara waktu.


"Apa itu Peach Blossom 1 dan kenapa ada batasan? bisakah kamu menjelaskan sedikit tentang itu?" tanya Arum


Pramuniaga itu terbatuk beberapa kali, dia mencoba menekan dirinya." Tuan Vindra, tuan Vindra adalah pemilik Villa yang ini Termahal di kota SB, yang bernilai ratusan miliar. Mengikuti kebijakan baru perniagaan, tuan Vindra hanya bisa memiliki satu Villa dan tidak di izinkan untuk membeli Villa lain selama kurun waktu lima tahun ke depan. Jadi kartu bank itu tidak berguna, berapapun isinya itu tidak akan bisa digunakan untuk membeli Villa lagi selama kurun waktu yang sudah di tentukan."


"Bagaimana dia bisa memiliki Peach Blossom One?" Alisa tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Petrik menatap Vindra dengan tatapan membunuh, dia tidak bisa terima dengan berita heboh yang baru dia dengar.


Ningrum juga terkejut, tapi dia tidak berfikir buruk. Pada saat suaminya membawa Vindra pulang, Suaminya mengatakan jika cepat ataupun lambat Vindra akan menjadi orang hebat.


"Ah maaf." Vindra menepuk kepalanya. "Aku lupa kalau memiliki villa Peach Blossom One atas namaku, tapi ibuku belum pernah membeli Villa, jadi kartu identitas ibuku bisa kan?"


Vindra segera meminta Ningrum untuk memberikan kartu identitasnya.


"Gunakan kartu identitas ini dan kembali gesek kartu bank, lalu siapkan formalitasnya."


"Vin, ibu tidak perlu membeli Villa." Ningrum tidak ingin mengganggu uang Vindra dan dia juga tinggal sendiri jadi dia merasa tidak perlu membeli Villa.


"Tidak apa-apa Bu, kita beli dulu. Ibu bisa menempatinya kapan saja. Ibu tidak usah khawatir, sepuluh miliar itu tidak akan membuatku kekurangan uang."


"Aku rasa ini pasti ada kesalahan, bagaimana mungkin dia bisa menjadi pemilik Peach Blossom One?" saut Petrik yang masih saja tidak bisa terima.


"Ya, itu pasti kesalahan. Aku yakin seratus persen jika kartu bank itu tidak ada isinya. Jika benar-benar ada isinya aku akan makan tanah di depan kalian semua," ucap Alisa yang tidak mau kalah.


"Oh, tuan Vindra, maaf... kami minta maaf." ucap seorang pria dan beberapa wanita yang tiba-tiba datang dengan terburu-buru.


"Aku manager Per Garden, anak buahku telah melakukan kesalahan besar tuan, aku sebagai pimpinan benar-benar minta maaf. Heri telah melakukan kesalahan dengan tidak sengaja menambah nol pada nominal angka. Seharusnya Sepuluh miliar tapi malah terkirim seratus miliar. Aku telah menghubungi pusat dan berjanji akan mengembalikan uangnya dalam satu jam. Sekali lagi saya minta maaf atas keteledoran anak buah saya." ucap manager itu dengan berkeringat dingin.


Ucapan manager itu membuat keluarga Petrik benar-benar terkejut. Bagaimana mungkin Vindra bisa memiliki uang seratus miliar?


Vindra tersenyum dan menepuk pundak manager itu, untuk mengurangi bebannya. " Tidak masalah, jangan pecat dia."


Setengah selesai, Vindra hendak membawa ibunya pergi.


"Berhenti!"


Petrik tidak tahan lagi untuk tidak bertanya." Vindra darimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu? Apakah Aryo menjalankan usaha yang tidak kami ketahui dan kamu mengambil hasilnya? Aku tegaskan padamu, Aryo merupakan bagian dari keluarga Arafian, dan kami memiliki hak dari uang yang kamu hasilkan. Sebaiknya serahkan uang itu kepadaku, atau aku akan menuntut mu di pengadilan atas penggelapan."


"Pengadilan?! Paman, aku sudah bertemu banyak orang, tapi aku tidak pernah bertemu dengan orang yang sangat memalukan seperti paman. Paman menginginkan sebagian uang yang dihasilkan ayahku, tapi kami tidak memiliki bagian dari uang yang kalian hasilkan. Dengarkan aku paman, milikku adalah milikku dan milikmu adalah milikmu. Paman benar-benar tidak tahu malu." Vindra tanpa segan mencibir dan menekankan pada pamannya itu.


"Dengarkan aku Vindra, aku memberimu bagian atas hasil yang aku miliki, tapi kamu tidak pernah datang untuk memintanya dan kamu bisa datang mengambilnya kapan saja."


 Arum berteriak dengan berani, "Tapi kamu harus memberikan sebagian yang kamu miliki yaitu Peach Blossom One dan uang seratus miliar itu kepada kami."


"Vindra, sebagai keluarga kita harus berbagi kesulitan dan juga menikmati berkah, kamu tidak boleh egois," ucap Alisa. Dia merasa keluarga mereka lah yang lebih cocok dengan Peach Blossom One ketimbang Vindra.


Setengah bicara Vindra ingin mengajak ibunya pergi.


"Kurang ajar, dasar anak tidak tahu sopan santun. Aku akan mendisiplinkan kamu dan ibumu." Petrik sangat marah dan dia langsung menampar Vindra.


Namun dengan mudah Vindra menangkapnya dan dia pun mengetuk tangan Petrik dengan jarinya, dan saat itu juga lengan Petrik langsung lemas. "Paman kamu tidak memenuhi syarat untuk mendisiplinkan aku."


Petrik menatap lengannya yang tiba-tiba lemas dan tidak memiliki kekuatan lagi." Brengsek, apa yang kamu lakukan padaku?"


"Bukan apa-apa, aku hanya menusuk Meridian mu, jangan gunakan kekuatanmu selama lima menit, atau paman selamanya tidak akan bisa menggunakan tangan paman."


Vindra menunjuk ke pintu. " Pergi, atau aku akan menghancurkan tanganmu."


"Bajingan..."


Arum marah dan langsung datang pada Ningrum dan menamparnya." Kamu tidak layak menjadi seorang ibu. Begini kah caramu mendidik putramu?"


Ningrum mendengus dan mundur dan lima sidik jari di pipinya.


Vindra tidak bicara omong kosong, dan langsung menendang Arum hingga tersungkur.


Petrik marah, meraih bangku, dan bergegas maju ingin menghajar Vindra.


Vindra bersiap melawan, namun Ningrum segera menghalangi dan memeluk Vindra.


"Mundur... mundur... jangan pernah lukai putraku." teriak Ningrum.


"Bajingan. Kamu sudah berani melawan keluarga tertua. Kamu pasti akan mendapatkan balasan." teriak Petrik yang tidak bisa menahan amarahnya.


"Mengambil uang dari keluarga Arafian, memukul orang lain, kamu benar-benar anak tidak tahu diri." saut Arum.


"Pergi..." teriak Vindra dengan tidak sabar.


"Baik, kami akan pergi. Kamu tunggu saja, aku akan memberi tahu ini semua pada anak sulungku dan aku pastikan kamu dan ibumu akan menderita."


"Sebaiknya kamu menyerah dan berikan uang paman dengan patuh. Kakakku adalah salah satu anggota Redblack, kamu tidak bisa memprovokasi dia..."


Tanpa banyak bicara Vindra menghampiri dan lang menampar wajah Alisa. Kemudian dia membawa ibunya pergi meninggalkan keluarga yang tidak tahu malu itu.


Setengah keluar Vindra meminta Romi mengemudi dan membiarkan ibunya duduk di belakang bersama dirinya.


Mereka pun meninggalkan tempat pemasaran Pir Garden begitu saja, tidak perduli orang lain memandang mereka.


...****************...