
***BAB SEBENARNYA SUDAH DI REVISI YA. JANGAN LUPA DI BACA ULANG BIAR PAHAM ALURNYA.☺️***
"Terimakasih banyak, kamu sudah menyelamatkan aku dan juga Ambar. Kalau kamu tidak datang tepat waktu entah apa yang akan menimpa pada Ambar saat ini juga," ucap laki-laki tua yang baru datang itu.
Ambar segera mendekati Vin dan memperkenalkan pria yang baru saja berterima kasih itu.
"Vin kenalkan beliau adalah paman Hendra. Beliau merupakan Paman tertua merupakan ketua dari PM. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah datang menyelamatkan aku. Aku sudah tidak bisa membayangkan kalau sampai kamu tidak datang tepat waktu," ucap Ambar mereka terharu dengan menganggap Vin seperti dewa penolong baginya.
"Apa nyonya Ambar tau? Setelah aku mendengar kabar kalau nyonya sedang di incar, aku menjadi sangat kuatir. Oleh sebab itu aku langsung bergegas datang mencari Nyonya dan untungnya aku datang tepat waktu, jika tidak... mungkin aku akan menyalakan diriku sendiri." jelas Vin.
"Eeemmm, aku sangat terharu sekali, bahkan tuan rela tertembus peluru yang untuk melindungi ku. Sepertinya aku perlu menikah dengan tuan Vin, agar tuan bisa selalu melindungi ku dan aku bisa membalas budi semua kebaikan tuan padaku dan putrimu," ucap Ambar.
Kata-kata Ambar membuat wajah Vin langsung memerah dan segera saja ingin mengalihkan topik pembicaraan.
" Nyonya aku hanya tidak ingin-"
"Jangan panggil aku nyonya, panggil aja namaku, itu akan membuat kita lebih akrab. Duduklah aku akan memanggilkan tim medis untuk mengobati lukamu." Sela Ambar yang bersikap genit, untuk mencari perhatian Vin.
Diam-diam Vin memperhatikan semua pembunuh yang sudah dirinya habisi. Mereka semua memakai sebuah tanda pita hitam. Itu artinya Mereka berada dibawah pimpinan suatu organisasi.
Saat sedang menunggu tim medis. Tiba-tiba bibi sepupu bersama para bodyguard nya yang diharapkan melindungi Ambar , malah datang terlambat.
"Darimana saja kamu? bagaimana bisa kamu datang terlambat seperti ini. Kalau sampai Ambar kenapa-kenapa akan aku penggal kepala mu." tanya Hendra dengan murka.
" Maafkan aku pak Hendra dan juga Nona Ambar. Aku sudah berusaha secepatnya kemari namun tiba-tiba di tengah jalan ada yang menghalangi kami dan sepertinya mereka berusaha mengulur waktu agar kami tidak bisa datang saat kalian membutuhkan bantuan."Jelas Viktoria yang merupakan bibi sepupu Ambar sekaligus ketua keamanan yang memiliki tugas untuk melindungi seluruh anggota keluarga Ambar.
"Tidak papa Bi, Pangeran kuda putih sudah menyelamatkan aku tepat waktu, dan aku sangat berterimakasih banyak, karena dia rela terluka demi menyelamatkan aku. Inilah pangeran ku, yaitu Vindra yang sudah berhasil membunuh mereka semuanya." Jelas Ambar dengan raut wajah bahagia.
Namun siapa sangka dengan memperkenalkan Vin pada bibinya, malah Viktoria memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Vin.
"Kalian cepat tangkap dia dan jangan biarkan dia lolos!" Perintah Victoria, membuat Ambar dan Hendra tercengang.
" Apa yang kamu lakukan bi? kenapa kamu ingin menangkapnya?" tanya Ambar dan berusaha melindungi Vin namun sayangnya gagal. Beberapa orang berbadan kekar menarik Vin dari tangan Ambar.
" Jangan mudah percaya padanya Nona. Siapa tau pria ini sudah bersekongkol untuk menjebak Nona." Jelas Viktoria namun Ambar tidak terima Vin dituduhnya.
"Jangan bicara omong kosong bi dan memfitnah orang yang sudah berulangkali menyelamatkan aku. Kalau sampai bibi melukainya tak akan aku biarkan bibi lolos begitu saja " Ancam Amar dengan kesal.
Viktoria tidak menghiraukan dan tetap meminta bawahnya menangkap Vindra. Salah satu dari beberapa pria yang bertubuh kekar yang ingin menangkap vin, berbicara untuk menyindir Vin.
"Trik murahan apa yang sedang kamu jalankan untuk menipu Nyonya Ambar? Kamu pikir kami tak tau kalau kamu sudah bersekongkol dengan mereka." ucapnya. Vin yang tidak terimakasih segera menarik pedagang pedangnya dan langsung berbalik menyodorkan pedangnya di leher pria botak yang sudah menuduhnya. Pria botak itu ketakutan namun masih saya berusaha menyindir membuat Vin geram dan langsung menendangnya hingga terpental.
Semuanya kaget dengan apa yang dilakukan Vin. Aura membunuh menyelimuti tubuh Vin dalam sekejap, setiap Vin mengunakan pedang legendaris itu, roh dalam pedang tersebut seakan menyatu dalam tubuh Vin dan pedang tersebut seakan haus darah.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Viktoria, namun Vindra tidak menggubrisnya.
Viktoria pun segera memerintahkan bawahannya untuk membunuh Vin. Mereka semua pun menyerang Vin dari segala arah. Namun Vin dengan mudah mengatasi mereka semuanya. Satu persatu mereka tergeletak tanpa nyawa akibat sabetan pedang yang bertubi-tubi dan tanpa ampun.
"Cepat pergi dari sini atau aku juga akan melenyapkan kamu!" perintah Vindra.
Viktoria malah mencibir dan menantang Vindra,
"Kau ingin aku mengalah dengan bajingan seperti kamu. Jangan harap. Lebih baik aku mati dari pada mengalah denganmu." Viktoria pun dengan cepat mengeluarkan pedangnya dan menepis pedang Vin terpental.
Sama-sama menggunakan pedang, keduanya pun beradu kekuatan untuk menentukan siapa pemenangnya.
Disisi lain, Ambar nampak pucat melihat di depan matanya, Ruangan yang awalnya bersih kini menjadi sungai darah dan belasan pria mati sia-sia di tangan Vin. Sedangkan Hendra hanya melihat perkelahian tersebut tanpa ada keinginan untuk melerainya.
"Paman, kenapa paman tidak menghentikan mereka, ini bisa membunuh salah satu atau keduanya paman," ucap Ambar.
"Biarkan mereka menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai. Jika aku melerainya, malah akan ada dendam di antara keduanya dan itu tidak baik. Nantinya akan ada nyawa-nyawa yang akan di incar termasuk kamu dan paman tidak mau itu. Dan sepertinya Vin sedang diselimuti aura lain dalam tubuhnya." jelas Hendra memberikan alasan kepada Ambar kenapa ia memilih diam. Ambar pun akhirnya paham maksud dari pamannya itu dan berharap Vin tidak kenapa-kenapa.
Perkelahian sengit itupun menguras tenaga hingga di saat Viktoria lengah, Vin mengambil kesempatan dan langsung menendang telak Viktoria hingga terpental Kedinding. Viktoria pun tersungkur dan langsung memuntahkan gumpalan darah. Sedangkan Pedangnya terpental tak tentu arah.
Vin menyeret pedangnya mendekati Viktoria dan segera mengarahkan pedangnya tersebut ke leher Viktoria.
"Cepat bunuh aku sekarang juga, atau aku yang akan berbalik membunuh mu!" ucap Viktoria di tengah keputusasaan nya karena sudah tersudut
Tak ada sepatah kata yang keluar dari Vin yang ada Vin bersiap untuk mengayunkan pedangnya untuk mengakhiri nyawa Viktoria.
"Hentikan!" tahan Hendra. "Sudah cukup kamu membunuh mereka semuanya. Jangan ada lagi nyawa yang kamu lenyapkan."
Namun telinga Vindra sudah tertutup di tambah Viktoria yang masih sempat-sempatnya terus-menerus mencibir dan Menghina Vindra di tengah dirinya yang sudah terpojok. Tak mendengarkan teguran Hendra, Vin pun langsung mengangkat pedang miliknya dan langsung membuat goresan di leher Viktoria dan saat itu juga Viktoria mati di tempat.
Ambar hanya bisa memalingkan wajahnya, tak berani melihat kekejaman yang di lakukan Vin.
Vin pun terduduk dengan badan lemas. Pedang panjang itu pun kembali ke bentuk semula hanya hanya lima inchi dan menggantung di gelang milik Vin.
Berangsur Vin sadar dan mendapati Bibi sepupu Ambar mati di tangannya. Vin langsung menghampiri Ambar untuk menjelaskannya.
"A-aku sudah membunuh bibi sepupu mu. Aku siap jika kamu menyalahkan aku atas kejadian ini aku akan menerima konsekuensinya," ucap Vindra namun Ambar malah memeluknya.
"Aku tidak perduli, bahkan sekalipun sepuluh bibi sepupu mati di tanganmu itu tak akan menyelamatkan kamu. Bagiku nyawamu dan keselamatan mu jauh paling penting bagiku." bisik Ambar membuat hati Vin menjadi tak karuan.
Vin segera melepaskan pelukan Ambar dan menghampiri Hendra yang tanpa ekspresi.
"Maafkan aku. Aku tidak mampu mengendalikannya. Tapi aku hanya memberitahumu saja kalau mereka semua yang aku bunuh semuanya mempunyai tanda pita hitam termasuk dia."" Jelas Vin.
"Apa kamu bilang?" Hendra segera memastikan apa yang dikatakan Vin dan melihat secara langsung pita hitam di tubuh Viktoria.
"Ternyata dia seorang penghianat. Dia pantas mati dah tubuhnya hanya akan menjadi santapan binatang liar." Hendra Segera menghubungi bawahannya dan meminta untuk membuang tubuh mereka ke hutan.
To be continued ☺️☺️☺️☺️