
Ketika Ivana sudah stabil, Vin berencana untuk pulang. Sebagai ucapan terima kasih, Piter Santoso dan Ronald ingin mengadakan jamuan dan memaksa Vindra untuk menyetujuinya. Vin pun mengangguk dan berpamitan untuk berganti pakaian. Dan dia juga ingin Dominic yang menjemput dirinya nanti. Kemudian dia memanggil taksi untuk mengantarkannya kembali kerumah keluarga Gultom.
***
Vindra berjalan masuk ke dalam rumah Gultom dan dia melihat seluruh keluarga berkumpul, tidak hanya itu saja, bahkan Fendi pun ada. Namun Vin terkejut belum melihat Ibu mertuanya kembali.
Pada saat ini Gultom melihat Vindra dan menatapnya penuh emosi." Ada masalah besar dirumah, tidak hanya tidak membantu, tapi malah berkeliaran sepanjang hari.
"Aku tidak tahu kejahatan apa yang sudah di lakukan keluarga Gultom di kehidupan sebelumnya, hingga menjadikan kamu menantu di keluarganya, Fendi yang tidak ada hubungan keluarga, berfikir keras, tapi kamu malah santai," ucap Mateo.
Sifa tidak mengatakan apa-apa, tapi dia juga dalam suasana hati yang tidak baik, dia jelas berfikir Vindra keluar untuk bermain-main seharian.
Vindra hanya menyernyitkan keningnya, tanpa bicara. Lalu sebuah klakson terdengar.
Mereka melihat mobil polisi mendekat, pintu terbuka, dan Miranda keluar. Dia berjalan ke teras sambil tersenyum.
"Oh, Semua orang ada disini," ucap Miranda.
"Ibu, kamu kembali?" Sifa langsung menghampiri dan memeluknya, dan yang lain pun melakukan hal yang sama.
Fendi tercengang oleh adegan ini, dia meminta bantuan orang tuanya tadi malam, tapi dimarahi dan memintanya untuk menghindari berurusan dengan Piter Santoso. Namun dia berfikir kembali, mungkin orang tuanya berubah pikiran dan diam-diam membantu.
"Selamat bibi karena sudah kembali, aku pikir bibi akan kembali besok pagi."
"Itu artinya Fendi dan keluarganya telah menyelamatkan ibu?" Tebak Mateo.
"Ibu, apakah kamu di siksa di sana?" tanya Sifa.
"Ibu, apakah ibu menderita di sana?" lanjut Tania.
Miranda tersenyum cerah. Meskipun wajahnya pucat, tapi di sembunyikan oleh kegembiraan, dia melambaikan tangannya. " Ketika aku di tangkap aku sangat takut, mereka terlalu galak. Tapi akhirnya masalah itu di ketahui, dan semua itu tidak ada hubungannya denganku. Polisi tidak hanya membebaskan aku, tapi juga memberikan senyuman satu persatu. Akhirnya wakil biro datang untuk minta maaf kepadaku, dan mengatakan tuan Santoso telah Salah paham. Mereka memberiku kompetensi untuk menebus kerugian farmasiku. Aku ingin menelepon kalian, tetapi ponselku kehabisan daya. Jadi aku kembali untuk mengejutkan kalian semua." Jelas Miranda sambil tersenyum.
"Baru kembali, tapi kamu harus berterimakasih pada Fendi. Berkat bantuan dia, kamu bisa keluar dengan lancar, jika bukan karena dia, belum tentu kamu bisa keluar," ucap Gultom.
"Iya Bu, Fendi telah melakukan yang terbaik, dan bahkan orang tuanya membantu. Fendi menghabiskan banyak uang dan hubungan." Jelas Mateo.
Miranda segera bereaksi." Fendi, terimakasih, keluarga Gultom berutang budi padamu. Aku tahu bahwa jika sesuatu terjadi pada keluarga Gultom, kamu pasti akan membantu. Aku tidak akan banyak bicara. Mulai sekarang, kamu menjadi bagian dalam keluarga kami. Jika kamu memiliki sesuatu untuk dilakukan, tolong biarkan bibi membantu."
Vindra hanya mencibir, dan wajah Fendi sangat tebal/ tidak tahu malu, sepertinya kejadian di club' itu Belem memberinya pelajaran. Vin tidak mau menjelaskan, karena semuanya akan sia-sia, biarkan mereka tahu dengan sendirinya, baru penyesalan akan datang.
"Lihatlah, Fendi sangat rendah hati, berjasa dan tidak serakah. Akan lebih baik jika saudara iparku adalah kamu," ucap Tania dengan antusiasme.
Ekspresi Sifa sangat rumit." Kak, berhati-hatilah saat bicara, aku sudah menikah."
"Menikah? Apakah kamu menikah dengan seorang pria? Orang yang tidak bisa membantu sama sekali, untuk apa tinggal? Tentu saja untuk membersihkan toilet." Sindir Tania.
"Hmph, keluarga Gultom kami tidak tahu kejahatan apa yang telah kami lakukan, hingga membuat kami menemukan menantu yang tidak berguna " Semakin Miranda memandang Vindra semakin dia membencinya.
" Bu, berhenti bicara."
Meskipun Sifa tidak tahu mengapa Vindra menghilang hari ini pada saat yang kritis, Sifa sudah memutuskan untuk memulai dari awal lagi. Jadi dia menggertakkan gigi untuk menggangu ibunya, dan tidak membiarkan Vin terus di permalukan.
"Fendi, terimakasih banyak kali ini." Sifa pun harus berterimakasih pada Fendi atas apa yang sudah dia lakukan.
Fendi berdehem dan berkata." Ini masalah sepele. Ayahku memiliki koneksi, dan ibuku pemimpin lama. Piter Santoso masih ingin menyelamatkan muka. Meskipun aku kehilangan akal untuk cinta terakhir kali di club. Aku akui aku salah jadi aku harus menebusnya kali ini."
"Oke, jangan banyak bicara lagi. Mateo, segera atur ruang VIP Sunwai, untuk makan malam dan menyambut kedatangan ibu kalian." perintah Gultom dan Mateo langsung menelpon.
"Vindra kamu jangan ikut. Kamu akan malu jika kamu ikut. Aku telah di kurung selama beberapa hari, tidak ada yang membersihkan rumah. Kami akan membawakan untuk mu," ucap Miranda.
"Ibu, jika Vindra tidak ikut, aku juga tidak akan pergi..."
"Apa yang kamu katakan?" Miranda langsung menyeret Sifa keluar, tanpa memberinya kesempatan menolak. "Aku masih punya banyak hal untuk diberitahukan padamu."
"Vindra hanya bermain-main beberapa hari ini, dia tidak membantu. Jadi biarkan dia di rumah untuk bekerja dan merenung." Saut Tania.
Semua keluarga pun pergi dan membawa Fendi.
Saat Vin ditinggalkan di rumah sendirian, ponselnya berdering dan dia pun langsung mengangkatnya.
"Tuan Vin, ini aku Paman Dominic, tuan Santoso sudah memesan seluruh Sunwai, dan dengan hormat mengundang tuan." ucap Dominic
To be continued 🙂🙂🙂