Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 118. Menemukan Ayah


Beberapa hari kemudian, klinik CRISHAN masih ramai di kunjungi pasien. Vin, Billy dan beberapa tenaga lainnya berusaha membantu, namun masih tetap saja kewalahan.


Karena hal tersebut, membuat Vin kelelahan bahkan meresahkan sakit punggung. Di sisi lain, Vin berhasil mengumpulkan kembali tujuh cahaya putih, setelah mengobati para pasien.


Disela kesibukannya, Vin juga berusaha melupakan semua masalah yang ditimbulkan keluarga Gultom. Tapi dia selalu tidak nyaman jika memikirkan tentang Sifa. Pernikahan yang hancur, tapi tidak ada perceraian, seperti ada sebuah benang yang mengikat, hampir tak terlihat tapi itu menyakitkan.


Ding...


Sebuah panggilan masuk. Vin melihatnya dan terlihat jika itu panggilan dari Sifa. Secara naluriah Vin sangat terkejut, namun segera dia abaikan dan segera mengangkat panggilan itu.


"Hallo... Ada apa?" tanya Vin.


"Vin..., Vindra.., cepat datang ke rumah sakit Kusuma, Aku menemukan ayahmu." Teriak Sifa.


Mendengar hal itu, Vin bergegas pergi ke rumah sakit Kusuma untuk melihat kondisi ayahnya.


Namun saat sampai di rumah sakit Vin dihadang oleh dokter, dan tidak mengusik Vin untuk melihat ayahnya.


Sikap dokter Rian, membuat Vindra murka dan dia pun langsung menghajar dokter tersebut, hingga membuat wajahnya lebam.


Tak perduli siapapun orangnya, yang menghalangi dirinya untuk bertemu ayahnya, akan mendapatkan hiasan di pipi mereka.


Vin segera menendang pintu gawat darurat dan menemukan sosok pria yang terbaring koma, dan di sampingnya ada Sifa yang menjaganya.


Perlahan Vin mendekati sosok pria yang tengah tak berdaya, Vin tak kuasa menahan air matanya. Ayah angkatnya yang hampir dua tahun menghilang kini kembali.


Aryo Arfian terluka, dan dalam kondisi koma. Namun Vin bisa merasakan ayahnya tidak baik-baik saja, dan merasakan jika ayahnya menahan banyak rasa sakit. Vin merasa dokter Rian tidak merawatnya dengan baik.


Vin membalikkan telapak tangan ayahnya untuk memeriksa dan akan menggunakan tujuh cahaya putih yang sudah dia kumpulkan untuk menyelamatkan ayahnya.


" Patah tulang rusuk, pendarahan subarachnoid, syok, edema serebral difus" ucap Vin dengan serius saat memeriksa kondisi ayahnya.


" Vin jangan impulsif," teriak Sifa.


Vin tak menggubris ataupun menoleh Sifa, "Ambilkan aku kursi roda." perintah Vin.


Setelah itu, Vin menenggelamkan tujuh cahaya putih itu ke dalam tubuh ayahnya. Perlahan kulit ayahnya kembali lebih segar, edema perlahan menghilang, luka dan tulang rusuknya mulai sembuh dan dalam sekejap mata peredaran darah kembali normal, hingga membuat ayahnya terlihat lebih segar. Hanya saja masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk perbaikkan sampai ayahnya bisa sadar kembali.


Sifa yang kembali dengan kursi roda, terkejut melihat perubahan yang ada pada ayah mertuanya itu. Namun Sifa sedikit khawatir jika Vin melakukan tindakan sendiri untuk mengobati ayahnya. Namun saat di perhatikan Vin tidak mengeluarkan jarum perak, Sifa sedikit lebih lega.


Vin segera mengangkat tubuh ayahnya dan meletakkannya di kursi roda, lalu mengambil sebotol anti- inflamasi dan di gantungkan pada ayahnya. Lalu segera mendorongnya perlahan menuju pintu.


Sedangkan di luar dokter Rian tergesa-gesa untuk menemukan Vindra.


" Vindra apa yang kamu lakukan? Akan sangat bahaya memindahkan ayah seperti ini." tanya Sifa dengan cemas.


" Tidak papa, aku mengendalikan kondisinya. Aku tidak akan membiarkan ayah di rawat di rumah sakit ini." jawab Vin. Jika dia tidak datang tepat waktu, Kondisi terburuk ayahnya bisa saja terjadi, akibat sikap para dokter yang tidak merawat pasien tanpa uang dengan baik. Karena mereka lebih mengutamakan para pasien yang memiliki banyak uang. karena sikap mereka membuat Vin marah dan ingin membawa ayahnya pergi.


" Kapan kamu mengendalikan kondisinya?" tanya Sifa dengan bingung. Namun Vin tidak menjawab dan mendorong ayahnya kembali menuju keluar pintu.


"Jangan halangi aku untuk membawa ayahku pergi, atau kalian semua akan merasakan akibatnya," ucap Vin dengan dingin.


"Kamu tidak bisa membawa ayahmu pergi dengan paksa, kamu menyalahi aturan." saut Dokter Rian.


"Aturan?! Aturan apa yang kamu maksud? Membiarkan pasien hampir meregang nyawa hanya karena dia miskin? Rumah sakit seperti ini tidak bisa dibiarkan aku bisa menuntut kalian semua." teriak Vin. Namun sayangnya dokter Rian masih terus menghalangi Vin membawa ayahnya, hingga tidak ada pilihan lain selain memberi mereka pelajaran sekali lagi.


Vin menghajar satu persatu mereka yang mencoba menghalangi termasuk dokter Rian yang sebelumnya sudah babak belur dan kali ini Vin memberi bonus tinjuan yang membuatnya kembali tersungkur.


Pada saat bersamaan, beberapa orang muncul di ujung koridor dan yang berada di posisi depan adalah seorang wanita paruh baya yang diikuti beberapa pria dan wanita di belakangnya.


Dia adalah Keisa, direktur rumah sakit Kusuma.


"Siapa yang membuat masalah di rumah sakit ku?" tanya Keisa dengan dingin.


"Direktur Keisa, mereka mengatakan kami tidak punya etika medis, memukuli orang, merusak fasilitas gawat darurat, dan lebih parahnya mereka berusaha mengeluarkan pasien dari ruang gawat darurat dengan paksa," ucap Dokter Rian sambil berusaha bangkit dan mengatakan keluhan.


"Panggil petugas keamanan, dan katakan ada masalah disini." perintah Keisa lalu ia berjalan mendekati Vindra dan Sifa.


"Jika kamu mengatakan teknologi kamu kurang baik, efisensi kami tidak baik, dan peralatan kami tidak biak, aku tidak akan mengatakan apa-apa hanya akan mengirim mu ke RSUD."


"Tapi kalian mengatakan kami tidak memiliki etika medis!? Apa kamu tahu? kami lulusan dari universitas kedokteran, dan kami mengambil sumpah Hipokretes, dan kami menggunakan Nightingale sebagai model. Apakah kamu melihat nama kami di rumah sakit Kusuma ini? Kami adalah malaikat putih yang terbaik tahun ini. Apakah kamu tidak melihat kami merawat pasien dengan sepenuh hati? Kenapa kamu memfitnah kami dengan santainya? siapa yang memberimu keberanian?" tanya Keisa dengan agresif.


"Apa? fitnah?! Itu kebenaran." Saut Sifa.


"Ketika kalian menerima pasien, kalian tidak menyelamatkannya lebih dulu, Aku meminta tolong dan memanggil lima kali tapi tidak ada yang membantu, setelah itu kalian membiarkan pasien di ruang gawat darurat tanpa tindakan apapun, apa etika medisnya? Aku sudah merekam semuanya dan aku akan melaporkan kejadian ini pada biro medis." Lawan Sifa.


Vin tak begitu menghiraukan, dia memperhatikan sekeliling dan berfikir melindungi ayahnya dari kekacauan.


Karena ketajaman ucapan Sifa, Keisa menatap tajam Sifa dan melambaikan tangan kirinya memerintahkan para petugas keamanan mengepung mereka.


Keisa memandang Vin dengan jijik lalu meludah ke lantai." Aku kesalahan mu, dan berdiri tegak saat kamu di pukuli. Kamu sudah memfitnah rumah sakit Kusuma, jika kamu berlutut, meminta maaf, menjilat ludah, dan memberikan kompensasi pada dokter Rian, Aku tidak akan mempermalukan kalian. Jika kalian tidak melakukannya, kalian tidak perlu pulang, karena aku akan membuat kalian menjadi pasien di rumah sakit ini." ancam Keisa dengan tegas.


Dokter Rian dan yang lain memiringkan mulutnya, sombong, seperti mengejek Vindra.


" Kamu benar-benar melanggar hukum, aku akan memanggil polisi" Teriak Sifa


Plakkk...


Keisa menampar Sifa cukup keras, membuatnya terhuyung dan hampir jatuh.


" Sudah aku katakan, bahkan dewa pun tidak bisa menahan ku."


Tanpa banyak bicara, Vin langsung menendang perut hingga membuatnya terjatuh.


To be continued 🙂🙂🙂