
Setelah kembali dari rumah sakit, Vin mengirim pesan teks ke Marcel dan kemudian pulang untuk mengunjungi ayahnya di paviliun belakang klinik.
Vin menemukan bahwa ibunya merawat sang ayah dengan baik. Ningrum memberi obat dari waktu ke waktu, menyeka keringatnya sepanjang waktu, dan selalu berada didekatnya.
Kasih sayang yang luar biasa ditujukan Ningrum pada suaminya, tak perduli seberapa lama Aryo Arafian menghilang dan kembali dengan keadaan koma, tidak akan mengurangi cintanya pada sang suami.
Melihat semuanya, hati Vindra kembali hangat, dia hampir menghancurkan keluarganya di masa lalu, tapi sekarang di tidak akan membiarkan itu terjadi.
Vin membuatkan beberapa ramuan untuk ayahnya, setelah selesai dia meletakannya di atas meja kecil sebelum dia kembali ke kamar untuk mandi dan tidur.
Namun tidur Vin tidak nyenyak seperti biasanya, mendekati pertengahan malam telinganya bergerak dan mendengar suara sepeda motor datang dari kejauhan.
Vin segera melompat dari tempat tidur dan segera bergegas ke pintu untuk memeriksa.
Pada saat yang hampir bersamaan, tiga sepeda motor bergegas di depan klinik, masing-masing dengan dua pria bertopeng, satu yang mengendarai dan satu memegang bom molotov.
Mereka tidak berhenti, mereka hanya melempar bom itu ke gerbang klinik dan saat itu juga enam bom molotov jatuh dan membentur tanah, seketika gerbang dan halaman menjadi lautan api.
Vin tidak mengatakan apa-apa, segera mengambil batu bata dan melemparkannya ke pengendara dengan keras.
Helm retak, dan langung membuatnya oleng dan tersungkur ke tanah dan pingsan, sedangkan rekannya yang dibelakang juga ikut terjatuh.
Sebelum dia bisa bangun, Vin sudah lebih dulu menendang punggungnya.
Empat pelaku yang lain terkejut dan tanpa sadar berbalik untuk menabrak Vin.
Vindra tidak takut, dia mengambil batu bata dan mematahkannya menjadi dua dan melemparkannya langsung dan mengenai kedua pengendara motor itu sekaligus.
Keduanya menjerit kesakitan dan jatuh ke tanah, dan sepeda motornya hilang kendali dan menabrak dinding.
“Bajingan kalian semua, berani membakar klinik sama saja kalian menari kematian.”
Pada saat ini, Black, Romi, Dara, dan yang lainnya bergegas keluar untuk memadamkan api. Setelah itu mereka mengepung ke enam pelaku dan menghajarnya habis-habisan. Keenam pelaku itu berulang kali memohon belas kasihan.
“Jangan pukul mereka sampai mati, Introgasi mereka kenapa ingin membakar klinik?” teriak Vin pada Black, setelah itu dia kembali untuk melanjutkan tidurnya.
Keesokan paginya, klinik membuka pintu seperti biasanya. Sebelumnya semua barang yang terbakar dan noda darah di tanah juga sudah dibersihkan, hingga pasien yang datang tidak melihat sesuatu.
Vin memeriksa lebih dari tiga puluh pasien. Pada pukul sebelas, Black datang, segera saja Vin meminta Billy melanjutkannya dan dia akan istirahat.
“Tuan Vindra, periksa ini. Enam bajingan itu merupakan orang-orang suruhan Ben dan Steven. Aku memeriksa kesaksian mereka dengan hati-hati, dan aku memeriksa kartu identitas mereka semua.” Jelas black.
“Aku sudah menduga itu perintah mereka.”
Vindra berkata dengan ringan, “Kirim salinan video pengakuan kepada Jhonatan dan untuk sementara jaga mereka. Jika masalah ini tidak segera di selesaikan, semuanya tidak akan berakhir dengan baik.”
“Jelas.” Black menganguk.
“Bagaimana dengan steven? Apa tuan akan menyelesaikannya juga?”
“Tidak perlu.” Vin menggelengkan kepalanya. “Mungkin dia tidak tahu Ben sedang berurusan denganku, jika tahu dia tidak akan berani memprovokasi ku saat ini. Aku akan mencari kesempatan lain untuk menyelesaikan masalah dengannya. Untuk saat ini biarkan paman Dominic mengirim tenaga padaku untuk mengawasi keluarga Gultom dan klinik medis agar tidak ada sesuatu yang terjadi lagi.”
Black menjawab dengan hormat. “Dimengerti, aku akan menghubungi tuan Dom nanti.”
****
Sesampainya di salah satu ruangan Marcel melihat beberapa pria dan wanita duduk dibeberapa meja bundar dan di situ juga terdapat Glenn yang duduk dengan kaki naik di atas meja dan cerutu menggantung. Sedangkan lusinan pengawal berdiri di belakang.
Sedangkan Ben dengan setelan putih sedang memegang mikrofon dan bernyanyi.
Marcel segera membawa seseorang dan maju kedepan lalu melempar kruk ( tongkat ketiak) ke layar lebar dan layar lcd itu pecah dengan keras.
Kebisingan berhenti seketika.
Ben mencibir ketika melihatnya, “ layarnya empat puluh dua, ingat untuk mengganti rugi.” Saat kata-kata itu jatuh, pengawal Ben siaga, mereka menatap Marcel dengan tatapan membunuh.
Marcel mengabaikan mereka dan mendorong beberapa orang dan menghampiri Glenn.
“Glenn. Kamu berhutang pengakuan padaku.” Teriak Marcel.
Glenn pura-pura terkejut dan mengangkat kepalanya. “Oh ternyata tuan muda Marcel, aku kira orang gila. Aku sudah lama tidak melihatmu, bagaimana kamu bisa terlihat seperti mumi? Bukankah kamu mengatakan bahwa kamu setenar Raditya Santoso, kenapa kamu di ganggu orang seperti ini?” Glenn bicara penuh dengan cibiran dan beberapa wanita terkekeh.
“Jangan bicara omong kosong.” Marcel langsung menuju topik, “Aku bertanya kepadamu, apakah kamu menyuruh orang-orang untuk menggangu Sifa dan membakar klinik?”
“ YA.”
Glenn menjawab dengan singkat, kemudian balik bertanya. “Lalu omong kosong mu?”
“Vindra adalah saudara laki-laki ku, dan Sifa wanita saudara laki-lakiku. Aku berkata bahwa masalah ini akan aku selesaikan, dan kamu berjanji jika berurusan denganku kamu akan menghentikannya. Kamu tahu konsekuensinya jika kamu mempermainkan aku?”
“Kita lihat saja hasilnya nanti.” Glenn tertawa terbahak-bahak, ketika dia mendengar kata-kata Marcel, dan sentuhan penghinaan muncul dimatanya. “Marcel, siapa kamu?”
“Jangan mengira aku berteman dengan Reni dan memanggilmu tuan muda Marcel, kamu berpikir kamu bisa duduk sejajar denganku. Ya, ayahmu adalah Tiger wang dan kamu memiliki Redblack di belakangmu, tetapi apakah kamu pikir kamu memiliki bobot pada Redblack ayahmu?” Glenn mengeluarkan asap dan mencemooh, “kamu hanyalah sampah yang menunggu untuk mati.”
Marcel sangat marah, “apa yang kamu katakan?”
“Aku akui, tidak peduli seberapa sampah kamu, aku tidak akan berani membunuhmu. Tapi kamu juga tidak bisa menyentuhku. Ayahku adalah orang kaya di kota K dan kakekku adalah ketua Redblack di kota M yaitu kakek Morgan. Bagaimana caramu bisa membunuhku? Jadi tidak perlu mengatakan apa-apa tentang menantangku dan kamu tidak perlu mengancam ku. Aku janji untuk puas dengan apa yang aku lakukan tadi malam, tapi hanya untuk bermain denganmu, aku tidak berharap kamu benar-benar mempercayainya.” Glenn tidak tertawa dan dia tidak peduli dengan ekspresi Marcel yang muram.
Glenn pura-pura tersenyum, “ Yah, Vindra, aku bisa melihat wajahnya, dan satu kaki lagi akan patah sehingga dia bisa memohon dimasa depan. Tapi bagaimana dengan Tiffani, aku sangat menyukainya. Mengapa tuan muda Marcel tidak menjadi orang baik dan membantuku mengirim Tiffani ke tempat tidurku?” Glenn mengulurkan tangannya dan menepuk wajah Marcel, “Jangan khawatir, aku akan berterimakasih banyak setelah selesai.”
Ben dan yang lainnya tertawa dan memastikan bahwa Marcel tidak akan berani melakukannya.
“Sebentar lagi Naga yang kuat akan menghancurkan ular.” Ucap marcel dengan dingin.
“Ya, naga ku yang akan menekan ular mu.”
“Aku akan membunuhmu hari ini.” Teriak marcel dengan penuh amarah.
Glenn mengangkat bahu dengan acuh tak acuh dan tersenyum pada Marcel. “Ngomong-ngomong, aku lupa memberitahumu bahwa kakekku datang ke kota SB untuk urusan bisnis. Dalam setengah jam, dia akan muncul di bandara. Kamu ingin membunuhku, lihat apakah ayahmu bisa menjagamu?”
Bang....
Pada saat ini pintu di tendang dan terbuka.
“Aku yang akan membunuhmu.”
Seseorang berbicara dengan dingin datang dari luar.
...****************...