
Vin memutuskan untuk pergi ke rumah sakit saat mengetahui Sifa belum keluar. Walau bagaimanapun Sifa masih istrinya, jadi dia tidak bisa mengabaikannya.
Sesampainya di bangsal No. 8, Vin mendapati pintu sedikit terbuka dan melihat seseorang yang memakai kemeja duduk di samping Sifa. Tak perlu melihat wajahnya, Vin sudah bisa mengetahui kalau itu adalah Fendi.
Vin sangat muak melihatnya terus mendekati Sifa, saat ingin mengetuk pintu, Vin melihat Fendi menjatuhkan diri dan berlutut. " Sifa, aku benar-benar tidak bisa menahannya untuk tidak mengatakan ini padamu. Aku sangat menyukaimu. Aku tau kamu tidak bisa menikah denganku saat ini. Tapi maukah kamu menjadi pacarku dulu. Aku berjanji akan memberikan semua yang kamu mau. Aku juga berjanji akan menjagamu dengan baik dan memberikan kebahagiaan yang besar."
"Fendi maaf, aku tidak bisa. Saat ini aku masih Isti Vindra. Aku tidak punya perasaan padamu. Terimakasih untuk semua bantuanmu dan sudah menyelamatkan aku dari Leo Ederson, tapi untuk yang ini aku tidak bisa, maaf..." Jawab Sifa.
"Sifa..." Fendi tidak berharap bicara sejauh ini. Tapi dia tidak bisa mengendalikan diri, lalu dia mengangkat kepalanya dan mencium bibir Sifa.
Sifa segera mendorongnya hingga Fendi terjatuh. "Fendi kamu jangan begitu." Sifa langsung menampar Fendi dua kali, sebelum dia menyadari kalau Fendi lah orang yang menyelamatkan dirinya. Jadi dia hanya melampiaskan kemarahannya.
Fendi mengepakkan tinjunya, namun setelah menarik nafas, dia kembali bisa mengendalikan emosinya.
"Sifa, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu. Aku hanya tidak bisa menahannya, aku minta maaf." Fendi membungkukkan badannya dan minta maaf dengan tulus.
"Kamu tidak bisa menahannya, Kenapa kamu tidak mencium adik mu? Kamu akan dipukuli sampai mati, kalau kamu berani mengganggu istri orang lain." ucap Vin yang tiba-tiba saat membuka pintu dan masuk dengan acuh tak acuh.
"Vindra..."
Vindra melirik Sifa, lalu menatap Fendi, " Hari ini adalah kali terakhir kamu melihat Sifa, Jika aku melihat mu lagi, aku akan membunuhmu." Ancam Vin.
"Membunuhku? Kamu pikir kamu siapa? Bantu aku menjaga Sifa, jika terjadi sesuatu padanya, kamu akan lihat apa yang akan aku lakukan."
Vin tiba-tiba menendang Fendi hingga menabrak dinding. " Ini bukan waktumu untuk peduli."
Rasa sakit Fendi bercampur kesenangan, dia pun berteriak. "Sifa adalah milikku, dan dia akan tetap menjadi milikku. Kamu hanyalah menantu tak berguna. Jadi kamu tidak layak bersamanya."
Sekali lagi Vin menendangnya membuat Sifa bergidik, dia pun segera memblokir Fendi.
"Vin, jangan bodoh, kamu bisa masuk penjara karena menyakiti orang." Teriak Sifa sambil mengangkat tangan hampir menampar Vin, untung saja dia berhenti tepat waktu hingga tamparan itu tidak terjadi.
"Apa yang kamu lakukan melindungi bajingan ini?" tanya Vin dengan dingin.
"Memang ada yang salah dengan Fendi, tapi kamu tidak harus memukulinya. Kamu bisa masuk penjara. Vindra kamu tenang saja dan jangan membuat masalah. Walau bagaimanapun dia sudah menyelamatkanku, jika tidak ada dia entahlah apa yang akan terjadi padaku." Sifa tersenyum pahit.
Vin menatap Fendi dengan bercanda sambil tersenyum, " Sepertinya aku harus berterimakasih padanya..." Belum selesai Vin bicara, pintu bangsal terbuka dan terlihat, Medina, Miranda dan Gultom datang menjenguk, begitu juga terlihat sosok Anna ada dibelakang mereka.
Melihat Fendi tersungkur dilantai, Medina segera menghampiri saudaranya itu. "Mengapa kamu memukuli kakakku? Apa yang bisa kamu lakukan selain memukul orang?" teriak Medina.
"Vindra apa yang kamu lakukan? Sudahlah kamu tidak kompeten, kenapa kamu memukuli Fendi yang sudah menyelamatkan Sifa?" Miranda pun juga marah.
"Ma, berhenti..." Teriak Sifa.
"Biarkan Fendi bersumpah kalau dia benar-benar menyelamatkan Sifa." saut Vindra.
"Vindra apakah kamu ingin kehilangan muka dan kehilangan perasaan jika kamu tidak menyerah." Miranda masih ingin menekan Vindra.
"Ya." Jawab Vin santai.
Gultom terbatuk, "Vin aku tau kamu dalam kebingungan, aku akan memberikan jalan keluar."
"Tidak perlu. "Jawab Vin dengan lancang.
"Vin, masalahnya sudah selesai, aku tidak menyalahgunakan mu. Jangan ungkit masalah ini di masa depan," Sifa bicara dengan tegas.
"Jangan mempermalukan Sifa lagi, kalau tidak, kamu harus mengekspos wajah munafik mu di depan umu." Saut Medina.
"Vindra, demi Sifa, aku tidak akan menyalahkanmu lagi, tapi jangan mempermalukan dirimu sendiri. Kamu bertindak kasar hanya karena cemburu." Fendi pun angkat bicara, mencari wajah di depan semua orang.
"Sekarang kamu minta maaf pada Fendi, dan masalahnya sudah selesai, aku dan ayahmu tidak akan mengungkitnya lagi."
Vin tidak menanggapi mereka tapi menatap Sifa dan berkata," Apa kamu percaya bahwa Fendi yang menyelamatkan kamu?"
" Vin jangan seperti ini..."
Jawaban Sifa membuat Vin semakin sakit hati.
"Anna Masuk." panggil Vin yang mendapati Anna mondar-mandir di depan pintu.
Anna terkejut saat mendengar Vin berteriak memanggil namanya. Dia gelisah dan akhirnya memberanikan diri masuk sambilm menggigit bibirnya.
"Vindra."
"Ana kamu datang tepat waktu."
Namun Medina segera mendekati Anna dan memegang lengan Anna lalu berkata," Kamu sekarang berada di depan Vindra dan beritahu dia dan juga semua orang yang ada di sini, apakah Fendi menyelamatkan Sifa dari Leo Ederson malam itu?"
To be continued 🙂🙂
...Mohon maaf, otor lama gak update. Beberapa waktu lalu kondisi tidak memungkinkan untuk bisa terlalu lama pegang ponsel. Insyaallah pelan-pelan mulai update rutin lagi, sambil melewati masa pemulihan.🙏🙏 Sekali lagi mohon maaf karena sudah mengecewakan semuanya.🙂...