Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 40. Perintah pemecatan


Keadaan di bank semakin manas, Medina pun segera menghubungi Sifa untuk datang ke bank begitu juga manager Bank yang mendengar ada keributan di lobby segera datang untuk memastikan apa yang terjadi.


Tak lama kemudian Sifa pun sampai begitu juga dengan sang manager.


"Ada apa ini? Ada apa Medina kamu memanggilku kemari? dan kamu mas kenapa kamu ada di sini?" tanya Sifa yang masih bingung, sebab Medina tidak menjelaskan alasan meminta Sifa untuk datang ke bank.


"Sekarang kamu ada di sini, aku akan menjelaskannya. Apa kamu tidak tau Sifa? laki-laki yang mengaku sebagai suamimu itu sudah mencuri cek keluarga mu dan dia datang kemari untuk mencairkan cek tersebut. Kenapa kamu masih mempertahankan laki-laki panjang tangan seperti dia. Lebih baik kamu segera ceraikan, laki-laki seperti dia hanya membuat malu saja bisanya," ucap Medina yang langsung menghakimi Vin.


"Tunggu dulu Medina, cek apa yang kamu maksud? Aku tak pernah berfikir kalau Vin mengambil cek milik keluargaku." jawab Sifa.


"Vin, bisakah kamu tunjukkan padaku, cek yang dimaksud Medina?" Sifa pun membuka tangannya meminta Vin menunjukkan cek tersebut."


"Aku tidak mencuri apapun Sifa, ini milikku." jelas Vin dan memberikan Cek tersebut pada Sifa. Sifa segera memperhatikan cek tersebut dan menghela nafas, lalu mengembalikannya kepada Vin.


"Kamu salah menuduh Medina, itu bukan cek milik keluargaku. Sebaiknya sebelum kamu memfitnah, alangkah baiknya kamu bertanya dulu dan mencari kebenarannya, yang ada saat ini kamu yang malah mencemarkan nama baik Vin di depan semua orang." Tegur Sifa kepada sepupunya itu.


"Aku-, Bagaimana aku tidak curiga, dia datang ke bank untuk menukarkan cek tersebut, kamu lihat sendiri kan nominalnya sangat besar, darimana dia mendapatkan itu kalau dia tidak mencuri. Aku tidak bermaksud asal menuduh." Jawab Medina membela diri.


"Vin, sekarang jelaskan padaku dan juga pada Medina, darimana kamu mendapatkan cek tersebut, agar kami tidak berfikir yang tidak-tidak tentangmu!" perintah Sifa, sejatinya walaupun Vin tak menjelaskan ia masih tetap percaya kalau Vin tidak mencuri.


Vin hanya mengangguk kepalanya, awal tujuannya datang ke bank untuk mencairkan cek tersebut, namun malah berujung mendapatkan tuduhan.


"Ini cek aku dapatkan dari paman Dom, karena aku sudah membantunya. Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa meminta manager menghubungi paman Dom untuk memastikannya." Jelas Vin.


Untuk memastikan kebenarannya, Mereka mendesak Manager untuk menghubungi paman Dom. Pak Bima itupun setuju dan segera menghubungi paman Dom menggunakan telepon kantor.


"Maaf mengganggu, saya Manager bank BB ingin melakukan konfirmasi mengenai cek yang saat ini sedang di perdebatkan di kantor bank." Jelas Manager setelah terhubung langsung dengan Paman Dom.


"Konfirmasi tentang apa ya? tolong jelaskan." Tanya balik Paman Dom.


"Apa benar, Tuan Dom, memberikan cek kepada Tuan Vin sebesar seratus juta?"


"Benar. Memangnya kenapa?" jawab singkat paman Dom.


"Tidak tuan, kami pihak bank hanya ingin konfirmasi saja. Kalau memang benar, kamu akan segera mencairkannya."


"Benar, itu cek memang saya berikan untuk Tuan Vin. Tolong segera di cairkan dan jangan di persulit."


"Baik tuan, terimakasih atas konfirmasinya dan maaf sudah mengganggu waktunya, kalau begitu saya tutup teleponnya." Pak Bima pun menutup panggilan telepon tersebut dan menatap Medina dengan tatapan tajam.


"Medina kamu dengar sendiri kan kalau cek Tuan Vin itu berasal dari Tuan Dom." tegur Pak Bima yang kesal karena merasa dipermainkan.


"Aku rasa Tuan Dom pasti sudah memberikan cek tersebut kepada orang yang salah." saut Medina.


Medina langsung terdiam, tak lagi bisa menyela ataupun membela diri, sedangkan Sifa saat ini sedang menatap Vin melotot, ia merasa Vin ingin mengingkari janji yang sudah di buatnya.


"Vin, sudah aku katakan padamu waktu itu, jangan pakai uang pemberian dari Paman Dom dengan alasan apapun." tegur Sifa.


"Aku tidak melakukannya Sifa, Percayalah padaku." jelas Vin, lalu ia mengalihkan pandangannya ke Medina yang saat ini tengah terpojok karena ulah dia sendiri.


"Pak Bima, aku minta padamu tolong sekarang Bapak pecat wanita ini. Pegawai yang memiliki sikap seperti Medina ini bisa membuat semua pelanggan lari, karena terlalu ikut campur urusan orang lain." Titah Vin membuat semua tercengang dan yang paling terkejut adalah Medina.


"Apa kamu bilang? Kamu tidak punya hak untuk meminta pak bima memecat ku, kamu hanyalah seorang pelanggan bukan pimpinan di kantor ini, paham!" Jawab Medina yang tidak terima.


"Betul sekali tuan, saya tidak bisa memecat Medina, karena pekerjaannya di kantor ini sangat baik, jadi maaf saya tidak bisa dan anda juga tidak punya hak untuk meminta saya memecatnya." Saut Pak Bima.


"Benarkah, kalau begitu cepat sekarang hubungi pimpinan kalian dan katakan Kalau Vindra meminta agar pegawainya yang bernama Medina dipecat." perintah Vindra.


"Apa hubungan anda dengan pimpinan?" tanya sang manager.


"Tidak perlu banyak tanya, Cepat hubungi beliau sekarang juga." pertegas Vin


Pak Bima pun segera menghubungi pimpinan Bank dan menyampaikan seperti apa yang dikatakan Vin.


Sebelum menutup panggilannya, Pak Bima pun menoleh ke arah Medina lalu ke Vin.


"Mulai sekarang dan seterusnya, kamu tidak perlu bekerja di sini lagi. Pimpinan menyetujui permintaan Tuan Vin untuk memecat mu." jelas pak Bima.


"Tidak bisa begitu dong pak, Saya sudah bekerja disini selama beberapa tahun, dan hanya karena perintah dari pelanggan ini, saya di pecat. Saya tidak terima pak diperlukan seperti ini hanya karena kesalahan kecil." Tolak Medina.


"Dan kamu Vin, kamu tidak bisa melakukan itu padaku." Tunjuk Median dengan penuh kemarahan, namun Vin hanya menyeringai menghadapi sikap Medina.


"Lain kali jaga sikap dan ucapanmu, ingat mulutmu adalah Pi sau paling tajam yang bisa menikam mu kapan saja di saat kamu lengah seperti saat ini. Kamu seorang pegawai bank, tapi kamu mengikut campurkan masalah pekerjaan dan masalah pribadi yang membuat pelanggan rugi." Jawab Vin.


Medina pun langsung pergi begitu saja, setelah berbalik dirinya yang dipermalukan.


Vin pun menyerahkan cek pemberian Kakek dewa dan Dokter Lin dan menukarnya dalam bentuk tabungan.


Setelah urusan di bank selesai, Sifa mengajak Vin pergi dengan mengunakan motor yang ia bawa saat datang ke bank.


"Ayo kita pergi dari sini. Kamu yang bawa motor dan aku yang kamu bonceng." ajak Sifa sambil menyerahkan kunci motor pada Vin.


Vin pun menyetujuinya dan mereka segera pergi meninggalkan bank tersebut dan berencana untuk langsung kembali pulang.


To Be continued ☺️☺️☺️