Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 141. Bercerai


Gultom dan Miranda bergegas menghampiri Fendi. "Vindra kamu keterlaluan, siapa yang memberimu kekuatan untuk mengalahkan orang lain."


"Fendi..." Sifa ingin menghampiri untuk minta maaf, namun Vindra mengambil lengannya dan membawanya kembali.


Vindra bertanya dengan dingin. "Apakah kamu tidak membencinya? Bukankah kamu ingin menjauhinya? Kenapa kamu kembali peduli dengannya?"


"Ya. Setidaknya dia membantuku, berusaha mencintaiku dengan tulus, Tetapi kamu, hanya karena giok itu kamu tidak menganggap aku dan ayah."


Vindra menekan genggaman tangannya. "Apa aku tidak membantumu?"


"Lepaskan Sifa, jika kamu ada masalah denganku, datang padaku." teriak Fendi dan bergegas maju, namun sekali lagi Vindra menendangnya dan membuat Fendi terpental.


"Bajingan." Sifa marah lalu menamparnya. "Kamu pria yang kejam."


Tamparan itu terdengar renyah dan meninggalkan lima sidik jari di wajahnya. Tidak ada rasa sakit, sarafnya sudah mati rasa bersamaan dengan suasana hatinya." Dia memukulku kamu tidak bersuara, tapi aku menendangnya kamu sangat cemas." Vindra menertawakan dirinya. "Sepertinya Fendi jauh lebih penting daripada aku dihatimu."


"Pergi." teriak Sifa.


Sifa tidak pernah menyangka Vindra tidak menunjukkan penyesalannya dan berani mempertanyakan dirinya. Karena giok dia tidak segan-segan bertengkar dengan dirinya dan ayahnya. Vin mengalahkan Fendi Rapunzel, dia takut saat keluarganya meminta pertanggungjawaban, dan Vindra akan masuk penjara. Selain itu Vin tidak mendengarkan sarannya. Ditambah dukungan Ambar Wijaya, membuatnya berubah. Perasaan itu berkecamuk dalam hati Sifa saat ini.


Dengan air mata dimatanya Sifa berteriak. "Pergi! jangan pernah muncul lagi."


"Apa kamu tidak ingin bercerai?"


"Baik, aku akan memenuhi keinganmu." Sifa segera mengambil setumpuk kertas dari dalam lemari tv. Berkas perceraian yang sudah di disiapkan keluarga Gultom enam bulan yang lalu. Sifa mengambilnya secara acak dan segera menandatangani diatas namanya, kemudian melemparkannya ke Vindra dan berteriak. "Kita bercerai, cerai, pergilah."


Vin berusaha tenang. "Aku pikir setelah satu tahun, aku memiliki sedikit beban dihatimu. Sepertinya itu hanya angan-angan." Vindra menertawakan dirinya sendiri. "Bahkan aku tidak bisa dibandingkan dengan Fendi."


"Setelah aku menceraikan mu, aku pasti akan memilih bersamanya." Sifa sengaja memancing emosi.


Tangan Vindra gemetar, Ingin sekali menamparnya, tapi ingatan delapan belas tahun yang lalu menahannya.


"Oke, aku pergi."


Vin tertawa terbahak-bahak, mengambil pena dan menandatangani diatas namanya, lalu menarik salinannya untuk disimpan.


Dia menjatuhkan pena ditangannya dan berbalik lalu pergi, saat berjalan dia menendang kursi dan seketika kursi itu hancur.


Semua orang tercengang, saat melihat kepergian Vindra. Mereka tidak menyangka Vindra memiliki kekuatan yang begitu besar.


Air mata Sifa bergejolak, dan dia hanya merasakan sakit.


"Selamat tinggal," ucap Vindra terakhir sebelum dia benar-benar pergi dan tanpa menoleh kebelakang.


Tak selang beberapa lama setelah Vindra pergi, Sebuah mobil polisi datang dan keluar tiga pria berseragam.


Mereka berjalan tidak tergesa-gesa menuju rumah Gultom dan dengan sopan bertanya kepada semua orang. "Kenalkan saya Albert dari tim investigasi kriminal, Vindra, apakah dia tinggal disini?"


Miranda mendengus dingin. "Dia sudah diusir. Dia bukan lagi keluarga Gultom. Jika kamu memiliki sesuatu untuk diselesaikan hubungi dia langsung."


Mateo menyaut. "Dia bertanggung jawab atas masalah yang dia lakukan, dan itu tidak ada hubungannya dengan ayah mertuaku dan yang lainnya."


"Ponselnya dimatikan, apakah kalian ada kontraknya, agar bisa dihubunginya?" Albert menyela omongan Fendi." Dia merobohkan empat buronan, dan kami ingin menemukannya untuk membuat transkrip."


"Menghancurkan empat buronan?" Miranda dan Tania tercengang. "Apakah dia benar-benar bertemu penjagal itu?"


"Iya, empat buronan itu adalah penjagal, yang telah menghabisi banyak nyawa. Menurut kesaksian salah satu dari mereka yang masih selamat, Mereka ingin merebut giok berdarah, dan berniat membunuh Vindra lalu membuangnya ke hutan. Namun hasilnya mereka malah dikalahkan oleh Vindra." Jelas Albert dan semua orang terdiam.


Kata-kata Albert benar-benar mengejutkan keluarga Gultom.


"Itu artinya dia memiliki hadiah dua ratus juta,"ucap Tania tanpa sadar.


Kali ini Gultom sedikit malu. "Apakah dia benar-benar bertengkar dengan sengaja?" Gultom langsung bergidik saat memikirkan jika mereka membunuh keluarganya.


"Apa itu sengaja?" Miranda mendengus dingin. "Itu reaksi sebenarnya, membawa giok ratusan juta. Bertemu para penjagal itu hanya kecelakaan, dan kemudian menggunakannya untuk menutupi keserakahannya." Miranda meremehkan Vindra seperti biasa dan dia selalu enggan mengakui kalau Vindra sengaja bertengkar untuk menyelamatkan suami dan juga putrinya.


"Bu, berhenti bicara." Sifa saat ini begitu mudah tersinggung. " Jangan membicarakan Vindra lagi." Dia sangat tidak nyaman. Dia tidak menyangka bahkan Vindra benar-benar bertarung dengan para penjagal, itu artinya kali ini Vindra tidak berbohong. Dia takut dia telah salah paham dengannya.


"Kenapa? dia melakukannya, kenapa aku tidak boleh membicarakannya? faktanya dia tidak serius denganmu hanya karena giok itu. Bahkan dengan konyol menggunakan tembaga rusak untuk menipu ayahmu. Miranda pun menendang pagoda itu dengan kakinya dan merasa jijik.


Melihat pagoda uang kotor, kemarahan Gultom naik lagi. Dia membencinya dan menendang pagoda itu.


Tak lama kemudian, Mercedez Benz datang, dan keluar seorang lelaki tua dan di ikuti dua lainnya.


Ketika melihat mereka, Gultom terkejut. Dia segera menyapa sambil tersenyum. "tuyan Soni, Tuan Ken, Tuan Adam, ada apa kalian datang kemari?"


Mereka adalah master top penilaian barang antik dan berada di posisi paling atas.


"Kami dengar kamu membeli batu giok berdarah, kamu datang kemari untuk melihatnya." Salah satu master tertawa sambil berjabat tangan.


Miranda segera menyapa mereka dan mempersilahkan mereka duduk.


"Tuan Soni, tuan Ken, tuan Adam. Aku rasa kalian akan kecewa. Menantu laki-lakiku sesudah membawanya pergi. Dia menolak memberikannya kepadaku, tidak perduli bagaimana aku membujuknya dia tidak memberikannya bahkan hanya untuk dua hari. Aku mengusirnya dengan marah dan giok itu dibawa pergi bersamanya." Dia menjelaskan dengan sedikit amarah, jika batu giok itu ada padanya dia akan mengangkat wajahnya dari ini.


Tuan Soni menjawab. "Tuan Gultom walaupun pendekatan Vindra tidak masuk akal, tapi sebenarnya itu miliknya. Lagipula dia yang membayarnya dan dia juga yang menemukannya, dan kamu memaksanya untuk memberikannya kepadamu, itu sedikit agak berlebihan. Pikirkan tentang itu, jika porselen itu tidak memiliki giok berdarah didalamnya, apakah kamu mau memberi kompensasi atas kerusakan yang tuan lakukan?" Para master mengangguk dan Gultom pun terdiam.


"Bahkan jika giok itu milikku, apa yang tidak bisa kamu bicarakan sebagai keluarga?" Miranda bicara pada suaminya. "selain itu putriku mengatakan ingin membayarnya, tapi dia menolak. Bahkan dia tidak membiarkan ayahnya meminjam selama dua hari. Hatinya benar-benar busuk."


Tuan Soni terkejut, " Benarkah? aku pikir Vindra sebenarnya orang yang jujur."


"Kamu melewatkan sifat aslinya." Miranda menendang pagoda dengan kakinya didepan para master. "Untuk batu giok, dia menggunakan sampah ini untuk menipu kita. Katanya itu lebih berharga dari giok berdarah miliknya."


"Jangan bicarakan tentang pagoda, terlalu menghina." Gultom benar-benar kecewa dan marah setiap melihat pagoda itu.


"Stupa ini?"


Tuan Soni melirik acuh tak acuh, tubuhnya terguncang, dia mengambilnya dan mengusapnya dengan keras, ekspresi seketika berubah menjadi semangat.


To be continued 🙂🙂🙂