
Di dalam mobil, Ningrum masih sempat menoleh kebelakang untuk melihat keluarga Petrik.
"Pamanmu pasti sangat marah."
"Ibu dan ayah terlalu baik. Ibu tidak pernah melawan mereka, tapi malah membiarkan mereka menggertak dan mengambil keuntungan," ucap Vindra tanpa daya.
" Ibu di masa depan jangan lagi berinteraksi dengan mereka. Mereka pasti akan menyusahkan ibu lagi. Jika ibu mau aku akan menuntutnya untuk meninggalkan rumah keluarga leluhur. Selain itu mulai sekarang ibu jangan tinggal di rumah kontrakan lagi, aku yakin mereka akan datang untuk mengusik ibu."
Ningrum tidak menjawab apa-apa, membiarkan Vindra yang terus berbicara. Kejadian ini membuat Ningrum sedikit trauma.
"Bu, aku ingin jujur. Sebenarnya aku sudah bercerai dengan Sifa, dan sekarang aku memiliki banyak uang, memiliki rumah, dan aku membuka klinik medis. Di klinik ada banyak tempat dan banyak perawat. Aku ingin ibu tinggal bersamaku di klinik."
Sebelumnya Vindra terbelenggu oleh keluarga Gultom, hingga dia tidak bisa tinggal bersama ibunya, tapi sekarang dia sudah bebas, dia ingin membawa ibunya tinggal bersama.
"Kamu bercerai dengan Sifa?" Ningrum terkejut dan kemudian menghela nafas." Sebenarnya Sifa wanita yang baik, sayang sekali kamu bercerai dengannya. Tapi ibu tidak akan menggangumu, semua keputusan ada di tanganmu. Untuk tinggal di klinik ibu tidak mau. Rumah kontrakan itu masih tiga bulan, yang sekali kalau di tinggalkan."
Ningrum tidak ingin mengganggu ataupun membebani kehidupan putranya. " Ibu akan sangat senang jika kamu sering datang dan menemui ibu."
"Ibu aku sudah menemukan Ayah, dia ada di klinik medisku," ucap Vindra begitu saja.
Deg...
Jantung Ningrum seakan berhenti berdetak, dia mengguncang tubuhnya saat mendengar kata-kata yang keluar dari Vindra.
"Ayahmu masih hidup?" Ningrum menatap Vindra dengan tidak percaya. "Jangan, jangan berbohong padaku."
Vindra mengangguk, "Itu benar Bu, Sifa kebetulan bertemu ayah beberapa waktu yang lalu. Aku membawanya pulang, dia baik-baik saja, tapi saat ini masih dalam keadaan koma. Aku rasa tidak lama lagi ayah akan bangun."
Saat ini Vindra juga bingung memikirkan kondisi ayahnya. Dia sudah berusaha keras tapi ayahnya belum bangun juga. Padahal setiap hari Vindra memberikan cahaya putih ke tubuh ayahnya. Kondisi tubuhnya membaik tapi ayahnya masih tidur nyenyak.
"Pergi, cepat bawa ibu bertemu dengan ayahmu." Setelah yakin Vindra tidak bercanda, Ningrum ingin segera melihat suaminya. "Antar aku bertemu ayahmu, aku ingin bertanya padanya, kemana perginya selama ini."
Saat perjalanan kembali, Vindra melihat ada mobil yang membuntuti, tapi dia tidak terlalu memperdulikannya.
Selama perjalanan Vindra menjelaskan kondisi ayahnya yang sebenarnya kepada sang ibu.
Setengah jam kemudian, mereka sampai di klinik, Vindra segera membantu ibunya keluar dari dalam mobil.
Vindra hendak membawa ibunya menemui Aryo, tetapi mendapati lusinan motor yang menderu dengan keras mengitari mereka.
Kemudian di kejauhan sebuah mobil muncul, dan keluar beberapa pria muda.
Dia adalah Joni Arafian, anak sulung paman Petrik. Dia datang dengan membawa tongkat baseball bersama beberapa temannya.
Joni mengenakan pakaian yang menunjukkan identitas Redblack.
Segera Vindra meminta Billy untuk membawa ibunya menemui suaminya dan dirinya ingin melihat apa yang akan di lakukan sepupunya itu.
Beberapa waktu yang lalu dia membiarkan Joni, agar dia bisa belajar. Namun hari ini dia melihat Joni yang berani.
"Vindra, akhirnya kita bertemu disini. Kamu sudah melukai perasaan pamanmu. Melukai orang tuaku. Aku akan membunuhmu hari ini."
Lebih dari lusinan orang berteriak menyemangati Joni.
Joni marah saat melihat Vin mengabaikannya. Dia segera mengajak teman-temannya untuk memberi pelajaran pada Vindra.
Joni terlihat ganas, siap membuat perhitungan. Dia menendang pasien yang menghalangi dan mengayunkan tongkat baseball. "Satu hitungan, bunuh semuanya."
Saat Joni berjalan masuk ke aula medis, dia melihat Vindra sudah berada di dalam dan duduk di depan seorang pemuda yang wajahnya di balut kain kasa.
Pemuda itu sedang memberikan beberapa lembar uang kepada Vindra, kemudian menatap sekelompok pria yang dibawa Joni.
Ternyata pemuda itu adalah sosok yang terkenal di Redblack dan saat ini adalah tuannya yang baru, siapa lagi kalau bukan Marcel Wang yang juga merupakan orang berpengaruh di Redblack.
Seketika Joni bagian disambar petir, tubuhnya dingin, seolah-olah dia tidak mempercayai matanya, dan tubuhnya membeku seketika.
Para anggota Redblack yang lainnya juga tercengang, mereka tidak menyangka Marcel ada disini dan memperlakukan Vindra dengan hormat.
Kemudian mereka juga mengenali wanita yang sedang menyapu lantai kotor itu adalah Dara Wang yang memimpin pasukan Redblack yang berada di bawah kendali Rahendra.
"Tuan Marcel, Nona Dara." Joni dan yang lain langsung menjatuhkan diri untuk berlutut.
Sebelum Vin bisa mengatakan apa-apa, Marcel sudah lebih dulu berdiri dan membawa tongkat untuk memukuli Joni.
Darah segar dan teriakan menyakitkan menjadi pemandangan siang di klinik CRISHAN.
Marcel sangat marah saat ada orang yang ingin mengganggu Vindra dan juga ingin menghancurkan klinik. Jika dia tidak segera menangani, semua usahanya akan sia-sia dan dia tidak akan bisa mengambil hati Vindra. Oleh karena itu tindakan Marcel sangat ganas bahkan membuat yang melihat merasa ketakutan.
"Dasar binatang. Berani sekali kamu menggangu tuan Vindra, apa kamu sudah bosan hidup?"
"Kamu ingin menghancurkan klinik ini dengan berkedok Redblack, siapa yang memberimu keberanian untuk melakukan itu?"
Joni yang tak berdaya hanya bisa berulangkali memohon ampun. "Tuan Marcel maaf, aku minta maaf, aku telah melakukan kesalahan. Aku janji tidak akan pernah lagi melakukan kesalahan ini lagi. Tolong beri kami kesempatan. kami akan menebusnya." Joni tahu Marcel sangat marah, jika dia tidak berhati-hati mungkin nyawanya akan melayang.
Marcel mendengus. "Memohon padaku? Apa gunanya kamu memohon kepada ku? kamu sudah menyinggung tuan Vindra."
Joni dan yang lain segera menghampiri Vindra.
" Saudaraku Vindra, aku memang bajingan, tolong maafkan aku. Aku janji tidak akan pernah mencoba untuk menggangumu. Aku harap kamu memiliki hati nurani dan memberikan aku kesempatan." Penyesalan Joni pun teramat besar. Vindra telah memberinya kesempatan, tapi dia malah mengabaikannya, kecil harapannya saat ini untuk mendapatkan maaf dari Vindra.
Vindra tersenyum tipis, melirik Dara sambil mengangguk pelan.
"Patahkan kedua tangannya, jika satu tangan tidak cukup belajar, maka sekarang dua, dan buang dia seperti sampah."
Dara dan lainnya langsung bergerak, mematahkan tangan Joni dan yang lainnya dan mereka di buang begitu saja seperti sampah.
Setengah selesai mengurus Joni, telepon Vindra berdering. Baru saja mengangkatnya dan ingin bertanya, suara panik Tiffani terdengar. "Kakak ipar, sesuatu terjadi pada keluarga Gultom.
...****************...
Sambil menunggu, yuk bantu dukung karya otor yang baru rilis.