Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 158. Dia adalah Bos Besar


*Keesokan harinya, kantor BBI Star Farmasi *


Bangunan yang berdiri tujuh lantai, sedang disibukkan dengan persiapan menjelang kedatangan bos besar. Lebih dari lusinan staf tinggi perusahaan berdiri di depan pintu untuk menyambut bos besar yang belum pernah mereka temui.


Sebelumnya mereka diberi tahu presiden Dewi untuk bersiap menyambut bos besar pemilik saham terbesar.


Diantara para staf, berdiri Johan dan sebelahnya Tesa kekasihnya.


"Aku tidak tahu siapa bos besar ini, tapi Nyonya Dewi meminta untuk menyambutnya," ucap salah satu dari mereka.


"Jangan bicara omong kosong. Apa kamu tidak tahu bos besar ini? Dia adalah pemilik saham paling banyak di banding nyonya Dewi." Sanggah yang lain.


"Perusahaan sedang berkembang, kenapa nyonya Dewi memberikan sahamnya padanya?"


"Nyonya Dewi akan melahirkan seorang anak, jadi dia tidak akan punya banyak waktu. Oleh sebab itu dia membutuhkan seseorang untuk mengambil alih. Aku dengar bos besar ini juga memiliki latar belakang yang luar biasa."


Para staf mulai bergosip dengan suara rendah sambil sesekali memperhatikan pintu.


Tesa yang mendengar mencibir. "Gosip apa yang kalian bicarakan? Asal kalian tahu, resep Putri Malu itu di buat oleh bos besar."


"Apa?! Resep Putri Malu dibuat bos besar?" Sebagian besar dari mereka terkejut, karena sebagian tidak tahu dengan resep kecantikan yang saat ini menjadi tiang kesusksesan Star Farmasi.


"Aku juga tahu, bahwa bos besar itu hampir setara dengan Nyonya Dewi," imbuh Tesa.


"Tesa, apakah informasi yang kamu berikan itu benar?"


"Tentu saja, bos besar memiliki resep rahasia dan itu adalah yang terpenting."


Mendengar Tesa terus membicarakan bos besar, yang sejatinya dia pun belum mengetahui sosoknya, membuat Johan mendengus dan menatap Tesa dengan tajam


"Diam, Bos besar bukan orang yang bisa kamu bicarakan. Jangan banyak bicara, atau aku akan menghukum mu nanti."


"Sudah lebih lima menit dari jam sembilan pagi, kenapa bos besar belum juga datang?" tanya Tesa sambil melihat arloji di tangannya.


Johan juga menunggu, dia melihat ke depan tapi juga belum ada tanda-tanda. "Nyonya Dewi juga belum datang. Mungkin ada kemacetan dijalan."


Beberapa saat kemudian, sepeda motor masuk halaman dan berhenti di depan Johan dan yang lainnya.


Segera Vin membuka helmnya dan menunjukkan wajahnya, dia datang untuk memeriksa perusahaan.


"Vindra!"


Melihat kedatangan Vindra, Tesa mengerutkan keningnya dan wajah cantiknya merasa jijik. "Sialan, kenapa dia datang kesini?"


Johan yang juga mengenali Vindra, langsung marah.


"Vindra apa yang kamu lakukan disini?" tanya Tesa saat melangkah maju


Johan juga mendekat, dan dengan marah mengusir Vindra." Pergi dari sini! jangan merusak pemandangan disini."


"Aku punya hal penting disini. Aku tidak ada waktu bermain-main dengan kalian." Jawab Vindra.


"Jangan tunggu aku marah, kalau tidak konsentrasinya sangat serius." Johan tidak tahu tujuan Vindra datang, tapi untuk saat ini Johan berharap Vindra menghilang dari pandangannya.


"Johan, Tesa, kalian memang pasangan yang cocok, terlalu sombong."


Tesa mencibir, "Setidaknya kami tidak meminjam Audi anti-peluru untuk menyombongkan diri."


Johan menyipitkan matanya, "Motor tetaplah motor, kamu hanya memiliki motor tidak akan pernah bisa menjadi mobil, jadi jangan terlalu sombong."


"Aku mengendarai motor ataupun mobil Audi itu hak ku, untuk apa kalian merepotkannya? Minggir jangan halangi jalanku."


"Tadi malam tuan Raditya ketakutan seperti anjing. Jika bukan karena aku yang meminta bantuan, mungkin kamu sudah mati sekarang."


Vin memandang Vin dengan penuh minat, "Kamu jangan terlalu banyak berbohong, atau itu akan menghancurkan dirimu sendiri. Kemarin aku percaya kata-katamu, dan hari ini aku percaya kalau kamu adalah pembohong besar."


Mendengar kata-kata Vin membuat Johan menjadi marah." Jika bukan karena aku memanggil teman lamaku untuk membantu, dan mengatakan sesuatu pada Tuan Raditya, kamu pikir kamu bisa keluar?"


"Cepat keluar! Jika tuan Raditya tidak membunuhmu maka aku yang akan membunuhmu."


"Cepat keluar! Apa kamu lihat, kak Johan sedang marah? Demi Tiffani aku tidak akan perduli padamu lagi, jadi cepatlah pergi, atau kamu akan mendapatkan masalah besar," ucap Tesa.


"Pergilah." Usir Johan sambil melambaikan tangan.


Vin tersenyum tipis, "Jika aku pergi, kamu juga boleh pergi "


"Apa maksudmu?" Johan terkejut.


"Idiot, kamu menganggap diri sebagai bos kami," Tesa bereaksi.


"Lelucon yang besar, kamu pikir aku tidak tahu latar belakangmu."


Johan segera melambaikan tangannya memanggil para penjaga. "Cepat usir dia, bos akan segera datang, jika dia melihat kekacauan ini, suasananya akan menjadi tidak baik."


Pada saat ini armada mobil datang berlahan. Semua karyawan tahu jika itu mobil atasan mereka.


Tesa segera berseru." Ini pasti Nyonya Dewi dan Lusiana yang datang menjemput bos besar."


Johan masih sibuk dengan keberadaan Vindra. "Keluar sekarang."


Mobil terbuka, lalu muncul sosok Dewi dan juga Lusiana. Segera Johan, Tesa dan yang lainnya segera menyapa.


"Presiden Dewi, sekertaris Lusiana." Sapa mereka.


Lusiana mengabaikan mereka, dan melihat sekeliling dengan cemas, sebelum mengunci pandangannya pada sosok Vindra dan bergegas menghampiri. "Kak Vindra, maaf kami terlambat," ucap Lusiana.


Dewi yang melihat tersenyum, dan bergegas menghampiri dan memeluk Vindra. "Halo, saudara Vindra."


Semua karyawan terkejut ketika mereka mendengar kata-kata itu, dan menatap Vindra dengan heran. Mereka tidak menyangka jika Lusiana dan nyonya Dewi begitu menghormati Vindra.


Begitu juga dengan Johan dan Tesa, mereka juga tampak tercengang. Mereka tidak percaya jika keduanya mengenal Vindra.


"Presiden Dewi, Lusiana, selamat pagi." Sapa Johan lagi. "Dimana bos besar? Kami sudah siap dan menunggu kedatangannya."


"Bos?!"


Dewi menatap dingin dan kemudian berteriak pada Johan dan yang lainnya. "Apa kalian semua buta? Bos sudah lama berada disini dan kalian tidak ada yang melihatnya."


Dewi berdiri disamping Vindra." Ini saudara ku, Vindra. Dia pemegang saham terbesar dan Bos besar BBI Star Farmasi."


"Ah," Mendengar perkataan Dewi semuanya terkejut, mereka sama sekali tak percaya dengan kenyataan yang ada didepan mata mereka.


Wajah Johan seketika berubah pucat. "Apa? dia benar-benar bos besar."


Mata Tesa melebar, dia tidak bisa mempercayai telinganya saat mendengar kata-kata Dewi.


"Tidak ini tidak mungkin. Bagaimana ini mungkin? Dia adalah gelandangan dan saudara ipar Tiffani. Tadi malam dia sangat ketakutan setelah mati karena tuan Raditya. Jika bukan karena kak Johan mengeluarkan seratus juta untuk membantunya, dia tidak akan selamat dan dia tidak akan pernah menjadi bos baru saat ini." Tesa tidak terima dan dia pun menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak ingin mempercayainya. Namun dia juga tidak bisa melawan kenyataan.


To be continued 🙂🙂🙂