
*Lintang Bar*
Sifa pergi ke lintang bar, dimana suasana saat ini sedang ramai pengunjung. Sifa pergi ke dek timur untuk minum untuk menghilangkan kesedihan dan kebosanannya.
"Sifa... Sifa... aku disini." panggil seseorang yang ada di ujung dek.
Sifa memperhatikan, dan ternyata itu adalah Medina yang tengah melambaikan tangan memanggil dirinya.
Sifa segera berjalan mendekati, dan duduk di salah satu kursi." Medina untuk apa kamu mengajakku bertemu disini?"
Setelah bercerai, Sifa tidak pernah menghubungi saudara-saudara Rapunzel, bahkan dia pun memblokir nomor Ferdi untuk memutuskan semua hubungan.
Jika bukan permohonan Medina yang berulang, Sifa juga tidak ingin pergi ke bar tersebut.
"Tidak bisakah kita bertemu untuk memastikan kamu baik-baik saja?" Medina tersenyum lembut dan berpindah posisi di dekat sifa. "Kita adalah teman baik, tidak bisakah kita hanya sekedar bertemu kangen?"
"Jika tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan, aku akan pergi, karena besok masih ada pertemuan dengan klien."
"Sifa apa yang kamu lakukan?" Medina nampak tidak berdaya, "Aku tahu kakakku melakukan banyak masalah untuk mu. Asal kamu tahu kakakku melakukan itu karena dia mencintai kamu terlalu dalam, sampai membuatnya melakukan hal bodoh. Aku sudah mengajarinya dengan keras, dia tidak akan melakukan kesalahannya lagi dan tidak bersikap sembrono lagi."
"Sifa beri dia kesempatan, jangan membenci atau menjauhinya." Medina memohon dengan lembut, "Aku mohon..."
"Aku tidak membencinya ataupun menghindarinya, aku hanya berfikir, kita tidak perlu ada hubungan lagi." Sifa menghela nafas. "Jadi dia tidak perlu minta maaf atau berbaikan."
Ada jejak kesedihan di wajah Sifa, seakan itu adalah sebuah penyesalan. Andai sejak awal dirinya memutuskan hubungan dengan Fendi mungkin Vindra tidak akan menceraikan dirinya.
"Kamu masih membencinya. Kamu meninggalkan semua pelanggan yang diperkenalkan kakakku, dan kamu juga berulang kali menolak undanganku, mungkin kamu membencinya jauh di lubuk hatimu." jawab medina
"Tidak, kamu adalah kamu dan kakakmu adalah kakakmu. Baiklah setelah kamu kembali, beritahu dia kalau aku tidak membencinya. Aku hanya berharap dia tidak menggangguku dimasa depan," ucap Sifa.
Medina terus berjuang membujuk Sifa, dia memberikan gelas yang sudah dia isi dengan setengah anggur.
Dengan sopan Sifa menolak. "Tidak, aku tidak ingin minum." Setelah kejadian beberapa waktu lalu, Sifa seakan trauma membuatnya tidak ingin minum dengan sembarangan, jika dia ingin minum dia ingin bersama orang-orang yang dia percaya.
"Jika kamu benar-benar tidak membenciku, maka terimalah ini, setelah ini aku tidak akan memintamu untuk minum lagi."
Dengan ragu-ragu akhirnya Sifa menerima gelas itu dan menunjukkan kalau dia benar-benar tidak membenci Medina. Sifa menyesapnya dan menghabiskannya dalam sekali teguk.
Tepat saat sampai di samping mobilnya, dia tidak berhenti gemetar, pusing dan mengantuk. Hati Sifa menegang dan dalam keadaan panik dia mengambil ponselnya dan tanpa sadar memanggil nama Vindra.
Baru saja melihat nama Vindra di ponselnya, nafasnya ternganga-engah dan menyadari kalau mereka sudah bercerai.
"Hei." Tepat disaat Sifa ingin menghubungi ibunya, sebuah tangan terulur dan langsung menyambar ponsel Sifa.
"Kalau ingin berkendara tidak boleh sambil bermain ponsel."
Sifa segera menoleh dan mendapati Medina kini ada dibelakangnya, mengambil ponselnya sambil tersenyum penuh arti.
Sambil terhuyung-huyung, Sifa berusaha mengambil ponselnya. "Kembalikan ponselku." Medina menghindari agar Sifa tidak bisa menangkap ponselnya.
"Medina, kembalikan ponselku... Tolong kembalikan." Sifa mulai cemas.
Medina hanya mengguncang ponselnya tetapi tidak memberikannya pada Sifa. Medina sengaja membuat Sifa semakin cemas agar obatnya bekerja dengan baik.
"Kamu tidak bisa bermain ponsel saat berkendara." Medina memblokir tangan Sifa dan melempar ponsel disudut yang gelap.
Secara naluriah Sifa melangkah maju untuk mencarinya, tapi dihentikan oleh Medina. "Sifa kamu kenapa? apa kamu mabuk? Aku sudah memesankan mobil untukmu, agar kamu tidak perlu mengemudi sendiri dalam keadaan mabuk seperti ini."
Medina membantu Sifa dan berjalan beberapa langkah ke depan. Dia berhenti didepan mobil Mercedez Benz hitam.
Kaca mobil diturunkan dan sosok Fendi berada di kursi kemudi. Medina meletakkan Sifa di kursi penumpang yang kondisinya hampir tidak sadarkan diri. Setelah itu dia mendekati kakaknya itu.
" Kakak ini adalah pilihan terakhir, jangan menyia-nyiakannya. Kamu harus berhasil malam ini, jika tidak selamanya Sifa tidak akan bisa menjadi saudara iparku. Karena dia sangat membencimu."
"Jangan khawatir aku akan melakukannya dengan baik."
Setelah itu Fendi segera membawa pergi Sifa meninggalkan bar. Melihat mobil yang dikendarai kakaknya pergi, Medina menatapnya dengan sedikit kemarahan.
Medina kembali mencari ponsel Sifa yang dia lemparan. Saat menemukannya dia melihat panggilan telepon dari Vindra. Dia ragu-ragu sejenak lalu mengangkatnya. "Vindra, ini Melisa aku baru saja melihat Sifa diculik..."
To be continued 👍👍👍