![MEMORY [INGATAN]](https://asset.asean.biz.id/memory--ingatan-.webp)
Kevin masih berusaha melawan penyakitnya, sedangkan dokter dan para suster juga berusaha menyelamatkan nyawa kevin. Jam masih terus saja berjalan, hingga oprasi selesai di lakukan. Melihat dokter keluar dari ruang oprasi, seketika sofia, naina, ibu dan ayahnya berdiri menghampiri sang dokter.
“Bagaimana dok? apa oprasinya berjalan lancar?” tanya ayah kevin.
“Syukurlah, oprasinya berjalan dengan lancar, meski tadi ada sedikit masalah dan hampir saja putra kalian kehilangan nyawa.” Jawab dokter tersenyum.
“Terima kasih banyak!” ucap ibunya menangis lega, begitu juga dengan sofia dan naina yang saling berpelukkan.
“Kalau begitu saya permisi dulu.” Dokter itu berjalan pergi. Sedangkan keluarga kevin masih merasakan ketenangan nya karena kevin sudah melewati masa-masa penyakitnya.
“Sofia! kau pulanglah, biarkan kami yang menjaga kevin!” pinta ibunya kevin tersenyum. “Baiklah, jika kevin siuman, tolong kabari aku.” Balas sofia. Naina mengantar sofia pulang kerumahnya, karena melihat hari sudah larut malam.
***
“Terima kasih kak! hati-hati di jalan.” Ucap sofia ramah.
“Iya, sama-sama! aku pergi dulu!” jawab naina setelah itu melajukan mobilnya.
Sofia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya, karena kini sudah jam 12:00 malam rumah sudah sepi, apalagi kakak dinda sudah tidak tinggal di situ lagi. Sofia berjalan menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya, karena masih tidak merasa ngantuk, dia memilih melanjutkan novel kevin, dengan bergadang semalaman. Tidak lupa juga menyiapkan makanan ringan dan kopi untuk menemaninya di malam hari. Jari-jari sofia sibuk melompat-lompat di atas keyboard laptopnya, sampai sofia tidak sengaja menekan koleksi foto-fotonya. Dia menemukan fotonya sendiri saat berada di jerman bersama james, foto itu diambil saat mereka berwisata di romantic road. Sofia memandanginya cukup lama dengan senyuman lebar terukir di wajahnya.
“Kini hanya tinggal kenangan saja, huff.... ” Gumam sofia sambil mendengus.
Tidak sengaja mata sofia tertuju ke cincin pertunangannya dengan kevin yang melekat di jari manisnya, sofia melihat cincin itu dengan dekat, cincin dengan dua berlian kecil dan satu berlian besar. Dia ingat dengan hari perbikahannya yang kurang satu bulan lagi, setelahnya dia akan melupakan cinta pertamanya untuk selamanya. Air mata kembali membasahi pipi sofia, begitu deras air-air itu turun dari mata sofia. Lalu sofia memegang kalung james, entah kenapa setiap dia mengingat james, sofia selalu memegang dan merasakan kalungnya.
***
Di dalam kamar hotel, james juga masih berjaga sedangkan jigs sudah terlelap sekali hingga keluar air liurnya. James juga melihat koleksi foto sofia yang dia ambil diam-diam saat pertama kalinya melihat sofia duduk di tepi danau zurich dengan ditemani salju yang lebat di jalanan. Awalnya dia melihat dengan senyuman, tapi senyuman seketika hilang begitu saja.
“Ich habe lange gebraucht, um zu lernen, dich zu vergessen, obwohl ich weit gehen musste (aku membutuhkan waktu yang panjang untuk belajar melupakanmu, meski aku harus pergi jauh).” Gumam james.
***
Kicauan burung sudah mulai terdengar, dan itu menandakan bahwa hari sudah mulai pagi. Sementara sofia baru saja menyelesaikan novel kevin hingga tamat. “Hah... waktunya tidur!!” gumam sofia yang sudah menguap karena lelah. Sofia menutup laptopnya dan melompat ke atas tempat tidurnya. Perlahan mata sofia menutup, sampai suara ibunya memanggil untuk sarapan. “Sofia..... cepat bangun dan sarapan.” Teriak ibunya keras, membuat telinga sofia terganggu.
“Haish... ibu mengganggu tidurku saja, aku jadi tidak bisa tidur lagi.” Gerutu sofia langsung turun ikut sarapan. Kini sofia dan kedua orang tuannya sedang sibuk sarapan.
“Kau pulang jam berapa semalam?” tanya ibunya.
“12.”
“Kau dari mana saja sampai pulang jam 12 malam? dengar.. kau masih gadis jadi jangan pulang malam-malam lagi, jika terjadi sesuatu bagaimana?” kena omel sang ibu.
“Iya, iya... lagipula semalam aku dirumah sakit! karena kevin sudah memulai oprasinya.”
“Benarkah? bagaimana keadaannya sekarang?” tanya ayahnya.
“Oprasinya berjalan lancar, dan penyakitnya juga mungkin sudah hilang!”
Mereka melanjutkan sarapannya, setelah selesai sarapan, sofia sesekali keluar dan berbincang bersama para tetangganya dan teman rumahnya juga. Sudah dua jam sofia berada di luar rumah, dia pamit kembali ke kamarnya dan membersihkan tas kecil berwarna hitam miliknya. Saat semua barang di keluarkan dari dalam tas, sofia meraih benda berbentuk lingkaran kecil yang masih terbungkus plastik, tiba-tiba saja senyuman terukir. Senyuman sofia hilang saat ponselnya berdering.
“Ada apa kak naina? apa terjadi sesuatu pada kevin?”
“Tidak, dia sudah sadar! kau tidak ingin kemari?”
“Syukurlah! aku akan datang!”
Sofia segera pergi mandi dan bersiap-siap ke rumah sakit. Sebelum pergi, sofia berpamitan ke ibunya, sedangkan ayahnya sudah pergi bekerja. Mengetahui anaknya akan mengunjungi kevin, ibunya sofia juga ingin ikut menjenguk calon mantunya. Akhirnya sofia dan ibunya pergi bersama menuju rumah sakit dengan menaiki angkutan umum seperti biasa.
***
Lumayan lama menempuh jarak rumah menuju rumah sakit, kini sofia dan ibunya sudah sampai ke rumah sakit. Sofia dan ibunya segera berjalan menuju ruangan kevin saat ini di rawat. Sofia tahu ruangan kevin karena melihat adanya Naina yang tengah ada di luar sedang menelfon seseorang, dengan segera sofia dan ibunya menghampiri naina.
“Didalam, masuklah!” ucap naina yang memberitahu sofia dan ibunya untuk masuk.
Sofia beserta ibunya masuk, saat sudah berada di dalam, mereka melihat kevin dan ibunya yang saling tatap dengan senyuman di wajah ibunya. Melihat kedatangan sofia, kevin dan ibunya melihat ke arah sofia. “Sofia! kau sudah datang!” ucap ibu kevin. Ibunya sofia menghampiri kevin dan mengusap atas kepalanya. “Setelah ini, sehatlah selalu!” ucap ibunya sofia. Kevin tersenyum dan bilang terima kasih. Lalu matanya tertuju ke arah sofia yang masih berdiri diam.
“Aku ingin bicara berdua dengan sofia!” Ucapan kevin membuat kedua ibu itu mengerti. Mereka meninggalkan sofia dan kevin di sana, karena sepertinya ada hal penting yang kevin ingin katakan kepada sofia. Melihat kedua ibu itu sudah pergi, sofia duduk di kursi samping kevin dan tersenyum memegang tangan kevin.
“Sudah tidak sakit?” tanya sofia masih tersenyum.
“Tidak!”
“Ada yang ingin aku katakan padamu.” Lanjut kevin yang masih dengan wajah pucatnya.
“Katakan saja!”
“Apa kau mencintaiku?”
Pertanyaan kevin membuat senyuman sofia hilang dan menjadi keterkejutan. Dengan dantai dan tanpa kecurigaan, sofia menjawabnya dengan senyuman.
“Iya! aku mencintaimu.”
Tatapan kevin seolah tidak percaya dengan ucapan dan hati sofia saat ini.
“Jawablah dengan jujur, apa kau mencintaiku?” kevin menanyakan hal yang sama, dan kali ini senyuman benar-benar holang dari wajah sofia, sofia hanya menundukkan kepalannya saja dengan menahan air mata yang ingin keluar.
“Aku sudah tahu. Kau tidak mencintaiku, karena kau masih mencintai james.” Sekali lagi sofia di buat terkejut dengan perkataan kevin yang selama ini dia tidak ketahui.
“Aku juga tahu soal hubungan kalian, yang kau tutupi dariku selama ini.” Lanjutnya lagi.
“Bagaimana kau tahu?” tanya sofia penasaran.