MEMORY [INGATAN]

MEMORY [INGATAN]
KEMANISAN KEVIN.


Karena merasa sangat lelah, sofia bangun sampai sore hari, saat ia terbangun tubuhnya begitu lelah sekali. Sofia yang sudah bangun segera menuju kamar mandi, agar tubuhnya menjadi segar, setelah mandi, sofia mendengar suara canda tawa dibawah, karena penasaran dia segera turun kebawah. Betapa terkejutnya sofia melihat kevin tengah duduk santai dengan ibu dan kakaknya.


“Lihat putri tidur sudah bangun.” Kata ibunya, sofia masih terdiam dengan tatapan kesalnya melihat kevin. Sedangkan kevin tang mendapat tatapan itu, dia hanya membalas dengan senyuman liciknya, perlahan sofia ikut duduk di sofa.


“Ibu senang kau mempunyai teman pria sepertinya! kevin bilang kalian begitu dekat sekali!” ucap ibunya.


“Dekat! iya dekat, karena aku ingin meremasnya!” balas sofia membuat ibu dan kakaknya ngeri dengarnya.


“Lihat kan, dia selalu menggodaku dengan ucapan seperti itu! lucu sekali bukan! hahaha .... !” ucap kevin yang semakin membuat sofia geram.


“Permisi sebentar!” ucap sofia menarik tangan kevin dan mengajaknya keluar. Kevin masih dengan senyumannya, sedangkan ibu dan kakak sofia merasa senang karena melihat sofia dekat dengan seorang pria.


“Kenapa kau datang ke rumahku tanpa diundang ha.. ?” tanya sofia.


“Aku hanya ingin kenal saja dengan keluargamu, apa mereka sama jahatnya sepertimu atau tidak! dan ternyata mereka lebih menyenangkan dari pada kau!” jawab kevin.


“Sudah, aku tidak ingin bertengkar denganmu, jadi pergilah oke!” pinta sofia sambil menyatukan kedua telapak tangannya lalu pergi masuk ke dalam. Tiba-tiba tangan kevin meraih tangan sofia dan membuat langkah sofia terhenti, sofia membalikkan tubuhnya dan melihat senyuman kevin yang kini sudah menghilang.


“Kenapa kau selalu marah padaku! apa kau sangat tidak suka denganku?” tanya kevin datar. Sofia melepas tangan kevin yang masih memegang tangannya.


“Iya! karena kau pria sombong dan arogan! pokoknya aku tidak sifat dan perilaku mu itu!” jawab sofia jujur.


“Kalau aku berubah, apa kau akan bicara manis denganku?” tanya kevin membuat sofia terdiam tidak bisa menjawab.


Akhirnya sofia memilih masuk ke dalam rumah, karena sebuah perasaan aneh muncul tiba-tiba, sedangkan kevin masih terdiam melihat sofia masuk. Tidak lama kevin masuk ke mobil dan pergi, sofia yang sudah masuk ke rumah tanpa kevin, membuat banyak pertanyaan muncul di mulut ibu dan kakaknya.


“Dimana kevin?” tanya kakaknya.


“Dia sibuk!” jawab singkat sofia yang kembali duduk di sofa.


“Apa benar dia ceo dari perusahaan novel mu?” tanya ibunya.


“Iya!” jawaban singkat lagi.


“Sudahlah lupakan dia! bagaimana oleh-olehku dari jerman? apa bagus?” tanya sofia. Keluarganya sangat suka dengan pemberian sofia dari jerman juga merasa puas, sama seperti putri dan kevin, kakaknya melihat kalung yang di pakai sofia.


“Kau beli kalaung di sana? coba kakak lihat!” ucap kakaknya yang kini melihat dan memegang kepala singa yang ada di kalung sofia. Karena ibunya masuk ke dalam kamar, sofia memilih cerita saja kepada kakaknya soal james.


“Ini pemberian!” ucap sofia, seketika kakaknya melirik ke arah sofia.


“Dari siapa?” tanya kakaknya.


“James, pria yang menjadi pemandu ku saat berwisata di jerman!” jawab sofia tersenyum.


“Wah.. bagaimana orangnya?” kakaknya semakin penasaran.


“Em.. dia pria baik, tampan, sederhana juga mandiri!” jelas sofia dengan senyuman lebarnya.


“Kau menyukainya?” tanya kakaknya tiba-tiba membuat sofia malu.


“Tidak!” jawab sofia, lalu pamit ke dalam kamar sebelum kakaknya tanya yang macam-macam.


***


“Apa kabar?” sapa naina lewat telfon.


“Baik! ada apa kakak menelfonku?” tanya balik sofia.


“Ikutlah makan malam di rumah kami! aku memaksa!” pinta naina.


Karena naina sudah bilang memaksa, maka sofia tidak bisa menolaknya meski itu bertentangan dengan keinginannya. Malam tiba, sperti ajakan kakak naina, sofia datang di rumah kediaman keluarga xiang men, saat masuk ibu kevin sangat ramah menyambut kedatangan nya.


“Bagaimana liburanmu di jerman?” tanya ibu kevin yang tengah makan malam.


“Menyenangkan! tapi selalu saja ada orang yang menyebalkan, orang itu selalu mengganggu liburanku!” jawab sofia, seketika wajah ibunya kevin sedih.


“Omo.. benarkah! siapa dia?” tanya ibunya.


“Tidak usah di bahas, dia sungguh menyebalkan! em.. maaf.” Icap sofia melirik kevin. Sofia mengerutkan dahinya, dia dari tadi melihat kevin hanya diam dan menghiraukan ucapannya, padahal orang menyebalkan yang di maksud sofia itu kevin.


“Tumben kau diam?” tanya kakak naina menyenggol kevin yang sedang makan di sampingnya.


“Saat makan tidak boleh bicara!” jawab kevin.


Kakak naina dan ibunya heran tidak percaya dengan ucapan kevin barusan. Selesai makan kevin ingin bicara berdua dengan sofia di kamarnya, sofia hanya menurut karena dia juga ingin tahu sebab kediaman kevin.


“Maafkan semua kesalahan ku padamu! tentang ucapanku yang kasar dan semuanya!” ucap kevin membuat sofia melongo.


“Kau sakit?” tanya sofia memegang dahi kevin yang tidak terasa panas.


“Mulai sekarang aku akan menghilangkan kesombonganku!” lanjut kevin.


“Tumben sekali kau bersikap manis!” ejek sofia.


“Aku hanya ingin mengubah diriku saja! kita awali dengan pertemanan!” ucap kevin mengulurkan tangannya. Sofia memandang ke arah tangan kevin yang menunggu sofia meraihnya, akhirnya sofia meraihnya juga.


“Baiklah! aku menerima pertemanan mu, meski sedikit ragu, tapi tidak masalah!” ucap sofia tersenyum. Akhirnya sofia pamit pulang setelah makan malam selesai dan perbincangannya dengan kevin juga sudah selesai, tapi dia masih heran dengan perubahan kevin. “Apa karena ucapanku? tapi kenapa dia mendengarkan ucapanku?” batin sofia bingung. Saat dalam perjalanan pulang, sofia melihat putri tengah membeli sesuatu di pinggir jalan, sofia menyuruh sopir grab berhenti, lalu dia turun menghampiri putri.


“Hey.. !” kaget sofia dari belakang.


“As... salalalala..!” putri kaget lalu melihat ke sofia dan menepuk lengan sofia.


“Ha.. kau ini mengagetkan saja! eh.. bagaiman kau tahu aku disini?” tanya putri.


“Aku melihatmu! tapi kenapa waktu itu kau meninggalkanku ha.. ?” tanya sofia kesal.


“Maafkan aku, ayo kita ke cafe sana!” ajak putri mencari alasan, tapi sofia setuju dengan ajakan temannya. Kini mereka berdua sudah duduk di cafe yang di maksud putri tadi, mereka mulai berbincang sesuatu, melihat putri yang terlihat senang memakan jajanan luar, sofia berpikir dia sudah melupakan jigs.


“Kau terlihat senang! apa kau sudah move on dari jigs?” tanya sofia.


“Tentu saja belum! aku mencoba bahagia walau tanpa dirinya!!” jawab putri kembali cemberut.


“Dan kau, apa kau suka dengannya! bagaimana dia menurutmu?” tanya putri. Tanpa berpikir siapa yang dimaksud putri, sofia langsung menjawabnya dengan ketus dan penuh semangat, juga merasa senang.