![MEMORY [INGATAN]](https://asset.asean.biz.id/memory--ingatan-.webp)
“Ibu menyiapkan sarapan untukmu! makanlah dulu, setelah itu kita bisa pulang.” Pinta ibunya kevin. Kevin tersenyum menerima makanan yang di berikan oleh ibunya, dengan sangat lahap kevin memakan lauk pauk yang begitu banyak, sementara ibunya sangat senang melihat kevin seperti orang yang sudah sehat dari penyakitnya.
“Kevin... ” panggil ibunya lembut. Kevin menoleh ke arah ibunya. “Apa?” jawab kevin.
“Apa kau suka dengan sofia?” tanya ibunya. Kevin tersenyum malu melihat ke arah ibunya. ibunya tahu bahwa putranya saat ini sedang jatuh cinta dengan seorang wanita, tapi dia juga takut jika kevin tidak akan bisa hidup bahagia seperti yang lain, tidak bisa menikmati masa depan dan jatuh cinta. Melihat ibunya melamun, tangan kevin memegang tangan ibunya hingga tersadar dari lamunan.
“Apa yang ibu pikirkan?” tanya kevin.
“Tidak ada, ibu takut kalau kita tidak bisa menemukan donor jantung untukmu.” Sambil memegang pipi kevin dengan tatapan sedih. Kevin meraih tangan ibunya dan menaruhnya di depan dadanya sambil tersenyum.
“Ibu bisa merasakannya? aku akan baik-baik saja ibu! aku putramu yang kuat bukan! jadi jangan khawatir. Jangan membuatku sedih karena melihat ibu menangis.” Jelas kevin menenangkan ibunya. Mendengar ucapan dari kevin, kini ibunya semakin membaik.
***
Perlahan sofia membuka matanya, terbangun dari tidurnya, rasanya lebih baik menutup mata dari pada membuka mata dan kembali dari dunia nyata. Putri yang baru saja masuk ke kamarnya dengan membawa makanan, seketika melihat temannya sudah bangun dengan masih terdiam.
“Kau sudah bangun! ini makanlah sarapanmu dulu.” Pinta putri menyerahkan makanan yang sudah di buatkan oleh ibunya. Meski suasana hatinya sedih, tapi sofia tidak inginembuang sia-sia masakan ibunya putri. Beberapa menit kemudian, sofia sudah menghabiskan sarapannya dan kembali berdiam diri.
“Sof... sudahlah lupakan saja dia, bukankah kau sudah memilih kevin. Jadi cobalah untuk membuka hati untuknya.” Saran putri.
“Aku akan berusaha. Aku tidak tahu, apa keputusan ku ini benar atau salah.” Balas sofia.
“Kau sudah membuat keputusankan, jadi jalanilah keputusan itu.” Ucap putri.
***
Mendengar saran putri, sofia menyadarinya bahwa ini semua adalah keputusannya jadi tidak ada artinya jika dia merasa sedih. Tiga hari sofia tidak pulang ke rumahnya sendiri, dan tiga hari itu juga, sofia berusaha mendekatkan dirinya bersama kevin dan berusaha membuka hatinya lagi.
“Minumlah!” Pinta sofia memberikan obat kepada kevin. Kevin tersenyum dan meminum obatnya dengan teratur.
“Jangan menyuruhku tidur, aku masih belum mengantuk.” Ucap kevin. “Baiklah, tapi jangan sampai kelelahan lagi.” Tegas sofia dengan tawa. Setelah itu mereka sama-sama berdiam diri dan memikirkan sesuatu yang berbeda. Sampai kevin membuka pembicaraan lagi.
“Kau selalu mendekatiku, apa karena penyakitku yang membuatmu kasihan melihatku?” tanya kevin datar.
“Bukan seperti itu. Aku sudah memutuskan.... untuk berusaha mencintaimu.” Jawab sofia dengan tertunduk dan menahan air matanya. Kevin tidak bisa menahan kebahagiaan nya saat ini, lalu dia melihat sofia tengah menunduk seperti sedih.
“Kau menangis?” tanya kevin. Seketika sofia mendongak dengan senyumannya. “Tidak!” jawab sofia berbohong. Lalu kevin pamit sebentar ke toilet, melihat kevin sudah pergi ke toilet, sofia melihat cincin yang masih ia kenakan. Lama memandanginya dengan air mata, sofia melepaskan cincin tersebut dan memasukan nya kedalam tas miliknya. Kini dia hanya memakai kalung pemberian dari james.
Beberapa jam kemudian, sofia pamit pulang kepada kevin, naina dan ibunya juga. Seketika naina tersenyum lebar ke arah adiknya. “Kenapa kakak melihatku seperti itu?” tanya kevin risih sendiri. “Omo... ! omo... ! omo... ! lihat wajah adikmu.. ” Goda ibunya yang ikut-ikutan. Kevin memilih pergi saja dari pada menahan malu.
***
Jigs dan james berdiam diri, duduk di sebuah cafe. “Kau menyerah? kau mencintainya?... Aku tahu kau masih mencintainya.” Ucap jigs.
James masih melihat ke arah meja.
“Sie glauben an Ihre Entscheidung, denken Sie sorgfältig nach, bevor es zu spät ist (kau yakin dengan keputusanmu, pikirkan baik-baik sebelum terlambat).” Saran jigs pada temannya.
“Ich bin sicher, ich bin sicher, Sofia kann ihn auch lieben (aku yakin, aku yakin sofia bisa mencintainya juga).”
James menutup matanya, dia merasa takdir selalu melukainya, dengan awalan ibu dan ayahnya yang sudah meninggalkannya, hingga membuatnya menjadi pekerja keras dan mandiri sejak remaja. Dan sekarang cintanya juga akan hilang demi pengorbanan nya untuk orang yang bahkan ia tidak begitu menyukainya.
***
Di kediaman xiang men, ibu kevin menelfon suaminya yang masih bekerja di kantor. “Cepatlah pulang, ada yang ingin aku katakan padamu!” pinta istrinya.
“Apa?”
“Sudah pulang saja dulu!” Lalu mematikan panggilan mereka. Beberapa jam kemudia, ayah kevin pulang dengan cepat karena sudah mendapat perintah dari sang istri, kini mereka ada di dalam kamarnya.
“Apa yang ingin kau katakan?” tanya ayahnya.
“Aku sudah membuat keputusan untuk menikahkan kevin dan sofia, bagaimana?”
“Itu bagus sekali, aku setuju dengan pikiranmu sayangku!” goda sang suami.
“Kalau begitu besok kita pergi ke rumah sofia untuk melamarnya, tapi jangan bilang dulu kepada kevin, biarkan ini menjadi kejutannya!”
“Baiklah, baiklah!”
***
Ini terakhir untuk sofia tinggal di rumah putri dan kembali ke rumahnya sendiri, untuk memberitahu soal pernikahannya yang batal dengan james. Esoknya hari minggu pukul 13:00 siang, keluarga kevin datang ke rumah sofia tanpa kevin. Awalnya keluarga sofia tidak ada yang mengenalnya, hingga mereka menyuruhnya masuk dan berbincang di dalam. Saat berada di dalam mereka saling memperkenalkan nama masing-masing.
“Kalian siapa?” tanya ibunya sofia.
“Kami keluarganya kevin!” jawab ibunya kevin ramah.
“Ooo... kevin ceo dari perusahaan novel itu?” tanya balik ibu sofia.
“Iya!”
“Kalau boleh tahu, mengapa kalian datang ramai-ramai kemari?”
“Em.. iya! langsung saja, selama ini saya melihat kedekatan kevin dan sofia yang sangat dekat, dan kami berpikir untuk mempererat hubungan mereka dan hubungan keluarga kita!” Jelas ibu kevin.
“Maksudnya?” tanya dinda yang sudah curiga.
“Saya ingin menikahkan putraku kevin dengan putri kalian sofia! dan saya yakin mereka akan sama-sama bahagia dengan keputusan ini! karena saya sudah melihat kebahagiaan di mata mereka!”
Seketika keluarganya sofia terkejut mendengar lamaran itu, keluarga sofia tahu bahwa sofia sudah memiliki calon dan pria yang di cintainya, juga akan segera menikah. Ibunya menoleh ke arah dinda dengan tatapan yang kebingungan.
“Bagini, bukannya kami menolak, tapi..” Balas ibunya sofia yang membuat keluarga kevin penasaran dan hilang hilang senyuman.
“Tapi.. sofia sudah—” Belum sempat bicara sofia sudah ada di pintu dan membuka suaranya.
“Aku menerimanya bibi!” jawab sofia tersenyum mengagetkan mereka semua.