MEMORY [INGATAN]

MEMORY [INGATAN]
PERTEMUAN YANG KEDUA.


Sofia yang sudah puas melihat pria itu, dia memutuskan untuk segera pergi dari sana, sebelum mereka melihatnya.


“Aku tidak percaya dia sangat payah!!” ejek Sofia tertawa puas.


“Tapi dia tampan ya?” ucap Putri.


“Iya, karena ketampanannya dia bisa menutupi kepayahannya itu!!” ejek Sofia lagi.


Lalu Sofia melihat brosur milik perusahaanya, Sofia menghampiri brosur itu dan mengambilnya, karena itu milik perusahaannya, dia tak malas untuk mengambilnya. Saat melihatnya Sofia terkejut dengan gambar seseorang yang ada di sana.


“Apa! Dia.., dia anak pemilik perusahaan novel!” ucap bersamaan Putri dan Sofia, ternyata dia adalah pria yang tadi berdebat dengannya. Kedua wanita itu saling tatap.


“Habislah kau!” ejek Putri.


“Kenapa, aku penulis terkenal! Jadi aku tidak usah takut ataupun cemas!” balas Sofia santai, lalu melanjutkan jalannya.


***


Sesampainya di rumah, Sofia merasa sangat capek sekali, dia teringat dengan pria tadi, karena penasaran Sofia mencoba menghubungi Pak Rangga. Kenapa kesialan selalu datang di akhir cerita? Hffuuu.


[“Ada apa Sofia?”] tanya Pak Rangga.


[“Itu Pak, apa benar anak pemilik perusahaan novel itu yang ada di brosur?”] tanya Sofia.


[“Iya, dia anak kedua setelah kakak perempuannya! Memangnya kenapa?”] tanya Pak Rangga.


[“Tidak apa Pak.”] Jawab Sofia.


[“Besok datanglah ke perusahaan, seseorang ingin menanyakan novel laris mu itu!”] pinta Pak Rangga.


[“siap Pak!”] ucap Sofia, lalu menutup telfonnya.


***


Esoknya Sofia sudah berada di perusahaan novel, dia sudah menunggu di ruangan Pak Rangga.


“Pak kapan orangnya datang?” tanya Sofia yang mulai bosan.


“Sebentar lagi!” jawab Pak Rangga.


Benar juga, Sofia mendapat panggilan untuk segera datang di ruangan CEO, dengan segera Sofia berjalan menuju ruangan tersebut. TOK, TOK, TOK. Suara ketukan pintu.


“Masuk!” pinta seseorang yang ada di dalam, Sofia membuka pintunya dan masuk kedalam, pemimpin itu masih duduk dengan menghadap ke arah jendela. “Saya Sofia, penulis yang bapak ingin temui!” ucap Sofia lebih dulu. Pemimpin itu memutar kursinya, dan seketika, Sofia membulatkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Benar-benar tepat dugaan.


“Wah... Tidak ku sangka kau penulis terkenal itu!” ucap pemimpin itu, yang ternyata musuh Sofia saat di mall.


“Em .. Iya! Aku penulis terkenal itu! Dan anda?” tanya Sofia dengan senyuman terpaksanya, seolah tidak tahu apa-apa.


“Aku menggantikan posisi ayahku! Namaku Kevin Xiamen!” ucap pria bernama Kevin itu.


***


“Duduk lah, jangan terkejut.” Pinta Kevin menyuruh Sofia duduk. Sofia duduk di sofa dengan jantung yang dag, dig dug, karena Kevin menghampiri Sofia dan duduk di hadapan Sofia.


“Senang bertemu denganmu lagi!” ucapnya.


“Saya rasa, saya tidak mengenal bapak!” jawab Sofia gugup.


“Bapak! Bapakmu ta .. ! Paanggil namaku!” pintanya, Sofia pura-pura tidak kenal dengan Kevin.


“Dan jangan pura-pura tidak mengenalku!” lanjutnya.


“Iya! Saya di beritahu kalau anda ingin bertemu saya?” tanya Sofia.


“O, iya, tentang novel terlaris mu itu, menurutku sangat wah.. ! Aku ingin kau menuliskan novel khusus untukku! Jika mau, maka akan ku tambah gaji mu!” ucap Kevin.


“Di tambah gaji, itu bisa buat penambahan tabunganku, lagipula menjadi penulis terkenal bayarannya masih tidak cukup untuk kebutuhan keluargaku dan hutang-hutangnya!” batin Sofia.


“Terima saja keluargamu butuh uang banyak, orang sederhana sepertimu pasti butuh uang banyak!” ucap Kevin sangat menghina. Sofia tidak tahan dengan ucapannya yang sudah membawa-bawa keluarganya, setelah mendengar itu, Sofia yang tadinya tertunduk, kini dia tegak dan melihat ke arah Kevin, juga tangannya yang ia taruh di sandaran sofa yang ia duduki.


“Iya, aku butuh uang! Jadi aku terima tawaranmu! Juga aku mengenal siapa dirimu, kau pria payah yang percaya akan ucapanku!” ketus Sofia sedikit menahan tawa, tapi yang masih duduk seperti preman.


“Baiklah!” ucap Kevin terseringai, menahan amarahnya dengan ejekan Sofia.


“Baik!” balas Sofia.


BRAKKK.


Kevin menggebrak meja dan masih merasa kesal dengan perilaku Sofia padanya saat di mall. Seketika Sofia yang mendengar dobrakan meja itu, dia kembali tertunduk dengan tangan yang di taruh di pahanya.


“Babo! Kata-kata itu membuatku murka! Karena ucapan itu hubunganku dan wanita yang ingin aku dekati menjadi goyah!” ucap kesal Kevin.


“Kau sendiri yang percaya!” gumam pelan Sofia tapi didengar Kevin.


“Aku bisa saja membalasnya! Tapi aku tahu kau wanita yang lemah dan payah!” ejek Kevin membuat Sofia marah.


“Payah? Kau mau baku hantam denganku ha.. ?” sentak Sofia tidak terima di ejek payah.


“Benarkah, kalau begitu pukul sekarang!” pinta Kevin, Sofia bertambah murka dengan ucapannya yang sombong itu.


“Baik! Aku akan memukul wajah sombong mu itu!” ucap Sofia berdiri dan melayangkan tangannya, siap untuk memukul wajah Kevin, tapi tangannya di tangkap oleh tangan besar Kevin, senyuman terukir di wajah Kevin.


“Haish.. Lepas! Aku bilang lepaskan akuhh.” Sentak Sofia berusaha melepas tangannya.


Saat Kevin melepas tangannya Sofia hampir terjatuh ke belakang, tapi Kevin menarik kembali tangannya dan membuat mereka dekat. Sofia melihat wajah Kevin yang begitu dekat dengannya, wajah yang tampan menurut Sofia, lalu Sofia menggerakan kepalanya ke kanan dan kiri, tidak sadar bahwa topinya mengenai wajah Kevin. Dengan cepat Kevin mendorong wanita itu menjauh, lalu memegang pipi serta hidung mancungnya yang terkena topi Sofia.


“Kau tidak bisa melepas topi mu itu, disini perusahaan!” ucap kevin kesal.


“Tidak bisa! Jika aku melepasnya kau akan terpesona olehku!” ejek Sofia.


“Bangunlah dasar pemimpi!” balas Kevin geli melihat Sofia.


“Jika sudah aku akan pergi, malas berlama-lama dengan mu!” ucap Sofia, lalu pamit pergi.


“Beraninya dia pergi begitu saja! Haish ... rasanya masih sakit!” gumam Kevin kesal.


***


Di perjalanan keluar perusahaan, Sofia mengoceh tidak karuan karena rasa kesalnya pada Kevin, kini dia harus menulis novel khusus untuknya. “Jika bukan karena uang aku tidak akan mau!” gumam Sofia, dia tidak tahu, sulitnya menulis novel apalagi diwaktu kepala kosong.


***


“Apa kau masih marah denganku?” tanya Kevin ke Laura wanita yang ingin dia dekati juga wanita yang berdebat dengan Sofia waktu di mall.


“Tentu saja tidak, aku tidak bisa marah denganmu!” jawab Laura tersenyum.


“Kau ada di mana?” tanya Kevin.


“Aku sedang ada di salon, kenapa? Kau ingin bersenang-senang denganku?” tanya Laura.


“Tidak, lanjutkan saja!” ucap Kevin lalu mematikan telfonnya.


Ingatan Kevin kembali ke Sofia, lagi-lagi dia dibuat kesal dengan teringat kembali tentang nya.


“Wanita itu membuatku geram saja! Tunggu.., apa dia tahu genre novel yang aku sukai? Sudahlah dia kan wanita cerdas! Menurutnya!” ucap nya sendiri. Lalu melanjutkan kerjanya.


.................


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENT🤗🤗


TERIMA KASIH.🙏