MEMORY [INGATAN]

MEMORY [INGATAN]
HARI YANG MENYEDIHKAN.


Di rumah. Sofia masih setia melihat laptopnya, dia bingung harus menulis novel apa untuk pria menyebalkan itu.


“Aku menulis apa ya? Aku lupa bilang genre apa yang dia sukai?” ucap Sofia memegang kepalanya hingga mengacak-acak rambutnya sendiri.


“Ha.. Ini semua gara-gara amarahku kepadanya!” ucapan kesal dari Sofia.


Sofia merasa stress di rumah memikirkan cerita baru, dia akhirnya menelfon Putri dan mengajaknya keluar entah kemana, karena mungkin saja dia bisa mendapat ide baru buat novelnya.


“Putri ayo ikut aku.” Ajak Sofia.


“Kemana?” tanya Putri.


“Sudah, kita ketemuan dulu saja ya.. ” Jawab Sofia.


“Baiklah!” ucap Putri, sofia langsung menutup telfonnya. Sofia segera bersiap-siap, seperti biasa dia suka memakai topi. Tidak ada alasan juga Putri menolak temannya itu, karena ia suka sekali pergi keluar.


***


Beberapa jam telah lama menunggu, kini Putri sudah datang, bersamaan dengan grab yang dia pesan. Ya! Datangnya begitu lama karena dandan yang begitu membuat wanita itu cantik.


“Kita mau kemana?” tanya Putri masih penasaran. Kini mereka sudah ada di dalam mobil.


“Kita akan di cafe! Tapi bukan cafe biasa! Itu cafe yang mewah!” jawab Sofia tersenyum.


“Baiklah! Yang penting di sana tenang!” ucap Putri.


***


Sofia sudah sampai di tempat yang ia maksud, tidak mau berlama-lama, Sofia segera mengajak putri masuk kedalam dan duduk di sana.


“Mas!” panggil Putri kepada pelayan di sana.


“Iya, mau pesan apa?” tanya pelayan yang kini sudah ada di samping Putri dan Sofia duduk.


“Saya mau pesan Americano, dan jamur crispy!” jawab Putri.


“Apa ada Strawberry Milk Shake?” tanya Sofia.


“Ada mbak!” jawab pelayan tersenyum.


“Saya pesan itu, dan kentang goreng aja!” lanjut Sofia balas tersenyum. Pelayan itu pergi dan segera membuat pesanannya.


“Kenapa kau tiba-tiba mengajakku kemari?” tanya Putri.


“hah... Kau tahu pria yang babo itu! Dia sekarang menggantikan posisi ayahnya di perusahaan novel, dan dia menyuruhku untuk membuat novel khusus untuknya. Aku rasa dia balas dendam.” Jelas Sofia kesal.


“Ooo.. jadi apa yang akan kau tulis?” tanya putri lagi.


“Aku tidak tahu!” jawab Sofia masih malas.


Mata Putri tertuju kepada tiga wanita yang sedang asik duduk, mengobrol di kursi yang sedikit jauh dari tempat mereka, juga salah satu wanita itu yang ada di mall.


“Sof! Lihat! Bukankah dia wanita sombong yang ada di mall?” ucap Putri, Sofia menoleh ke arah yang dimaksud Putri. Seketika Sofia ingat dengan wanita itu, bukankah dia Laura yang di maksud Kevin, Sofia tersenyum licik melihatnya.


“Aku sudah mendapat ide!!” gumamnya yang masih melihat ke arah Laura.


“Aww ...” Pekik Sofia kepanasan.


“Kau lagi!” ucap Laura, lalu melirik kearah lengan Sofia yang terkena kuah panasnya dan senyuman terukir di wajahnya.


“Ups ... Itu pantas untuk membayar pakaian mahal ku yang terkena noda murahan mu itu!!” ucap Laura membuat Sofia murka.


“Benarkah! Kalau begitu.. ” Sofia mengambil minuman yang ada di meja Laura, lalu dia menyiramnya mulai dari atas kepala Laura. Kedua teman Laura dan juga Putri, melihat Sofia menuangkan minuman seperti itu, membuat mereka semua terkejut, juga para pengunjung yang ada di sana.


“Aku tidak suka kekalahan! Jadi... Ups, maaf!” ucap Sofia membuang gelas yang ia pegang.


Dari belakang seseorang menyiram Sofia sama dengan apa yang Sofia lakukan kepada Laura, dengan cepat Sofia menoleh ke belakang dan Laura tersenyum licik melihat nya seolah-olah dia sangat puas.


“Siapa kau berani melakukan hal itu kepada wanitaku?” tanya Kevin kepada Sofia. Ternyata Kevin yang melakukan hal seperti itu kepada Sofia, sedangkan sofia bertambah murka.


“Haish... Datang lagi orang menyebalkan yang kedua!!” batin Sofia kesal melihatnya.


“Kalau dia wanita mu jaga sikapnya, jika tidak aku bisa saja menghabisinya!” ucap Sofia.


“Memangnya kau berani dengannya?” kata Laura seolah menantang.


“Kau pikir aku penakut, kebanyakan wanita kaya sepertimu itu sangat penakut, mereka bisa menyelesaikan masalahnya dengan uang! Benar bukan!” ucap Sofia, Laura marah dengan ucapan Sofia.


“Hentikan! Dan kau kenapa kemari! Tempat mewah seperti ini tidak pantas didatangi orang sepertimu!” ejek Kevin.


“Iya, dia pasti tidak pernah memakan makanan ini!” sambung Laura dengan menunjuk makanan milik temannya. Sofia melihat makanan itu dengan senyuman.


“Omo.. Kau benar, aku tidak pernah memakannya, kucingku juga tidak pernah! Tidak masalah aku akan membawakan makanan itu untuk kucingku.” Balas Sofia. Sofia mengambil tisu dan meletakan setengah makanan mewah milik temannya Laura di tisu itu, sedangkan Laura dan Kevin melihat nya aneh. Laura bertambah kesal dengan sikap Sofia, dengan segera dia melepas topi yang di kenakan Sofia dan membuangnya jauh-jauh.


“Pergilah, kau merusak suasana ku dasar wanita murahan.” Ucap Laura, Sofia terdiam, lalu tangannya meraih pakaian Laura dan dengan tenaga Sofia, tangan sofia merobek pakaiannya. Laura terkejut melihat pakaiannya sobek, pakaian kesukaannya, sedangkan Sofia berdiri dan melihat ke arah Laura.


“Temanku sendiri saja tidak berani membuka topiku, apalagi kau!” ucap Sofia, Laura menjambak rambut Sofia, dengan cepat Sofia melepasnya dan menampar pipi Laura dengan sangat keras. Putri dan teman-teman Laura juga Kevin terkejut melihatnya, Laura memegang pipinya yang terasa perih, Kevin yang melihatnya tidak terima, saat Sofia berjalan menuju tempatnya, tangan Kevin meraih pundak Sofia, karena masih dipenuhi amarah, Sofia menampar wajah Kevin dengan kakinya. Seketika Kevin pingsan dan tergeletak di lantai.


“Aku Sofia, dan aku tidak mudah ditindas!” ucap Sofia lalu mengajak Putri pergi dari situ.


***


Sofia merasa kesal hari ini, kenapa harus bertemu dengan dua orang sejoli itu, bukannya memikirkan novel barunya, dia malah terganggu amarahnya. Jam sudah menunjukan pukul 11:00 malam, Kevin baru saja sadar dari pingsannya, saat membuka mata kini dia sudah berada di kamarnya sendiri.


“Kau sudah bangun?” tanya seorang wanita yang setia menunggunya terbangun dari pingsannya. Mata Kevin melihat sekeliling kamarnya, dia bingung bagaimana bisa dia berada di kamarnya bukannya di cafe, Kevin menoleh ke arah suara tadi.


“Kakak! Kenapa aku bisa di sini?” tanya Kevin kepada kakak perempuannya.


“Kau tadi pingsan, lalu Julio dan Leo membawamu pulang.” Jawab kakaknya.


Naina tertawa kecil melihat adiknya pingsan hanya karena terkena pukul sedikit di pipinya.


“Lagian bagaimana kau bisa pingsan? Apa seseorang memukulmu? Apa dia sangat besar?” tanya Naina.


“Bukan pria!” jawab Kevin pelan.


“Lalu siapa?” tanya Naina penasaran.


“Seorang wanita!” jawab Kevin, seketika suara tawa lepas dari mulut Naina, kini Kevin dibuatnya malu dengan kejujurannya sendiri.