MEMORY [INGATAN]

MEMORY [INGATAN]
NYAMAN.


Sofia ingin tahu apa yang dikatakan oleh empat pria tadi.


“What did they say earlier (Apa yang mereka bilang tadi)?” tanya Sofia tersenyum kearah James.


“Em.. Mereka.. Tidak, tidak ada!” jawab James yang tidak ingin mengatakannya kepada Sofia.


“Ayolah, katakan saja!” ucap Sofia memaksa.


“Mereka bilang.. Kalau aku dan kau sedang berkencan, mereka hanya salah paham saja!” jelas James, Sofia pura-pura bersikap biasa saja, tapi di hatinya dia menjadi malu dengan mendengarnya.


“O... !” kata-kata yang keluar dari mulut Sofia.


Sofia mengembalikan kamera James dan kembali melihat ke arah pemandangan yang ada di depannya, begitu juga James, pemandangan yang begitu indah dan tenang, dengan ditambah hari yang mulai senja, awan yang berwarna orange, juga kicauan burung yang ingin kembali ke sarangnya. Diam-diam Sofia melirik ke arah James, dia terpesona dengan ketampanan pria di sampingnya, wajah yang begitu tenang sekali, juga senyuman manisnya. DERTT.. DERTT.. Ponsel Sofia berbunyi, membuatnya memudar semuanya, Sofia melihat ponselnya, seketika wajah masamnya terlihat jelas di wajah Sofia.


“Selalu saja menggangguku.” Gumam Sofia malas, James menoleh ke arah Sofia karena mendengar gerutunya.


“Siapa?” tanya James.


“Bukan siapa-siapa! Akuangkat telfon dulu!” ucap Sofia.


“Okay!” jawab James yang kembali menatap depan.


“Maaf anda salah sambung.” Jawab Sofia malas.


“Tidak apa, aku ingin bicara denganmu saja!” jawab Kevin yang tahu kalau itu suara Sofia, Sofia menutup matanya dan mulai pasrah.


“Kenapa kau menelfon ku? Tidak bisakah kau membiarkanku tenang dan bersantai dengan orang tampan?” tanya Sofia kesal.


“Tidak boleh! Memang setampan apa orang yang kau maksud?” tanya balik Kevin tidak terima. Sofia tersenyum melirik ke arah James yang tengah fokus melihat depan.


“Dia putih, wajahnya tenang, dan juga tampan, juga bibirnya sangat pink.... !” jelas Sofia belum habis bicara, Kevin langsung menyelatnya.


“Haisss.. Sudah hentikan! Pink, apa-apaan kau itu?” ucap Kevin, Sofia tertawa kecil.


“Kenapa memang dia seperti itu! Kenapa, kau cemburu?” ucap Sofia tersenyum mencoba menggoda Kevin.


“Jika iya, memang kenapa?” tanya Kevin memberanikan diri untuk mengucapnya. Seketika Sofia berdaham, terdiam dan senyumannya hilang setelah mendengar jawaban dari Kevin.


“Lupakan saja! Jangan menggangguku lagi.” Ucap Sofia yang awalnya ingin menggoda Kevin malah dia yang tergoda.


“Jangan lupa novelku!” ucap Kevin, Sofia langsung menutupnya dan memasukan ponselnya di tas miliknya.


“Pipimu memerah, apa kau kedinginan?” tanya James kepada Sofia. Sofia memegang pipinya sambil mengedipkan matanya berulang-ulang dan mencari alasan.


“Ooo.. em.. ya..! Dingin, aku kedinginan! Waah dingin sekali!” ucap Sofia tersenyum dengan gugupnya sambil melipat tangannya, James mengerutkan dahinya dan tersenyum tipis melihatnya.


“Ayo!” ajak James.


“Kemana?” tanya Sofia lupa.


“Ketempat selanjutnya!” jawab James, Sofia mengangguk.


Kini Sofia dan James akan pulang malam, karena dia berangkat ke tempat kedua saat matahari sudah terbenam. Di mobil, Sofia malah mengingat pertemuannya dengan Kevin, mungkin karena ucapan kevin tadi, membuatnya habis tidak percaya.


Mereka sudah lama menempuh perjalanan, setelah sampai ketempat tujuan, seperti biasa James memarkirkan mobilnya.


(UNTUK TEMPAT WISATANYA JANGA TERLALU DIPIKIRKAN YA! AKU CUMAN MEMBERIKAN TEMPAT YANG TERBAIK SAJA。⁠◕⁠‿⁠◕⁠。)


James kini mengajak Sofia di kota terkenal, yaitu Tubingen, sebuah kota universitas tradisional yang terletak di tepi Sungai Neckar dan Sungai Ammer. Tübingen adalah campuran antara dunia akademik yang tua dan terkemuka, termasuk politik liberal dan fraternitas gaya Jerman, dengan unsure-unsur pedesaan, pertanian yang khas swabia, Kota ini mempunyai banyak gedung yang indah yang berasal dari abad-abad yang lampau. James dan sofia mulai berjalan sambil melihat-lihat rumah-rumah tersebut, juga pantulan lampu yang ada di sungai.


“Meski sederhana tapi ini cukup indah bagiku!” ucap Sofia tersenyum.


Tangan Sofia mencoba memegang bangunan rumah tersebut, entah kenapa James ingin sekali memotretnya, berhasil mendapatkan hasil foto Sofia, dia memberikannya kepada Sofia. “Cantik bukan?” tanya James kepada Sofia, Sofia tersenyum melihat James dan fotonya. Lalu mereka memutuskan untuk melihat sungai yang berhadapan dengan perumahan itu, begitu bagus karena adanya pantulan lampu.


“Have you ever loved someone (apa kau pernah mencintai seseorang)?” tanya Sofia kepada James.


“No, I don't have time for that (tidak, aku tidak punya waktu untuk itu)!” jawab James datar.


“Pasti sulit bagimu untuk melewati semua ini tanpa adanya seseorang di sisimu!” ucap Sofia, James menoleh ke arah Sofia.


“Awalnya! Tapi kini aku sudah terbiasa!” balas James tersenyum.


“Terima kasih sudah bertanya.” Lanjut James.


“Baiklah, ayo kita.. ” belum sempat berbicara, sepatu Sofia rusak dan lepas menjadi dua saat hendak berjalan, James tertawa melihatnya.


“Kenapa bisa lepas?” ucap Sofia menahan malunya.


“Ah.. Ini karena sepatu yang sudah tua sekali, aku sudah lama membelinya.” Ucap Sofia.


Seketika selesai tertawa James terduduk dan melepas kedua sepatu Sofia, lalu menawarkan tumpangan bahu untuk Sofia.


“Kau mau apa?” tanya Sofia masih lugu.


“Naiklah!” pinta James menyuruh Sofia naik di belakang punggungnya, mata Sofia membulat tidak percaya.


“Tidak usah, terima kasih aku akan berjalan saja!” ucap Sofia yang hendak berjalan tapi james meraih tangannya.


“Naiklah, tidak apa!” paksa James, dengan perasaan tidak enak, Sofia perlahan mulai meraih bahu James, dan merangkulnya, Sofia sudah siap, sedangkan James perlahan berdiri dan mulai berjalan. Senyuman terukir di wajah masing-masing, mereka meninggalkan sepatu Sofia di sampah.


“Apa kau merasa berat?” tanya Sofia.


“Sedikit.” Jawab James yang tidak mau membuat Sofia sedih, sedangkan Sofia tahu kalau James sedang berbohong, karena akhir-akhir ini dia makan banyak sekali tanpa olahraga. Mereka masih menelusuri jalan dengan posisi yang masih sama.


“Kita mau kemana?” tanya Sofia.


“Mencari toko sepatu!” jawab James, mereka sudah mencari toko di sana tapi tidak menemukannya satupun tidak ada, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang saja. James menggendong Sofia sampai ke mobilnya, karena di sana sudah terbiasa melihat orang yang romantisan, hanya beberapa dari mereka yang melihat kearah Sofia dan James.


“Terima kasih!” ucap Sofia yang sudah duduk di kursi mobil.


Saat perjalanan Sofia masih merasa tidak enak, tapi entah kenapa hatinya sangat nyaman sekali, di tengah perjalanan tiba-tiba tanpa undangan hujan turun begitu derasnya, karena mobil yang dinaiki James mobil terbuka dan tidak bisa ditutup itu membuat mereka berdua basah kuyup. James melihat ke arah jalan, dan ternyata dia melewati jalan apartemen miliknya dan itu sangat dekat sekali dengan keberadaannya saat ini.


“Apartemenku dekat dari sini, bagaimana kalau kau menginap di sana sampai hujan redah?” tanya James dengan suara yang sedikit keras karena bunyi hujan yang juga tidak kalah kerasnya.


“Baiklah, tidak apa!” jawab Sofia setuju, dengan cepat James melajukan mobilnya dan segera menuju apartemennya.