MEMORY [INGATAN]

MEMORY [INGATAN]
TERUS BERBOHONG.


Setelah memberikan obat untuk di minum kevin, sofia menyuruh kevin untuk segera tidur siang. Kevin berbaring di atas tempat tidur empuknya itu lalu sofia menarik selimut dan menyelimuti tubuh kevin. Saat hendak pergi langkah sofia terhenti karena ucapan kevin padanya.


“Terima kasih karena sudah ingin menjagaku!” ucap kevin tersenyum.


“Iya, tidurlah.” Balas sofia tersenyum tipis.


Perlahan mata kevin terpejam, sofia yang masih berdiam diri di sana dia menoleh ke belakang memandangi wajah kevin lalu berjalan pergi meninggal kan kamar itu. Sofia menghampiri ruang tamu dimana naina ada di sana tengah duduk bermain ponselnya. Menyadari akan kedatangan sofia, naina berhenti lalu berbalik memandang ke arah sofia yang tengah berdiri di hadapan nya.


“Kenapa kau berdiri, duduklah.” Pinta naina ramah. Karena di pinta untuk duduk, sofia mematuhinya dan duduk di sebelah naina.


“Apa kevin sudah meminum obatnya?” tanya naina tersenyum.


“Sudah, saat ini dia sedang tidur.” Jawab sofia tersenyum lalu kembali diam tanpa ekspresi. Naina yang melihat wajah sofia seperti sedih dan kebingungan menjadi penasaran sendiri. Naina tersenyum meraih tangan sofia dan menggenggam nya dengan sangat erat. Genggaman yang sangat erat dan lembut membuat sofia yang tadinya tertunduk kini melihat mata naina.


“Aku tahu pasti sulit bagimu melakukan semua ini! tapi lama-lama kau akan terbiasa dengan kevin, dan aku tahu kalau kevin orangnya sombong maka dari itu sulit bagimu menerimanya di hatimu.” Jelas naina tersenyum. Meski begitu, bukan hanya perasaan kevin saja yang akan terluka, james dan dirinya juga akan sama-sama terluka. Sofia tersenyum untuk menutupi kebingungan nya dan sedihnya.


“Apa kakak pernah mempunyai kekasih?” tanya sofia. Naina terdiam dengan senyuman yang sudah menghilang di wajahnya.


“Pernah, tapi kami tidak di takdirkan bersama, kini dia sudah menikah dengan wanita yang dia cintai.” Jawab naina.


“Apa sekarang kakak tidak memiliki kekasih?” tanya sofia.


“Sulit bagi keluarga kaya seperti kami untuk mencari pasangan, karena kami harus mencari sederajat dengan keluarga kami.” Jawab naina lagi.


“Tapi kenapa kalian setuju denganku, aku bukanlah anak orang kaya, aku hanya seorang penulis novel?” tanya heran sofia.


“Entahlah, mungkin karena sifat dan perilakumu yang membuat kami nyaman bersamamu!” jawab naina. Tiba-tiba sofia mendapat sms dari temannya yaitu putri yang ingin bertemu dengan sofia. Seketika sofia pamit kepada naina untuk pergi dulu. Dia juga bilang akan selalu datang setiap hari menemani kevin di rumah.


Keluar dari kediaman xiang men, sofia menaiki angkutan umum dan pergi menuju dekat tempat perusahaan putri bekerja. Sampai di tujuan mata sofia sibuk mencari keberadaan putri, hingga dia menemukan titik yang ia cari dengan segera sofia berjalan menuju putri yang tengah berdiri. Putri melambaikan tangannya dengan senyum lebarnya setelah melihat temannya sudah datang begitu juga sofia yang membalas senyumannya.


“Ayo kita duduk di sana saja!” ajak putri menunjuk cafe yang tada di sebrang jalan. Sofia mengikuti langkah putri yang tengah menyebrang jalan. Sampainya di sana mereka duduk dan mulai memesan minuman.


“Aku sudah di beri tahu oleh jigs, dia bilang kau da james akan segera menikah.” Ucap putri membuka perbincangan dahulu.


“Iya!” jawab sofia datar.


“Lalu kenapa kau tidak bahagia, seharusnya kau senang kan?” tanya putri heran dengan teman satunya ini.


“Iya!” selama perbincangan sofia hanya menjawab itu-itu saja sampai membuat putri kesal sendiri.


“Jika kau ingin bercerita, maka ceritakan saja padaku mungkin aku bisa membantumu sofia!” ucap putri.


“Tidak ada, aku hanya lelah saja!” jawab sofia tersenyum.


“Aku harus pergi ke perusahaan novel dulu ya!” pamit sofia mencari alasan. Sofia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan putri yang masih duduk. Di perjalanan pak rangga menelfon sofia dengan tiba-tiba.


“Apa kabar sang penulis?” sapa pak rangga yang selalu menggoda sofia saja.


“Baik pak, bagaimana dengan bapak?” tany balik sofia.


“Seperti yang kau dengar, aku baik... ! oiya aku hanya ingin memberitahu mu kalau novelmu itu sudah terjual banyak dan uangmu akan segera di kirim.” Ucap pak rangga.


“Terima kasih pak!” jawab sofia tidak semangat.


“Kau sakit kenapa suaramu tidak semangat sekali?” tanya pak rangga yang merasa kalau sofia sakit.


“Tidak.” Jawab sofia tersenyum.


“Ha.. kau ini sudah punya banyak uang masih saja lemas, baiklah aku matikan dulu.” Pak rangga mengakhiri panggilan mereka berdua. Setelah menelfon, sofia memasukan ponselnya ke dalam tas lalu dia melihat ke arah cincin yang dia pakai saat ini, senyuman terukir di wajahnya, sofia memutuskan untuk pergi ke hotel james. Selama di dalam bis sofia hanya memandangi cincin itu juga kalung yang ia kenakan saat ini. Hingga sampai di tujuan nya. TOK. TOK. TOK. Pintu terbuka, jigs terkejut melihat kedatangan sofia, tanpa basa-basi jigs menyuruh sofia masuk, saat masuk dia melihat james tengah duduk sambil meminum kopi sedangkan james berdiri setelah melihat kedatangan sofia. Kini mereka berdua saling menatap, james yang menatapnya dengan senyuman sementara sofia masih dengan wajah datarnya.


“Em ... aku akan keluar sebentar!” ucap jigs memeberi waktu untuk temannya. Jigs sudah pergi entah kemana, kini hanya ada sofia dan james, james menyuruh wanitanya untuk duduk di sebelahnya.


“Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanya james tersenyum. Sofia mengangguk pelan.


“Aku sudah mengurus surat-suratku yang ada dijerman, kurang dua hari lagi kita akan menikah! kau masih belum memberitahu kevin?” tanya james.


“Belum!” jawab sofia. James meraih tangan sofia yang terdapat cincin di jari manisnya lalu mengusapnya dengan sangat lembut.


“Kau suka dengan cincin nya?” tanya james tersenyum.


“Iya, aku suka!” jawab sofia mulai tersenyum kecil. Tidak lama sofia memeluk pria yang ada di hadapan nya saat ini, sambil menangis sofia menahan isaknya agar tidak di dengar oleh james. Sementara james membalas pelukan itu dengan tersenyum ditambah perasaan herannya. Saat james ingin melepas pelukannya karena mau mengatakan sesuatu dan juga sudah cukup lama mereka berpelukan, sofia menolaknya.


“Aku mohon, biarkan seperti ini lebih lama lagi... ” Pinta sofia. james tersenyum mengeratkan pelukan mereka.


“Maaf, mungkin aku akan menyakiti hatimu, entah kapan itu akan terjadi?” batin sofia yang masih menangis di pelukan james. Jigs ketinggalan ponselnya, dia memutuskan kembali untuk mengambil ponselnya. Saat ia membuka pintu matanya tidak sengaja melihat pemandangan itu, seketika jigs terkejut dan menutup pintunya lagi.


“it feels to be a mosquito repellent (rasanya menjadi obat nyamuk).” Gumam jigs menunggu di depan pintu.