
Bagas berangkat ke kantor meninggalkan istri dan maminya di rumah. Tak masalah buatnya yang penting Nurlita bahagia, walaupun dia kecewa kenapa maminya harus sayang sama Gadis, sedangkan dia sendiri sebagai suami tak pernah memiliki rasa cinta ataupun sayang.
Sesampainya di kantor, Bagas langsung masuk ke ruangannya. Dia melepas jas dan menyimpannya di belakang kursi kerjanya. Sebelum memulai aktifitasnya, Bagas meraih ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.
"Tuutt...tuutt..." suara ponsel dari seberang sana.
"Kebiasaan bangun siang, gimana nanti kalalu udah tinggal bareng sama mami, jangan-jangan apa yang mami khawatirkan beneran terjadi." Bagas menarik nafas panjang dan melepaskannya pelan.
*****
"Mami pengin masak apa, sini biar aku bantu. Aku juga pinter masak Mam..."
"Mami percaya kalau kamu pinter masak, nanti kalau Mami udah tua, pengin kamu yang masakin, jangan asisten ya..." Nurlita sibuk menyiapkan bahan untuk di masaknya. Dia lupa dengan pernikahan Gadis yang hanya sementara.
Gadis diam, dia menatap Nurlita, entah apa yang ingin dia ucapkan. Tak mungkin dia menghancurkan keinginan ibu mertuanya itu, namun di sisi lain ini adalah kemauan Bagas, bukan kemauannya. Semua orang berharap agar pernikahan yang dijalani hanya sekali seumur hidupnya, namun beda dengan rumah tangga yang Gadis dan Bagas jalani saat ini.
"Kamu kenapa sayang? Ada yang aneh sama Mami?"
"Eumm, ngga Mam...aku liat Mami aja, cara masak Mami yang trampil cekatan gitu hehee..." Gadis menghibur.
"Ya, udah ayo kita masak, nanti kita keluar jalan-jalan kalau udah masak ya..."
Gadis menatap ibu mertuanya, tidak mungkin dia keluar rumah tanpa ijin suaminya, biarpun itu adalah mami dari Bagas yang mengajaknya. "Aku...aku ngga bisa Mam, kita sulap taman biar cantik aja ya, ngga usah keluar." pintanya.
"Emang kenapa?" tanya Nurlita. " Jangan-jangan Bagas melarang Gadis keluar rumah, kasihan kamu Gadis, hidup terkurung bagai burung. Aku akan coba hubungi Bagas supaya mengijinkan keluar," ucap Nurlita dalam hati.
Gadis sibuk di meja dapur, sementara Nurlita keluar menuju ruang tengah. Dia mengambil ponsel yang ada di tasnya, untuk menghubungi Bagas.
Setelah beberapa saat kemudian, terdengar percakapan antara ibu dan anak dengan nada yang meninggi.
"Kamu ngga boleh mengekangnya, kasihan dia...masa mudanya sudah menderita nikah di usia muda, ditambah lagi di dalam rumah tidak mendapatkan kenyamanan. Kamu melarang Gadis untuk keluar rumah, kan?"
"Itu semua demi kebaikan aku sama Delia, supaya tetap aman. Mami juga tahu kan?"
"Tapi kalau semuanya dilarang dan dibatasi kasihan Gadis, kamu harus siap dengan segala resikonya dong." Nurlita mengakhiri panggilannya dengan penuh emosi. Dia masuk ke dapur untuk menemani Gadis masak.
Nurlita memegang pundak Gadis dengan lembut, " Mami udah ijin sama Bagas, kalau kamu Mami ajak jalan-jalan keluar. Kata dia boleh kok, dia ngga marah, kamu mau kan?"
Gadis memutar badannya dan menatap sayu Nurlita, dia memegang erat tangan mertuanya itu. " Mam, nanti kalau Mas Bagas marah aku mesti jawab apa, apa beneran dia kasih ijin aku keluar sama Mami?"
Nurlita meraih tangan Gadis dan tersenyum. " Dia ngga akan marah, percaya sama Mami." ucapnya meyakinkan.
"Benarkah? Tapi nanti kan Mam, kalau masaknya udah selesai?" sorot mata Gadis berbinar bahagia. Nurlita pun ikut bahagia melihat Gadis bahagia.
Tak seharusnya Bagas melakukan ini kalau hanya untuk mempermainkannya, apalagi sampai berbuat kasar. Harusnya Delia yang saat ada di samping Bagas, mengurus dan melayani semua kebutuhan Bagas.
Mereka menikmati kebersamaan ini, sudah tak ada rasa canggung antara menantu dan mertua. Gadis yang polos mampu merebut hati sang mertua, hingga Bagas tak mampu menyalahkan kedekatannya dengan Gadis.
*****
"Hallo sayang...sorry tadi aku belum bangun, tidurnya kemaleman, banyak tugas yang harus di selesaikan," suara manja Delia dari ujung telepon.
"Iya, sayang...makasih dukungannya ya, muach...muaach..."
Sepenggal percakapan lewat sambungan telepon antara Delia dengan Bagas. Bagas sangat mencintai Delia, tak pernah swdikitpun dia berfikir kalau Delia akan berkhianat. Dia memang salah telah menduakannya, tapi dengan Gadis tak secuil pun memakai perasaan hanya sekedar menyalurkan hasratnya sebagai sosok suami yang ditinggal istrinya.
Bagas mengakhiri percakapannya, dia tersenyum setelahnya.
"Aku ingin punya anak dari rahim mu Delia...baru beberapa bulan rasanya kok lama banget ya, mungkin beda dengan laki-laki, dorongan untuk berhubungan intim itu sangat kuat. Syukurlah kalau kamu di situ bisa menjaganya." Bagas menyandarkan kepalanya menatap langit-langit kantor.
"Ngomongin kaya gini juniorku jadi terbangun, gara-gara mami ke rumah pagi banget, aku jadi ngga sempet minta jatahku sama Gadis. Hari ini dia mau keluar jalan sama mami, huuffft."
Bagas belum menyadari, kalau Delia ternyata masih mencintai Bram. Mereka di Perancis tinggal bersama dalam satu apartemen. Hari-harinya hanya ada Bram, sementara di sini Bagas menunggu cintanya datang kembali. Gadis hanya dijadikan pelampiasan saja.
Hari sudah sore, waktunya pulang sudah tiba. Bagas bergegas keluar ruangan menuju lift untuk turun.
Setelah mobil melaju cepat, tidak lama kemudian mobil pun sampai di rumah Gadis. Mobil mami Nur masih terparkir di halaman rumah, itu pertanda masih ada di dalam. "Mungkin mereka baru saja pulang," ucapnya dalam hati.
Bagas masuk dan benar saja, dia mendapati maminya sedang di ruang tengah bersama Gadis.
"Eh, udah pulang...tadi mami habis keluar sama Gadis, barusan juga mami aja belanja beli beberapa potong pakaian sama tas, kasihan dia ngga punya tas yang bagus, pakaian juga cuma itu-itu aja dari kemarin," terang Nurlita. Gadis hanya diam, dia tak berani menatap wajah suaminya.
"Hmm...ya..." jawab Bagas malas. Nurlita menatap tajam kepada Bagas, disuruhnya Bagas duduk di sofa tengah.
"Jangan naik dulu, duduk sini..." aja Nurlita sambil memunjuk sofa.
"Bagas mau mandi Mam, risih banget ini," elaknya. Dengan malas Bagas pun duduk dihadapan maminya.
Kini, mereka duduk bertiga di ruang tengah. Bagas menunggu instruksi dari Nurlita, sekalipun dia dimarahi dia sudah siap.
"Udah laporan apa, nih si culun, kok tiba-tiba mami kaya gini. Awas kamu ya!" ucap Bagas dalam hati.
Sementara Gadis masih pada posisi tertunduk." Mati aku! Kalau mami pulang aku bisa dijadikan rujak sama si Bagas nanti. Tuhan...tolong buatlah Bagas lupa dengan kejadian ini, dia pasti mengira aku yang pengin keluar jalan shoping sama mami." Mulutnya komat kamit berdo'a.
"Bagas! Biarpun Gadis hanya istri sementara buat kamu, tapi kamu harus adil, sayangi dia, cukupi kebutuhanya. Jangan sampai kamu menyaakiti lahir dan bathinnya."
Kata-kata Nurlita seakan menghujam jantung Bagas. Dia melirik ke arah Gadis yang masih tertunduk. " Kelihatannya polos penurut gitu ternyata cuma pura-pura, dasar perempuan sama aja."
"Iya, Mam..." jawab Bagas tak menatap.
"Iya apanya?"
"Itunya barusan...yang Mami bilangin, shoping kan...ngga papa, boleh kok."
"Ditanya apa, jawabnya apa, huuhh!" Nurlita memukul pundak tegap putranya yang duduk dihadapannya.
Nurlita menatap keduanya bergantian, dan akhirnya keluar meninggalkan mereka berdua yang masih duduk.
******
Bersambung...