
Sebuah pesta megah digelar oleh Roger. Untuk merayakan kelahiran putranya juga bersatunya kembali kedua orang tuanya. Acara itu pun sangat meriah dan penuh kebahagiaan. Roger juga memperkenalkan ke publik bahwa Gavi sebagai penerusnya nanti.
"Na, aku turut bahagia melihat kamu bahagia," ucap Devi. Tersenyum senang dengan kebahagiaan yang didapatkan oleh sahabatnya.
"Terima kasih banyak, Dev. Semua tidak lepas dari doa-doa dan dukunganmu selama ini." Nazura merangkul bahu sahabatnya dan mereka berpelukan mesra. "Lalu, kapan kamu akan menyusulku, Dev?"
"Menyusul ke mana?" tanya Devi berlagak bodoh. "Untuk apa aku menyusulmu. Sepertinya kamu tidak pergi ke mana pun," imbuhnya. Merasa senang melihat kekesalan tampak memenuhi wajah Nazura.
"Dev, aku serius. Maksudku kapan kamu akan menyusulku ke pelaminan? Menikah dan memiliki anak yang lucu. Bukan hanya kamu yang senang karena memiliki ponakan. Aku pun ingin memiliki keponakan darimu," kata Nazura berusaha memanasi.
"Lah, kamu tinggal minta aja keponakan kepada Lolita. Bukankah dia yang sudah menikah. Daripada meminta padaku. Entah kapan aku bisa memberikannya untukmu," ucap Devi.
"Semoga kamu bisa secepatnya memberikan padaku, Dev. Aduh!" Nazura mengaduh saat tangan Devi mendarat mulus di kepalanya.
"Enak aja! Kamu pikir bikin anak bisa sendiri, tanpa bantuan laki-laki. Nikah aja belum," protes Devi. Ia tidak peduli meskipun mendapat tatapan tajam dari Roger karena sudah berani menonyor kepala Nazura. Ia merasa tenang karena ada Nazura yang akan dijadikan sebagai tameng jika Roger berani memarahinya.
"Makanya nikah, Dev. Ingat umur. Jangan sampai ketuaan." Nazura tergelak karena berhasil mengejek Devi dan membuat wanita itu menjadi dongkol.
"Heh! Mulut kamu, Na. Aku ini masih muda," timpal Devi tidak terima. "Masih bisa bikin para lelaki tergila-gila, baik muda maupun tua," angkuhnya.
Ia cengengesan ketika Nazura memukul lengannya padahal cukup kencang. Namun, tiba-tiba Devi mengembuskan napas kasar hingga membuat Nazura mendadak bingung.
"Kenapa, Dev? Kok muka kamu jadi asem gitu. Gagal dapetin om-om?" tanya Nazura penasaran. Ia sampai memegang dagu sahabatnya dan mengarahkan wajah gadis itu ke arahnya. "Kaya ABG yang lagi patah hati," lanjutnya.
Devi menyingkirkan tangan Nazura dan kembali menghirup napas dalamnya. "Na ... sebenarnya aku dua bulan lagi akan menikah."
"Apa!" sela Nazura. Bola matanya membesar seperti hendak lepas dari tempatnya. "Kamu jangan bercanda, Dev!"
"Aku serius, Na. Kamu masih ingat waktu kita pulang ke Jojga sewaktu nenekku sakit. Ya, itu ternyata mereka berniat mau ngejodohin aku," tutur Devi.
Nazura pun mengerutkan keningnya dalam karena masih berusaha mengingatnya. "Kapan, sih? Aku ingat waktu ke Jojga, tapi aku sama sekali tidak ingat kapan orang tuamu berniat menjodohkanmu."
"Pastilah. Mereka membahas itu waktu kamu sudah pulang ke kota bersama Tuan Roger. Katanya, aku harus cepat menikah selagi nenek masih hidup. Tahulah, kalau nenekku itu orang paling berharga dalam hidupku. Jadi, aku sama sekali tidak bisa menolaknya." Devi menjelaskan. Baginya, sudah cukup ia memendam semuanya selama ini.
"Kenapa kamu tidak pernah bercerita kepadaku, Dev? Apa aku ini bukan sahabatmu lagi?" Raut wajah Nazura terlihat penuh dengan kekecewaan.
"Tentu saja kamu akan selalu menjadi sahabat terbaikku. Bahkan, hanya kamu satu-satunya sahabatku. Hanya saja, kemarin aku ragu saat mau bercerita. Aku ingin kamu fokus saja pada kehamilanmu. Itu lebih penting untukmu, menurutku."
"Em, kamu sudah yakin menikah dengan lelaki itu, Dev? Tidak ada keraguan lagi? Kamu dijodohkan, bukan?" tanya Nazura memberondong karena ingin tahu.
"Ya, aku memang dijodohkan. Tapi, aku sudah mengenal dia sebelumnya. Bahkan, setelah aku menyanggupi perjodohan ini demi nenek, dia sering menghubungi dan berusaha dekat denganku. Katanya, sih, dia sudah lama suka sama aku," jelas Devi. Membuat Nazura makin merasa penasaran.
"Pasti dia bukan lelaki sembarangan, nih. Yang kutahu, kamu tidak akan semudah itu menerima lamaran seorang lelaki," ucap Nazura curiga.
"Tidak juga. Dia itu hanya lelaki biasa bukan pengusaha kaya raya seperti suami kamu. Bukan orang kota juga. Rumahnya berada di kampung sebelah kampungku, Na. Tapi, dia itu seorang kepala desa."
"Widih!!!" Nazura bersorak hingga membuat perhatian beberapa orang di sana teralihkan kepada dua perempuan itu. Devi pun memukul lengan Nazura karena merasa dongkol dengan sahabatnya.
"Apaan, sih, Na! Jangan bikin heboh." Devi sudah mendelik, tetapi Nazura tetap tidak takut.
"Ciee ... Bu Lurah, Ciee ..."
"Apaan, sih, Na!" Devi tampak malu-malu sendiri.
"Bu lurah, selamat datang." Nazura masih terus menggoda.
"Nazura!"
Devi hendak memukul Nazura, tetapi dengan cepat wanita itu bangkit dan berusaha menghindar. Bahkan, dengan tidak malu mereka berlari kejar-kejaran seperti polisi yang sedang mengejar pencuri.
Nazura terus menjulurkan lidah untuk meledek, sedangkan Devi yang merasa kesal pun berusaha untuk terus mengejar. Sampai pada akhirnya, Nazura jatuh karena menabrak seorang tamu yang sedang membawa minuman.
"Ya Tuhan, Nazura."
Roger memberikan Gavi kepada Rosa lalu berjalan cepat mendekati istrinya yang masih bersimpuh di lantai.
"Benar-benar seperti anak kecil," gerutu Roger. Membantu Nazura untuk bangkit.
"Devi, Mas. Dia yang ngejar saya," adu Nazura. Mencari pembelaan. Namun, Nazura terheran ketika melihat Devi yang justru berdiri terpaku dan menatap lelaki yang barusan menabrak Nazura.
"Kenapa, Dev? Kesambet?" tanya Nazura berusaha menyadarkan Devi dari lamunan. Namun, Devi sama sekali tidak peduli dan justru mendekati lelaki itu.
"Ka-kamu di sini, Mas?"