
"Na ...." Soraya merasa ragu ketika hendak berbicara. Ia menjeda ucapannya, sedangkan Nazura tetap diam menunggu. "Lebih baik kita duduk di bangku itu, aku tidak mau kamu berdiri terlalu lama."
Nazura merasa heran karena sikap Soraya yang mendadak manis kepadanya. Entah mengapa, hal tersebut justru membuatnya berburuk sangka kepada wanita itu. Nazura khawatir kalau itu hanyalah sebuah sandiwara. Namun, Nazura tetap menuruti perintah Soraya. Menuju ke bangku yang terletak tidak jauh dari mereka.
Soraya tetap duduk di kursi roda, sedangkan Nazura duduk di sampingnya.
"Na, apa kamu sudah lama menikah dengan Roger dan kamu sudah mencintainya?" tanya Soraya, menoleh untuk menatap Nazura yang kala itu juga sedang menatapnya.
"Belum lama, Nona. Belum ada dua bulan." Nazura menjawab lirih.
"Kamu sudah mencintainya?" Kali ini, tatapan Soraya begitu menelisik.
Nazura merasa ragu ketika hendak menjawab dan akhirnya ia hanya bisa menggeleng lemah.
"Aku tidak yakin kalau kamu tidak mencintainya. Aku justru merasa yakin kalau kalian saling cinta, tapi sama-sama belum sadar saja." Soraya menghadap ke arah depan. Tidak ingin menatap Nazura.
"Nona, maafkan saya karena sudah menjadi perusak hubungan kalian. Saya sudah bilang kepada Tuan Roger untuk menceraikan saya."
"Kurasa itu tidak akan mungkin terjadi," sela Soraya cepat. "Aku yakin kalau Roger menolak untuk menceraikanmu, bukan? Aku masih ingat waktu di kantor."
"Iya, Nona. Tapi sekarang saya yakin pasti Tuan Roger sudah bersedia karena saya sudah memberikan rumah peninggalan orang tua saya kepada beliau," papar Nazura.
Soraya tergelak keras hingga membuat Nazura mengerutkan keningnya dalam. Ia merasa ucapannya tidak ada yang lucu, tapi kenapa Soraya bisa tertawa sekeras itu.
"Maaf, Nona. Apakah ucapan saya ada yang lucu?"
"Tidak. Aku hanya sedang menertawakan kepolosanmu. Percaya padaku, meskipun kamu sudah memberikan sertifikat rumahmu, tapi Roger pasti tetap akan mengejarmu. Sejauh apa pun kamu berusaha pergi menghindar, dia tetap akan terus mengejar sampai bisa mendapatkanmu. Aku sudah sangat hafal bagaimana Roger karena kita tumbuh bersama sejak kecil," terang Soraya. Suaranya memelan dan menyiratkan sebuah kekecewaan.
"Nona, itu tidak mungkin. Saya dan Tuan Roger itu sangat berbeda jauh. Saya hanyalah penebus hutang yang lebih pantas sebagai mainan dan ketika bosan maka akan dihempaskan begitu saja. Tuan Roger lebih cocok dengan Anda." Suara Nazura terdengar bergetar karena menahan perasaan yang hampir membuncah dalam dada.
"Na ... huh!" Soraya mendes*hkan napas kasar ke udara lalu menyandarkan kepala. "Kalau boleh jujur, aku sangat mencintai Roger. Bahkan sejak dulu. Baik buruknya dia aku sudah sangat hafal dan aku pun berusaha menerima apa adanya. Aku pikir, sikap Roger yang sangat baik padaku itu karena dia juga mencintaiku, tapi sekarang aku tidak yakin pada pemikiranku sendiri."
Soraya menghentikan ucapannya sesaat untuk menghirup napas dalam. "Roger memang perhatian padaku, tapi aku sadar kalau perasaannya bukanlah untukku. Kemarin aku ingin sekali mengejar, menyingkirkan apa pun yang berusaha menghalangi, tetapi kini aku sadar ... kalau cinta tidak selalu harus memiliki."
Mata Nazura tampak berkaca-kaca ketika mendengar ucapan Soraya. Apalagi ketika melihat wanita itu yang sedang memejamkan mata, membuat Nazura merasa tidak tega.
Ia tahu, meskipun Soraya pernah berbicara kasar kepadanya, tetapi ia pun bisa merasakan sebagai seorang wanita ketika hatinya terluka. Ia benar-benar merasa iba.
"Nona, saya yakin kalau Anda bisa mendapatkan cinta Tuan Roger lagi. Saya yang salah di sini dan saya pun sudah memilih untuk mundur. Maaf, karena saya tidak menepati janji untuk pergi sejauh mungkin dari kalian. Jujur, saya tidak bisa meninggalkan rumah peninggalan orang tua saya. Namun, kini semua sudah tidak ada lagi. Jadi, biarkan saya yang pergi, Nona." Nazura tersenyum getir.
Tidak ada yang tahu kalau dirinya sedang berusaha keras menahan air matanya agar tidak mengalir. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan siapa pun.
"Kenapa kamu memilih menyerah? Seharusnya kamu senang karena mendapatkan lelaki tampan dan mapan. Lelaki idaman para wanita," ucap Soraya. Namun, Nazura merasa kalau itu justru seperti sindiran untuknya.
Dia benar-benar tidak ingin membahas masalah itu lebih jauh lagi. Bukan karena tidak ingin, tetapi Nazura khawatir jika hatinya justru tidak baik-baik saja.
Selama berjalan ke ruangan, hanya keheningan yang tercipta di antara mereka. Nazura sengaja menghindari pembicaraan karena ia takut jika Soraya membahas tentang Roger lagi. Namun, belum juga sampai di ruangan, Nazura menghentikan langkahnya ketika Soraya berkata akan menjenguk Rosa.
Yang baru dipindahkan ke ruang perawatan satu jam lalu. Ruangannya pun tidak terlalu jauh, hanya selisih tiga kamar dari ruangan Soraya.
Kegugupan sangat Nazura rasakan ketika Soraya baru saja membuka pintu. Nazura ingin menunggu di depan saja, tetapi Soraya justru memaksa untuk masuk.
Ketika telah sampai di samping brankar, mereka membisu ketika melihat Rosa yang masih terbaring lemah dengan beberapa alat tertancap di tubuhnya. Bahkan, mata wanita itu pun masih tertutup rapat.
"Tante Rosa lebih parah dariku," keluh Soraya. Menatap tidak tega ke arah Rosa.
"Nona, memangnya tidak ada yang menunggu Nyonya Rosa di sini?" tanya Nazura celingukan dan tidak melihat siapa pun di sana.
Soraya menggeleng lemah. "Tidak. Roger sangat membenci Tante Rosa, sedangkan Om Bryan tidak akan mungkin mau pulang. Karena hubungan mereka tidak pernah baik. Aku benar-benar tidak tega melihatnya."
Nazura menyentuh dada ketika merasakan desiran di sana. Ia pun sama seperti Soraya. Merasa tidak tega ketika melihat wanita itu. Terbaring lemah dan tidak ada satu pun orang yang peduli. Namun, Nazura pun tidak bisa melakukan apa pun. Selain mendoakan kesembuhan untuk wanita itu.
Setelah cukup lama berada di sana, Nazura pun segera mengantar Soraya kembali ke kamar dan ia pamit pulang setelahnya karena Devi sudah menunggu lama. Tepat ketika Nazura keluar dari rumah sakit dan sedang menunggu angkutan umum, mobil Roger masuk ke area rumah sakit. Namun, lelaki itu tidak melihat keberadaan Nazura sama sekali.
Setelah turun dari mobil, yang pertama dituju adalah ruangan Soraya.
"Kamu baru datang."
"Ya, aku ada urusan sebentar tadi." Roger mendekati brankar lalu menatap wajah Soraya yang sudah tampak lebih segar.
"Kamu terlambat beberapa menit," ujar Soraya disertai embusan napas kasar.
"Apanya yang terlambat?" Roger bertanya heran.
Soraya terkekeh hingga membuat Roger makin terheran. "Nazura barusan dari sini dan dia baru saja pulang. Mungkin masih di bawah."
Ucapan Soraya membuat Roger membelalakkan mata. "Kamu serius?" tanya Roger tidak percaya.
"Tentu saja. Kapan aku berbohong padamu. Kalau kamu tidak percaya, cek saja CCTV di sini," ujar Soraya.
Tanpa berbicara sepatah kata pun, Roger langsung berlari keluar dari ruangan itu dan ia sangat berharap semoga masih bisa dipertemukan dengan Nazura. Melihat Roger yang langsung pergi setelah mendengar nama Nazura, membuat Soraya menghela napas panjangnya.
Sepertinya aku memang harus benar-benar mengaku kalah.