
Melahirkan bukanlah sebuah hal yang mudah. Nyawalah yang menjadi taruhannya. Di mana seorang wanita melahirkan harus kuat bertahan ketika rasa sakit mendera. Seperti dua puluh tulang dipatahkan secara bersamaan. Sakit memang. Namun, seorang wanita tetap kuat menjalani demi sang buah hati terlahir ke dunia dengan selamat.
Seperti apa yang dirasakan oleh Nazura sekarang ini. Wanita itu sedang berjuang keras demi buah hatinya. Meskipun rasa sakit tidak tertahan, tetapi ia berusaha untuk kuat. Apalagi Roger tidak pernah berhenti memberi semangat. Membuat Nazura tidak akan menyerah begitu saja.
Sampai pada akhirnya, satu jam berada di ruangan bersalin, berkutat dengan ketegangan. Sebuah kelegaan dirasakan ketika terdengar tangisan bayi menggema di sana. Air mata haru pun tampak mengiringi kelahiran bayi mungil itu.
Air mata Roger dan Nazura menitik ketika melihat bayi mungil berjenis kelamin lelaki, kulitnya putih bersih, terlihat sedang menangis. Rasanya, mereka sangat bahagia saat ini.
"Terima kasih, Na. Kamu sungguh luar biasa. Aku mencintaimu." Roger mengecup puncak kepala Nazura sangat lama. Menyalurkan segala rasa sayang yang ia miliki untuk wanita itu.
"Saya juga merasa sangat bahagia, Mas," balas Nazura.
Mereka pun berciuman mesra meski hanya beberapa detik, tetapi mampu membuat wajah Nazura bersemu merah ketika menyadari dua perawat di sana, memandang mereka sejak tadi.
Ah, rasanya Nazura begitu malu dan membuatnya salah tingkah sendiri.
***
Setelah sehari semalam berada di rumah sakit, Nazura dan sang bayi diperkenankan pulang karena kondisinya yang sudah membaik. Hal itu pun makin menambah kebahagiaan keluarga itu.
"Ya ampun, Mas. Kapan kamu menghias kamar ini?" Nazura terpukau ketika melihat kamar sang bayi yang sudah didekorasi sedemikan rupa. Dominan warna biru muda dan juga gambar bintang serta binatang di tembok dan langit-langit kamar.
Ah, bayinya pasti betah tidur di kamar ini. Gumam Nazura dalam hati. Ia justru terpukau sendiri.
Namun, untuk waktu dekat ini, Nazura tidak akan membiarkan putranya tidur sendiri. Apalagi ia masih harus menyusui. Nazura hanya menaruh satu box tempat tidur bayi, tepat di sampingnya.
Rumah Rosa yang biasanya sepi kini sangat ramai. Banyak yang datang melihat bayi tampan, yang sekarang sudah menjadi idaman.
"Akhirnya, bisa istirahat juga." Roger merebahkan diri di ranjang. Hal yang sudah ingin dilakukannya sejak tadi. Banyaknya rekan kerja yang datang membuat lelaki itu tidak bisa beristirahat sama sekali.
"Capek, Mas?" Nazura tersenyum meledek. Hal itu membuat Roger merasa gemas rasanya.
"Awas, ya, kalau kamu ketawa gitu terus maka aku tidak akan segan-segan mencium dan mungkin saja kita akan bercinta setelah ini," seloroh Roger. Namun, ia langsung gugup ketika melihat sorot mata istrinya yang sudah menajam. "Aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius."
"Ingat, Mas. Kamu harus berpuasa selama empat puluh hari sampai saya selesai nifas," kata Nazura mengingatkan.
"Ya, dan selama itu kamu harus membantuku."
"Membantumu apa?"
"Menidurkan adik kecilku jika tiba-tiba dia terbangun. Aku tidak menerima penolakan karena kamu masih punya dua tangan yang bisa digunakan untuk membantuku, bukan?" Roger menaik-turunkan alisnya menggoda Nazura.
"Ish! Mesum!"
***
Itulah nama putra Roger dan Nazura. Nama yang indah untuk bayi setampan Gavi. Putra pertama, cucu pertama, keponakan pertama, itulah raja dalam sebuah keluarga.
Banyak sekali yang mengasihi Gavi. Mereka bergantian menggendong dan mengajak bayi mungil itu mengobrol meskipun sebenarnya bayi tersebut belum memahami dan justru masih banyak tidur.
"Loh, Mas. Kok, kamu sudah pulang?" tanya Nazura heran. Pasalnya jam baru menunjuk angka tiga, tetapi Roger sudah sampai di rumah. Dua jam lebih awal daripada biasanya lelaki itu pulang.
"Aku kangen kalian." Roger hanya mengecup kening Nazura. Lalu bergegas ke kamar terlebih dahulu untuk membersihkan diri sebelum menggendong putranya. Hal rutin yang menjadi kebiasaan Roger mulai saat ini.
Sambil menunggu suaminya, Nazura masih memangku Gavi duduk di ruang tamu. Ditemani oleh Rosa yang sejak tadi mengajak Nazura mengobrol.
Namun, obrolan Rosa terjeda ketika ia melihat Bryan masuk dan langsung duduk di samping Nazura. Mengusap perlahan pipi Gavi. Mengagumi ketampanan cucunya yang sangat mirip dengan Roger ketika masih kecil.
"Hai, Gavi. Opa sudah datang. Apa kamu tidak ingin digendong opa?" tanya Bryan disertai kekehan.
"Mas, kalau mau gendong. Cucilah tangan terlebih dahulu," perintah Rosa.
Bryan pun berdiri bahkan tangannya seperti sedang hormat pada bendera. "Siap laksanakan, Ibunda Ratu."
Nazura tergelak keras ketika melihat apa yang dilakukan oleh papa mertuanya, sedangkan Rosa menggigit bibir untuk menahan tawa. Jangan sampai Bryan tahu ia sedang tertawa karena sampai hal itu terjadi, bisa jadi Bryan akan semakin gencar menggoda dirinya.
Hanya butuh waktu lima menit, Bryan sudah kembali. Lalu mengambil alih Gavi dari pangkuan Nazura. Beberapa kecupan pun langsung mendarat di pipi Gavi. Bahkan, Bryan mengaja bermain Ciluk Ba padahal bayi mungil itu belum tahu apa pun.
Namun, itu sudah menjadi bagian dari sebuah kebahagiaan.
"Saya mau mandi sebentar, Ma." Nazura bangkit berdiri dan berpamitan pergi. Ia tidak peduli meskipun Rosa sudah melarang.
Sebenarnya, Nazura sengaja melakukan itu karena ingin memberi kesempatan untuk mereka saling mengobrol. Nazura juga sangat berharap mertuanya akan kembali bersatu dan mereka menjadi keluarga yang utuh. Pasti kebahagiaan itu akan makin sempurna rasanya. Namun, Nazura pun tidak ingin memaksa. Biarlah Tangan Tuhan yang bekerja.
"Lihatlah, Ros. Betapa tampannya cucu kita. Sangat mirip dengan Roger," kata Bryan antusias.
Raut kebahagiaan tampak jelas dari wajahnya yang sudah mulai menunjukkan kerutan. Senyumannya yang tulus menjadi bukti betapa bahagianya lelaki itu saat ini. Namun, berbeda dengan Rosa yang justru terdiam. Wajahnya tampak murung bahkan seperti hendak menangis.
Melihat raut sendu memenuhi wajah Rosa, dengan segera Bryan mengarahkan pandangannya kepada wanita itu. Rosa langsung memalingkan wajah menghindari pandangan Bryan karena tidak ingin lelaki itu mengetahui air mata yang sedang ditahannya.
"Kamu kenapa, Ros? Apa kamu tidak bahagia?" tanya Bryan penasaran.
Rosa menggeleng lemah. "Tidak. Aku justru sangat bahagia."
"Lalu kenapa kamu terlihat sangat sedih bahkan aku bisa melihat matamu yang berkaca-kaca," kata Bryan. Masih belum puas dengan jawaban Rosa.
Wanita paruh baya itu menghirup napas dalam sambil memejamkan mata. "Aku hanya sedang merasa menyesal, Mas. Kenapa dulu aku menyia-nyiakan Roger padahal memiliki bayi adalah hal yang paling diinginkan dari sebuah pernikahan. Aku sekarang sadar kalau dulu aku ... sangat egois."