Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 50


"Ro-Roger." Tubuh Rosa gemetar hebat. Jantungnya serasa akan berhenti ketika mendengar teriakan Roger. Ia tidak menyangka kalau Roger akan mendengar semua pembicaraannya. 


"Dasar wanita tidak tahu diri! Berani sekali kamu berbicara seperti itu kepada Nazura. Ternyata kamu yang membuat Nazura pergi dariku, brengsek!" sergah Roger. Emosinya benar-benar telah sampai pada puncaknya bahkan ia tidak peduli kalau yang sedang dibentaknya adalah ibunya sendiri. 


"Mama hanya ingin kamu mendapat wanita terbaik yang jelas bibit, bebet, bobotnya. Semua demi kebahagiaanmu," timpal Rosa. Namun, hal itu justru membuat Roger makin naik pitam. 


"Cih! Kebahagiaan? Omong kosong apa itu? Kamu sendiri tahu bagaimana rasanya dijodohkan. Tersiksa ketika harus tinggal bersama orang tidak kamu cintai hingga anakmu menjadi korbannya? Lalu sekarang kamu dengan tidak punya hati menginginkan aku merasakan apa yang pernah kamu alami? Cih! Aku tidak sudi jika harus menjadi sepertimu. Aku ingin anakku mendapat kasih sayang kelak. Bukan mendapat orang tua tidak tahu diri seperti kalian!" 


Roger meluapkan segala amarah yang selama sudah dipendamnya sejak lama. Tidak peduli meskipun Rosa sudah menangis karena sakit hati. Ia memang anak yang dituntut untuk berbakti, tetapi semua tidak berlaku karena Rosa tidak pernah bisa menjadi orang tua yang baik untuk putranya. 


"Maafkan mama. Sekarang mama sudah menyesali semuanya." Suara Rosa terbata karena dipenuhi isakan. 


"Aku sedang berusaha memaafkanmu, tapi dengan santainya kamu akan menghancurkan kebahagiaanku. Jika memang seperti ini lebih baik aku tidak akan pernah memberi maaf apalagi dekat denganmu. Lebih baik kita bersikap bagai dua orang asing yang tidak saling kenal, sama seperti dulu," kata Roger mematahkan hati Rosa sepatah-patahnya.


Tidak ingin makin dipenuhi amarah, Roger pun berbalik dan hendak pergi, tetapi Rosa justru menahan dan bahkan bersimpuh di kaki Roger. Wanita itu tidak ingin ditinggalkan oleh putranya lagi. 


Roger pun beralih berjongkok agar sejajar dengan Rosa. Ia menatap seluruh wajah wanita itu yang sudah dipenuhi oleh air mata. Ada rasa iba, tetapi rasa benci yang ia punya lebih besar. 


"Asal kamu tahu. Aku sudah membencimu sampai relung hatiku paling dalam. Tidak ingin lagi mengenalmu. Sekarang aku dekat denganmu lagi itu karena Nazura. Dia yang memintaku atau lebih tepatnya memaksa untuk dekat denganmu lagi. Seharusnya kamu berterima kasih kepada istriku karena sudah membuka pintu hatiku untuk memaafkanmu dan memperbaiki hubungan kita, bukan malah sebaliknya!" 


Roger berhenti sejenak untuk menghirup napas dalam. "Dekatlah dengan Nazura maka kamu akan tahu betapa hebatnya istriku dan kamu pun akan tahu tentang kebahagiaan sesungguhnya yang bukan hanya soal harta, tahta, maupun kasta." 


Rosa tidak mampu lagi berkata-kata. Bibirnya terkatup rapat saat berusaha mencerna ucapan Roger. Ia masih tidak menyangka kalau Nazura bisa membuka hati Roger. Ya, Rosa memang menyadari Roger mau dekat dengannya setelah bersama Nazura. Bersama Soraya yang berpuluh-puluh tahun, tetap tidak bisa membuat hati Roger luluh. 


"Aku harus pergi sekarang dan kuharap kamu bisa memikirkan ucapanku baik-baik. Jika memang kamu ingin Nazura pergi dari hidupku maka maaf ... lebih baik aku meninggalkanmu, tapi kalau kamu berusaha membuka hatimu untuk melihat bahwa kebahagiaan bukan soal harta maka aku akan mempertimbangkannya." 


Rosa terpaku mendengar ucapan Roger. Ia bahkan hanya menatap punggung putranya yang menghilang cepat dari pandangan mata. Ia tidak percaya jika Roger justru lebih memilih untuk bersama Nazura. Namun, ia pun tidak menampik kalau semua juga karena kesalahannya. 


Ya Tuhan ... apakah ini balasan untukku karena telah menyia-nyiakan putraku sejak kecil. Kalau memang iya, berikanlah waktu untukku memperbaiki semuanya.