
"Mana mungkin sepupu saya tidak membayarnya, Mbak? Suaminya itu seorang konglomerat." Lolita bersedekap kesal saat hendak pergi dari sana, ia ditahan oleh pelayan restoran itu.
"Memang belum karena meja nomor sepuluh ini, sudah membayar makanan yang sebelumnya. Namun, makanan yang Anda pesan belum dibayar," sahut pelayan itu. Terus menahan Lolita yang hendak pergi.
"Astaga, dasar Nazura sialan!" umpatnya kesal. Ia benar-benar merutuki sepupunya. "Berapa semuanya."
"Tujuh ratus tiga puluh lima ribu, Nona."
Bola mata Lolita membulat penuh saat mendengar jawaban karyawan itu. Ia tidak menyangka jika makanan itu menghabiskan banyak dana. Jika tahu Nazura tidak mau membayarkan sudah pasti ia tidak akan pernah memesan makanan itu.
"Jangan bilang Anda tidak punya uang untuk membayarnya, Nona!" Pelayan restoran tersebut mulai menunjukkan raut ketidak-sukaan hingga membuat Lolita berdecak kesal.
"Jangan menghinaku, ya! Apa kamu tidak tahu kalau aku ini seorang model? Tentu saja uang segitu itu sangat sedikit untukku." Lolita berbicara dengan angkuh.
Ia pun membuka tas untuk mengambil dompet. Namun, Lolita kebingungan saat tidak melihat dompetnya di dalam tas. Ia pun terus mencarinya, tetapi tidak ditemukan sama sekali. Lolita berdecak kesal setelahnya ketika teringat kalau dompetnya ketinggalan di laci kamar.
Setelah itu, terjadilah perseteruan seru antara Lolita dengan pelayan restoran yang tidak percaya kalau dompet Lolita ketinggalan di rumah. Bahkan, ketika Lolita hendak mengambil dompet di rumah, pelayan restoran itu menahan karena khawatir Lolita akan kabur.
Lolita benar-benar bingung karena sudah dikepung beberapa pelayan restoran dan pengunjung lain pun sudah menatap ke arahnya. Sungguh, demi apa pun Lolita merutuki sepupunya dan akan memberi pelajaran setelah ini.
"Ini ada apa?" tanya Akmal yang ikut bergabung setelah melihat kericuhan. Namun, lelaki itu terdiam sesaat setelah melihat Lolita, wanita yang ia cintai, tampak sedang kebingungan. Terlihat jelas dari wajahnya yang sedikit memucat. Sementara Lolita yang belum mengenali Akmal, menatap lelaki itu lekat karena merasa tidak asing.
"Wanita ini membeli banyak makanan, tapi tidak bisa membayar. Dengan dalih dompetnya ketinggalan," adu pelayan itu.
"Memang dompetku ketinggalan bodoh!" umpat Lolita saking kesalnya. Memicu kemarahan pelayan tersebut.
"Sudah! Biar aku yang membayar semuanya." Akmal pun membayar makanan tersebut lalu mengajak Lolita untuk pergi dari sana.
"Terima kasih banyak," kata Lolita.
"Sama-sama. Lebih baik sekarang aku akan mengantar kamu pulang." Akmal naik ke motor dan menyuruh Lolita untuk naik di belakangnya.
Lolita pun hanya menurut. Namun, ia dibuat terheran saat motor Akmal berhenti tepat di depan rumahnya.
"Da-dari mana kamu tahu rumahku?" tanya Lolita bingung saat ia baru saja turun dari motor dan menyadari kalau tidak menunjukkan alamatnya tadi.
"Jangankan rumahmu. Semua apa pun tentang kamu, aku tahu. Makanan kesukaan, ukuran sepatu—"
"Kamu tidak mengenaliku?" tanya Akmal setengah kesal. Lolita pun menggeleng cepat. "Astaga, Lolita. Aku ini Akmal. Teman kecilmu yang hitam, dekil, dan ya ... begitulah."
Lolita mendelik saat mendengar jawaban itu dan berusaha mengamati wajah Akmal. "Jadi, kamu Akmal yang dulu mengejar-ngejar aku?"
Akmal mengangguk disertai senyuman tipis. "Ya, dan sekarang pun aku masih akan terus mengejar cintamu." Akmal berbicara santai tanpa peduli pada Lolita yang makin tidak percaya.
***
"Mas," panggil Nazura ragu.
Kedua orang itu masih bergelung di bawah selimut setelah melakukan percintaan panas. Tubuh Nazura serasa remuk karena Roger menggempur tanpa ampun dengan dalih itu adalah hukuman untuk Nazura karena sudah berani berbicara yang tidak-tidak kepada Lolita.
"Apa?" tanya Roger tanpa membuka mata. Ia pun kelelahan dan juga merasa puas.
"Bagaimana dengan Lolita? Kenapa saya sangat cemas karena tadi dia memesan makanan cukup banyak," keluh Nazura.
"Jangan pikirkan dia. Sekali-kali wanita seperti itu harus diberi pelajaran. Bukankah selama ini dia yang selalu membuatmu susah," timpal Roger.
Nazura pun hanya diam dan membenarkan dalam hati.
"Kira-kira kapan Nyonya Rosa bisa pulang dari rumah sakit?" tanya Nazura lagi.
"Untuk apa kamu bertanya hal tidak penting itu?" Roger balik bertanya dengan ketus. Ia sungguh tidak suka ketika harus membahas tentang Rosa.
"Tidak apa. Maaf, kalau saya terlalu ikut campur. Saya hanya tidak ingin jika ada perselisihan terus menerus antara kalian walaupun saya tidak tahu apa permasalahannya," ucap Nazura.
"Na, tugasmu itu sebagai istriku untuk melayaniku. Bukan terlalu ikut campur masalahku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkan wanita itu." Roger berbicara tegas. Namun, kali ini tidak membuat Nazura gentar. Ia akan melakukan apa pun agar hubungan kedua orang itu membaik.
"Tapi, Mas. Apa salahnya memaafkan dan memberi kesempatan untuk saling berbenah. Saya tahu, kalau kalian sebenarnya saling menyayangi hanya saja gengsi."
"Cih! Jangan ngawur kamu, Na. Aku sangat membenci wanita itu karena dia, aku harus menyimpan banyak kenangan masa kecil yang menyakitkan." Roger mendes*hkan napas ke udara secara kasar.
"Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan, Mas. Begitu juga kita." Suara Nazura terdengar lirih, tetapi mampu membuat bibir Roger terbungkam rapat.