
Selama dalam perjalanan menuju ke kosan, Nazura merasa tidak tenang. Ia khawatir jika bertemu Akmal nanti maka apa yang harus dikatakan. Pasti lelaki itu bertanya banyak hal tentang Roger. Melihat kegelisahan Nazura membuat Roger beberapa kali melirik wanita itu.
"Kenapa?" tanya Roger ingin tahu.
"Mas, kita langsung ke taman saja. Biar saya bilang kepada Akmal," perintah Nazura. Roger menghentikan mobilnya di tepi jalan sebelum sampai di kosan.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah jika bertemu di kosan terlebih dahulu?" tanya Roger curiga. Wajah Nazura pun mendadak gugup.
"Tidak. Lagi pula, kita akan mencari sarapan. Mending langsung pergi aja daripada harus bolak-balik," kata Nazura berusaha menjelaskan.
Roger pun mengangguk paham lalu memutarbalikkan mobilnya. Menuju ke sebuah taman yang ramai karena sedang akhir pekan. Banyak sekali orang-orang yang mengunjungi taman itu baik untuk sekadar sarapan ataupun lari pagi.
"Tunggu di sini. Aku terima telepon dari rekan kerjaku dulu," kata Roger. Nazura pun hanya mengangguk mengiyakan dan menatap punggung Roger yang perlahan menjauh dari pandangan.
"Na!"
"Astaga." Nazura mengusap dada karena terkejut ada seseorang yang mengagetkan dari belakang. Ia pun menoleh dan mencebik kesal ketika melihat Akmal yang justru sedang tersenyum seolah tanpa dosa. "Akmal! Kamu ... ih!"
Akmal mengaduh saat Nazura sudah mendaratkan banyak pukulan di lengannya. Ia pun berusaha menangkis dan bahkan mengunci tubuh Nazura hingga wanita itu tidak bisa berontak lagi.
"Ah, lepaskan aku. Jahat sekali kamu!" Nazura berusaha menendang karena kedua tangannya masih terkunci. Namun, tiba-tiba Akmal tersungkur saat seseorang memukulnya dan itu adalah Roger.
Wajah lelaki itu dipenuhi amarah dan hampir memukul Akmal kembali, sebelum akhirnya dihalau oleh Nazura.
"Sudah, Mas. Jangan memukul dia lagi," perintah Nazura.
"Na, dia sudah berani kurang ajar kepadamu. Bahkan dia sudah menyentuhmu!" ujar Roger. Dengan suara tinggi karena masih dipenuhi emosi.
"Mas, dia itu Akmal. Sahabatku."
Roger terdiam ketika mendengarnya. Lalu menatap Akmal yang baru saja berdiri sambil terus memegangi perutnya.
"Iya." Nazura menjawab cepat. Lalu mengusap lengan Akmal sambil meminta maaf. Wanita itu tidak menyadari kalau suamiany sedang memanas saat ini. "Maaf, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya cemas.
"Sepertinya perutku butuh usapan, Na. Ini sakit sekali," ucap Akmal. Ia melirik ke arah Roger yang mulai terlihat marah lagi, tetapi sudut bibir Akmal justru tersenyum licik.
Ia sengaja melakukan itu dan dengan bodohnya Nazura justru mengusap perut Akmal. Sampai membuat lelaki itu menggeliat karena merasa geli.
"Untuk apa kamu melakukan itu." Roger menarik tangan Nazura lalu menyuruh wanita itu berdiri di belakangnya. Roger pun menatap sengit, tetapi Akmal justru menantang. Tidak takut sama sekali.
"Sudah. Lebih baik sekarang kita duduk. Aku tidak mau ada pertengkaran." Nazura menyuruh untuk duduk di bangku taman dan ia berada di tengah. Di antara kedua lelaki itu.
"Dia siapa, Na? Sepertinya sangat posesif kepadamu." Akmal berbisik agar tidak didengar oleh Roger. Ya, meskipun sebenarnya Roger masih mendengarnya dengan baik.
"Aku suaminya. Kenapa!" Roger yang menjawab ketus. Namun, Akmal justru tergelak keras. Membuat kedua orang di sampingnya mengerutkan kening dalam.
"Apa yang kamu tertawakan, Mal?" tanya Nazura saking penasarannya.
"Sepertinya lelaki ini penggemar beratmu, Na. Sampai-sampai dia mengaku sebagai suamimu." Akmal kembali tertawa bahkan ia sampai memegang perutnya yang terasa kram.
"Dia bukan penggemar beratku, Mal. Dia memang suamiku," sahut Nazura.
"What! Kamu serius?" tanya Akmal tidak percaya.
"Tentu saja." Nazura menjawab disertai anggukan. Akmal melongo tidak percaya, sedangkan Roger sudah tersenyum penuh kemenangan.
"Astaga, Na. Kenapa tidak bilang kalau kamu sudah menikah. Padahal—"
"Padahal apa! Kalau sampai kamu berani mengatakan yang aneh-aneh apalagi soal cinta kepada istriku maka aku tidak akan segan-segan memotong burungmu!" gertak Roger.
Akmal mengerang ketika tendangan Roger sudah mengenai tulang keringnya. Ini sungguh sangat menyakitkan.