Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 62


Nazura terbaring lemah di atas brankar. Wajahnya pun sedikit memucat karena kekhawatiran teramat besar ia rasakan. Walaupun rasa nyeri itu sudah reda, ttwaoi hatinya masih merasa cemas dan pikirannya kalut. Hanya satu harapannya, semoga calon buah hatinya dalam keadaan baik-baik saja. 


Hanya ada Devi yang menemani dirinya karena Nazura sengaja tidak mengabari Roger. Ia tidak mau mengganggu suaminya yang sedang bekerja dan berencana akan mengabari nanti jika sudah selesai melakukan pemeriksaan. 


"Ya ampun, Na. Aku benar-benar cemas. Apakah aku harus menghubungi suamimu?" tanya Devi, sangat tidak tenang. Gadis itu terus saja gelisah dan mondar-mandir di samping brankar.


Nazura menggeleng cepat. "Tidak usah, Dev. Dia masih memiliki banyak pekerjaan. Lagi pula, aku sudah merasa baikan, kok. Tadi hanya kaget saja." 


"Tapi, Na. Bagaimanapun juga suami kamu harus tahu. Dia pasti akan semakin kecewa kalau kamu menutupi semuanya," ucap Devi mengingatkan. 


Nazura merasa ragu dan bimbang. Tepat ketika itu pula ponsel Nazura berdering dan Roger mengatakan kalau dirinya sudah berada di rumah sakit. Hal itu pun sontak membuat Nazura merasa terperanjat dan dengan terpaksa langsung mengatakan di mana ia berada. Setelahnya, panggilan itu pun terputus. 


"Mas Roger sudah di sini." Nazura mengembuskan napas kasar. Baru saja selesai berkata seperti itu, Roger sudah membuka pintu ruangan, masuk dengan tergesa dan langsung mencium kening Nazura. Melihat kemesraan mereka, Devi pun memilih untuk sedikit menjauh karena khawatir akan mengganggu. 


Hatinya pun merasa iri ingin segera memiliki pasangan, tetapi ia harus bersabar dan betah menjomblo sampai waktu yang tidak ditentukan. 


"Kamu baik-baik saja? Bagian mana yang sakit? Bagaimana dengan calon bayi kita, apa dia juga baik-baik saja? Apa kata dokternya?" 


Nazura mendes*hkan napas ke udara secara kasar ketika mendengar banyak pertanyaan dari suaminya. Lelaki itu persis seperti seorang wartawan yang sedang mengupas tuntas sebuah masalah. 


"Aku belum tahu, Mas. Dokter belum mengatakan semuanya, tapi aku sudah merasa lebih baik sekarang. Sudah tidak nyeri seperti tadi," sahut Nazura. 


Namun, jawaban itu belum membuat hati Roger merasa lega sebelum dokter yang mengatakan langsung kalau istrinya itu dalam keadaan baik-baik saja. 


Selang beberapa saat, dokter yang tadi memeriksa pun masuk ke ruangan dan Roger menyambutnya dengan tidak sabar. 


"Dok, bagaimana keadaan istri saya? Apa dia baik-baik—"


"Mas, biarkan dokter yang berbicara," suruh Nazura. Memotong ucapan Roger hingga mulut lelaki itu terkatup rapat saat itu juga. Jika tidak seperti ookitu, sudah pasti mommy pertanyaan Roger bukan hanya satu saja dan takutnya akan membuat sang dokter pusing ketika harus menjawab semuanya. 


Dokter itu pun tersenyum melihat mereka berdua. Bahkan, ia tidak menyangka jika Roger bisa sebucin itu kepada istrinya karena ia memang sudah mengetahui siapa Roger sebelumnya. Lelaki yang bahkan tidak mudah tersenyum di depan orang lain. 


"Tuan, janin dalam perut istri Anda, dalam keadaan baik-baik saja. Tidak terjadi apa pun dan rasa nyeri yang dirasakan oleh Nona Nazura tadi itu karena kaget saja," jelas dokter tersebut. 


Roger dan Nazura pun mengembuskan napas lega. 


"Tapi, saya harap semoga tidak ada kejadian seperti ini lagi di kemudian hari. Nona Nazura harus benar-benar dijaga meskipun kandungannya kuat," imbuhnya. Kedua orang itu pun mengangguk mengiyakan. 


Ketika sampai di toko, Devi pun menunjukkan tampilan CCTV di sana. Rekaman tepat kejadian di mana Nazura didorong oleh Lolita. Hal itu pun membuat Roger merasa sangat geram dan langsung bergegas pergi bahkan tanpa berpamitan. Devi pun tidak melarang karena baginya Lolita memang harus mendapat pelajaran. Sudah cukup selama ini ia melihat sahabatnya selalu menderita. 


***


"Tu-Tuan," panggil Bima terbata saat melihat Roger berdiri di ambang pintu dan raut wajah lelaki itu tampak dipenuhi amarah. "A-Ada apa Anda datang ke sini?" 


"Di mana putrimu?" tanya Roger penuh penekanan. 


"Lolita? Apa ada sesuatu dengan Lolita?" Bima mendadak cemas. 


Roger tidak menjawab, ia justru mendorong tubuh Bima cukup kencang agar minggir dari pintu lalu masuk dan kebetulan sekali melihat Lolita sedang duduk bersama Nety. Seringai pun tampak terlihat jelas dari sebelah sudut bibir Roger hingga membuat mereka merasa ngeri. 


"Tuan Roger." Kedua wanita itu bangkit berdiri dan terkejut dengan kedatangan Roger. 


"Sialan!" Roger merem*s kaos Lolita seperti akan mencekiknya dan mendorong wanita itu sampai menempel tembok. Semua terkejut dengan gerakan Roger yang sangat cepat.


"A-ada, Tuan." Lolita berusaha melepaskan cekikan itu, tetapi kalah tenaga. Tangan Roger sangatlah kuat. 


Bima hendak menolong putrinya, tetapi langsung ditahan oleh dua anak buah Roger yang sejak tadi berdiri di belakang tuannya. 


"Tuan, lepaskan saya." Lolita merasa takut jika Roger akan mencekiknya sampai mati. 


"Tuan katakan apa salah putri saya. Jangan sakiti dia, Tuan. Saya mohon lepaskan dia." Nety begitu memohon, tetapi hal itu tidak membuat Roger melepaskan Lolita. Masih kuat mencengkeram hingga membuat wajah Lolita mulai memucat.  


"Kamu hampir saja membuat aku kehilangan calon buah hatiku dan membuat istriku celaka. Ini hanyalah peringatan. Kuharap itu adalah hal konyol yang terakhir kamu lakukan karena jika kamu masih berani berusaha mencelakai istriku maka aku tidak segan-segan membunuhmu!" bentak Roger sambil melepaskan Lolita. 


Wanita itu pun terduduk lemas dan langsung meraup oksigen dengan cepat. Ia hampir saja mati kehabisan napas. 


"Tuan, saya tidak tahu maksud Anda. Apa yang dilakukan putri saya? Kenapa Anda bilang dia mencelakai Nazura?" Bima masih penasaran. 


Tanpa menjawab, Roger langsung menunjukkan rekaman di toko tadi kepada Bima. Awalnya Bima hanya mengerutkan kening, tetapi setelahnya wajah lelaki itu tampak dipenuhi emosi dan membuat Lolita mulai merasa takut. 


"Lolita! Bukankah papa tidak pernah mengajari kamu melakukan hal serendah ini!" bentaknya. Suara lelaki itu terdengar menggelegar dan membuat Lolita maupun Nety tidak berani membuka mulut. Roger pun tersenyum sinis dan duduk di sofa dengan tenang melihat pertengkaran itu.