
Roger menghentikan semua pekerjaannya ketika ada pesan masuk dari Nazura. Wanita itu mengirim pesan jika saat ini sudah hampir sampai di Jogja. Tanpa pemberitahuan sebelumnya hingga membuat lelaki itu tersentak. Tanpa menunggu lama, Roger pun langsung menghubungi Nazura.
"Kenapa kamu pergi jauh tidak izin padaku dulu, Na!" Suara Roger terdengar tinggi dan setengah membentak.
"Maafkan saya, Mas. Karena kalau izin, saya yakin kamu tidak pasti akan mengizinkannya," balas Nazura. Roger membenarkan ucapan istrinya dalam hati. Ia memang tidak mau jauh dari Nazura.
"Tapi bukan begini caranya!" omel Roger.
"Maafkan saya, Mas. Lagi pula saya cuma seminggu di Jogja dan saya akan segera pulang. Mas ... saya ingin memberi waktu kepada kamu dan Nyonya Rosa untuk saling dekat. Saya yakin kalau hubungan kalian pasti akan membaik. Selama saya pergi, tinggallah bersama Nyonya Rosa. Kasihan beliau sendirian." Suara Nazura terdengar lirih, tapi memerintah.
"Na ...."
"Jangan menyusul saya, Tuan. Karena saya akan menjaga diri dengan sangat baik. Ada Devi yang juga akan menjaga saya. Jadi, kamu tenang saja." Nazura seolah tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
"Aku tetap akan menyusulmu setelah pekerjaanku selesai."
"Iya, Mas. Tapi jangan memaksa untuk menyusul. Kalau begitu saya matikan dulu. Nanti saya kabari kalau sudah sampai di Jogja."
Panggilan itu pun terputus. Roger mengusap wajah kasar. Ia tidak yakin apakah tetap bisa menjalani hidup dengan baik jika berada jauh dari Nazura. Ingin sekali ia menyusul, tetapi pekerjaannya masih menumpuk dan ia tidak mungkin meninggalkan begitu saja.
Roger pun dituntut untuk bersabar selama beberapa hari sampai istrinya pulang kalaupun tidak sampai pekerjaannya selesai dan ia bisa menyusul Nazura.
***
Roger tidak lagi pulang ke apartemen karena ia khawatir akan merindukan Nazura jika di sana. Lagi pula, ia menuruti perintah Nazura untuk menemani Rosa. Jika bukan karena Nazura, sudah pasti Roger malas melakukannya.
Kepulangan Roger disambut antusias oleh Rosa. Wanita itu merasa senang apalagi Roger mengatakan akan tinggal di sana selama beberapa hari. Membuat senyum Rosa sejak tadi mengembang sempurna.
"Mama sangat senang akhirnya kamu pulang ke rumah," kata Rosa. Senyum wanita itu tidak bisa membohongi kalau ia sedang bahagia saat ini. "Tetaplah tinggal di sini untuk menemani mama. Selama ini mama selalu kesepian."
"Roger, kamu tidak mendengarkan mama, Nak?" Pertanyaan Rosa membuat Roger menoleh ke arah wanita itu.
"Ya. Aku mendengarnya." Roger menjawab ketus lalu kembali fokus pada ponsel.
"Lalu kenapa kamu tidak memerhatikan ketika mama mengajak bicara. Kamu justru sibuk dengan ponselmu." Rosa menyindir, tetapi Roger justru tersenyum miring.
"Tidak apa. Aku hanya melakukan apa yang dulu kamu lakukan. Bukankah kamu dulu juga terlalu sibuk dengan ponsel bahkan ketika aku sudah merengek meminta main bersama dan kamu justru mengusirku seperti seekor kucing." Setiap kalimat yang terucap dari Roger menyiratkan sebuah emosi dan kemarahan.
Rosa pun membungkam rapat mulutnya. Merasa makin menyesal dan tidak menyangka jika Roger masih mengingat semua hal itu.
"Lebih baik sekarang istirahatlah. Tidak baik begadang untuk orang yang baru sakit." Roger bangkit berdiri dan meninggalkan Rosa begitu saja.
Ia tidak peduli meskipun tatapan Rosa terlihat nanar dan meminta perhatian. Ternyata, tidak semudah itu memperbaiki hubungan yang telah rusak sebelumnya. Roger mungkin sudah memaafkan mamanya, tapi segala kenangan pahit yang tercipta sejak kecil membuat Roger tidak mudah untuk kembali dekat dengan wanita itu.
Langkah Roger yang hendak ke kamar terurungkan saat ia merasa sangat haus. Ia pun berbalik dan hendak menuju ke dapur. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Rosa yang masih duduk di tempatnya terlihat sedang sangat serius menghubungi seseorang.
Dengan gerakan perlahan ia pun berdiri di balik tembok dan menguping pembicaraan wanita itu.
"Syukurlah kalau dia sudah pergi. Sepertinya dia sadar diri saat aku bilang tidak sudi dia tinggal di sini."
Roger makin penasaran tentang siapa wanita yang disebut oleh Rosa.
"Semoga saja dia tidak pernah kembali ke sini dan kalau bisa segera cerai dari Roger. Aku tidak mau punya menantu kampungan dan miskin seperti dia."
Darah Roger serasa mendidih ketika mendengar ucapan Rosa. Ia pun berjalan mendekat dengan langkah lebar, merebut ponsel Rosa dan langsung membantingnya hingga terpental jauh. Melihat keberadaan Roger di sana, Rosa bangkit berdiri dan sangat ketakutan ketika melihat sorot mata Roger yang sangat tajam dan penuh dengan kilatan amarah.
"Dasar wanita sialan!" gertak Roger dan hampir saja mencekik Rosa sebelum akhirnya dilerai oleh pelayan yang kebetulan melihat pertengkaran mereka.