Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 59


Seolah tidak terjadi apa pun, Nazura melangkah mendekati Nety dan berusaha menyalami wanita itu. Namun, Nety justru menolak dan menatap sengit ke arah keponakannya. Ia tidak menyadari jika sejak tadi Roger mengawasi mereka dari dalam mobil. 


"Kamu datang dengan siapa?" tanya Nety ketus.


"Mas Roger. Aku ingin menjenguk Lolita. Katanya dia sudah pulang, Bi." Nazura berusaha berbicara lembut meski Nety terus menatapnya tidak suka. 


"Ya, dan kamu sebagai sepupu Lolita, sangat tidak bertanggung jawab. Kamu bahkan sama sekali tidak membantu membayar biaya perawatan Lolita," sindir Nety. Senyum Nazura pun memudar. Nety benar-benar tidak tahu diri. 


"Maaf, Bi. Kemarin aku terlalu sibuk. Memang habis berapa juta, biar nanti aku ganti karena kebetulan aku baru saja gajian, em lebih tepatnya pesangon karena aku sudah tidak bekerja sekarang," terang Nazura. Ia memang sudah berhenti bekerja sejak dua hari yang lalu atas perintah suaminya. 


Nety tidak berani menjawab karena ia melihat Roger yang baru keluar dari mobil. Merasa khawatir jika lelaki itu akan menggertaknya kalau mengetahui ia tidak bersikap baik kepada Nazura. 


"Kenapa kamu belum masuk, Na? Apa kamu tidak diizinkan masuk?" tanya Roger heran. 


"Bukan, Mas. Saya hanya sedang mengobrol dan melepaskan kerinduan dengan Bibi Nety." 


"Ah iya, sampai lupa. Mari masuk. Maaf rumahnya sangat berantakan dan kecil. Tidak seperti rumah Anda yang megah, Tuan." Nety berbicara penuh penekanan. Lebih tepatnya penuh sindiran. 


Roger hanya diam karena merasa malas untuk menanggapi. Ia pun duduk di sofa, sedangkan Nazura masuk ke kamar Lolita untuk melihat keadaan sepupunya itu. 


Sama seperti Nety, Lolita pun merasa tidak terlalu suka ketika Nazura berkunjung ke sana. Apalagi ketika mengingat kejadian di restoran kala itu, membuat Lolita selalu saja merasa kesal. 


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Nazura lembut. 


"Lihat saja. Aku sudah lebih baik." Lolita menjawab ketus. "Untuk apa kamu datang ke sini? Aku yakin kalau kamu hanya ingin menertawakanku, bukan?" 


"Tidak!" bantah Nazura cepat. "Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"


"Cih! Aku sudah tahu sifat burukmu, Na. Kamu mau pamer padaku kalau banyak sekali lelaki yang memerhatikanmu, bukan? Tidak seperti aku," tukasnya kesal. 


Nazura mengerutkan keningnya dalam. "Maksudnya? Aku bahkan tidak ada niatan mau pamer sama sekali." 


"Alah, cih!" Lolita kembali berdecih. "Jangan berlagak polos. Kamu datang ke rumah sakit bersama Akmal, dan kulihat hubungan kalian sangat dekat. Sementara sekarang kamu datang bersama dengan Tuan Roger yang berstatus sebagai suami. Kamu mau menunjukkan apa lagi kepadaku? Aku tidak menyangka kalau kamu itu sangat kemaruk!" 


"Lolita, kenapa kamu berbicara seperti itu? Aku datang ke sini memang berniat untuk menjengukmu dan tidak ada maksud lain," sanggah Nazura. 


"Kamu kenapa?" tanya Nety yang baru masuk. Wanita itu merasa khawatir jika terjadi apa-apa dengan putrinya. "Apa Nazura menyakitimu, Sayang?" 


"Ma, suruh dia pergi. Aku muak dengannya! Karena dia aku tidak lagi bisa merebut hati Tuan Roger. Aku ingin menikah dengannya, Ma. Harusnya aku yang menikah dengannya." Suara Lolita mulai meninggi bahkan terdengar sampai ke luar. 


Roger yang kala itu sedang duduk di ruang tamu yang berselebahan dengan kamar Lolita pun, bergegas bangun dan menyusul istrinya. 


"Kenapa, Na?" tanya Roger cemas. Ia langsung menangkup wajah Nazura dan hal tersebut membuat Lolita makin meradang. 


"Tidak apa, Mas. Lebih baik sekarang kita pulang karena Lolita sudah baik-baik saja," ujar Nazura lembut. 


"Tunggu dulu. Aku tidak yakin kamu dalam keadaan baik-baik saja. Katakan padaku ada apa atau aku tidak akan segan-segan—"


"Kalau kamu tidak mau pulang maka saya akan pulang sendiri, Mas." Nazura mengancam dan hendak pergi dari sana. Namun, Roger langsung menahannya. 


"Hai, Nona. Katakanlah apa yang sudah kamu katakan kepada istriku. Aku yakin kalau ada ucapanmu yang menyakiti hatinya." Tatapan Roger ke arah Lolita sangat tajam dan menusuk. Membuat Lolita merasa sedikit takut, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. 


"Tidak. Aku hanya bicara apa adanya. Bahwa seharusnya yang jadi istrimu itu aku bukan dia. Karena aku lebih pantas bersanding denganmu," kata Lolita santai. 


Mendengar jawaban tersebut, sontak membuat Roger mengepalkan tangannya erat. "Kamu pikir aku mau menikah denganmu? Apa yang membuatmu yakin jika kamu lebih pantas bersanding denganku?" 


"Tentu saja aku yakin. Aku lebih cantik, lebih berkelas. Aku ini seorang model, sedangkan dia hanyalah karyawan toko sepatu. Seharusnya aku yang menjadi penebus hutang itu, bukan dia," cemooh Lolita. Nazura menunduk dalam, sedangkan Roger hampir saja memukul Lolita jika tidak ditahan oleh Nazura. 


"Kita pulang, Mas." Nazura berusaha merayu Roger agar emosi lelaki itu tidak makin meluap. 


"Na, apa kamu tidak marah dengan dia yang sudah merendahkanmu? Apa kamu tidak sakit hati dengan ucapannya?" Suara Roger mulai meninggi, sedangkan Nazura kian tertunduk dalam. "Baiklah kita pulang sekarang dan kuharap kamu tidak akan pernah meminta izin padaku untuk datang ke sini lagi karena aku tidak akan pernah mengizinkannya," imbuhnya. 


Roger mendekati Lolita yang tampak gugup. Seringai tipis tampak terlihat jelas dari sudut bibirnya. "Nona, jangan harap aku akan menerima wanita murahan sepertimu. Sebagai seorang model, aku tidak yakin kamu masih perawan. Jadi, kalau kamu mau menikah dengan orang kaya raya, suruh saja orang tuamu berhutang dan menjadikan kamu sebagai penebusnya. Karena aku tidak akan pernah sudi." 


Wajah Lolita memucat ketika mendengar ucapan Roger yang lebih seperti bisikan. Bahkan, ketika Roger keluar bersama Nazura, ia masih terpaku dan sama sekali tidak mendengarkan panggilan dari Nety. 


Pikirannya benar-benar buyar.