Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 41


Demi apa pun, wajah Roger sudah memerah. Lelaki itu tersipu malu ketika mendengar Nazura memanggilnya seperti itu. Panggilan yang sangat mesra menurutnya. Saking gemasnya Roger menciumi pipi Nazura berkali-kali lalu membopong wanita itu masuk ke kamar. 


Nazura hendak menolak, tetapi Roger tidak peduli. Sampai pada akhirnya kedua orang itu saling mengobati kerinduan dengan sebuah percintaan panas. Nazura tidak lagi menolak bukan karena ia wanita murahan, tetapi ini masih bagian dari kewajibannya karena Roger masih berstatus sah sebagai suaminya yang harus ia layani sepenuh hati. 


***


"Hallo. Ini siapa?" Suara Nazura terdengar serak khas orang bangun tidur. Barusan ia masih terlelap, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering dan ia tidak melihat siapa yang meneleponnya. 


"Astaga, Na. Kamu tidak mengenaliku?" tanya Akmal ketus. Ia benar-benar merasa dongkol kepada wanita itu karena tidak dikenali. 


"Maaf, Akmal. Aku tidak melihat tadi karena barusan masih mimpi indah." Nazura terdiam beberapa saat karena ia menguap. Sedikit merentangkan tangan untuk melemaskan otot tubuhnya yang terasa kaku. "Ada apa, Mal?" 


"Inikan hari minggu. Kamu ada rencana mau pergi ke mana tidak? Aku butuh teman untuk jalan-jalan, Na." 


"Sepertinya tidak. Mungkin aku ada acara, tapi siang nanti," balas Nazura. Ia belum menyadari kalau Roger sejak tadi menguping pembicaraan mereka. Lelaki itu sudah memasang wajah tidak bersahabat karena hatinya mulai terasa memanas. 


"Bagaimana kalau kamu menemani aku sarapan. Sekaligus ada hal penting yang mau kubahas denganmu." 


"Hal penting apa?" tanya Nazura penasaran. 


"Ya pokoknya ada. Sangat penting dan kuharap kamu tidak menolak." 


"Em, baiklah." Nazura pun hanya mengiyakan.


"Lebih baik sekarang kamu bersiap dan satu jam lagi aku akan menjemput di kosan. Ingat, pakai baju saja, jangan pakai lama," suruh Akmal. 


"Baiklah."


Panggilan itu pun terputus begitu saja. Namun, Nazura terdiam setelahnya ketika ia menyadari satu hal bahwa dirinya saat ini bukan lagi berada di kos melainkan di apartemen Roger. Ia pun menoleh dan tersentak ketika langsung dihadapkan dengan tatapan Roger yang menajam. Bahkan, Nazura sampai menaruh ponselnya dengan cepat. 


"Tu ... eh, maksud saya ... Mas Roger." Nazura tergagap. 


"Siapa yang menelepon?" tanya Roger ketus karena lelaki itu sedang merasa cemburu. 


"Akmal," balas Nazura cepat. 


"Bu-bukan, Mas. Dia itu sahabat saya waktu kecil," ujar Nazura cepat. Tidak ingin jika Roger salah paham kepadanya. 


"Lalu, untuk apa dia meneleponmu? Bahkan kudengar samar-samar kalian hendak berkencan." Roger mendadak seperti wartawan. Melontarkan banyak pertanyaan sedetail mungkin. 


"Dia mengajak bertemu karena ada hal penting yang ingin dibicarakan." Nazura menjawab jujur. "Mas, saya benar-benar ingin meminta izin kepadamu untuk bertemu dengan Akmal. Apakah boleh?" 


"Kalau aku melarang, bagaimana? Apa kamu tetap akan pergi dengannya?" sela Roger cepat. Ia ingin sekali melihat istrinya kesal. 


"Ya sudah. Saya kirim pesan saja kalau tidak bisa bertemu. Saya tidak mungkin pergi tanpa izinmu." Nazura mengambil ponsel untuk mengirim pesan kepada Akmal, tetapi Roger justru merebutnya dengan cepat. 


"Kembalikan, Mas." Nazura hendak meminta ponsel itu kembali. Namun, Roger justru makin menjauhkannya. 


"Baiklah, aku tidak akan melarang kamu untuk bertemu dengan lelaki itu," kata Roger yakin. Nazura pun menatap lekat mata suaminya untuk mencari kesungguhan di sana. 


"Kamu yakin, Mas? Saya tidak mau kalau itu hanya candaan. Ini sungguh tidak lucu," ujar Nazura. Ia takut kalau suaminya hanya mengerjai dirinya. 


"Tentu saja. Aku mengizinkan kamu untuk bertemu lelaki itu, tapi dengan satu syarat. Eh, bukan satu, tapi dua." Roger tersenyum licik. Membuat Nazura merasa tidak nyaman. Ia khawatir suaminya akan meminta macam-macam. "Kamu mau menyanggupi tidak?" 


"Em, baiklah. Apa syaratnya?" tanya Nazura. Ia sudah bersiap untuk mengambil kemungkinan terburuk. 


"Yang pertama aku akan ikut kamu bertemu dengan lelaki itu dan yang kedua aku ingin kamu memberi pelayanan yang memuaskan." 


"Apa itu pelayanan yang memuaskan?" Kening Nazura mengerut dalam karena belum paham maksud ucapan Roger. 


"Tentu saja ini." 


Nazura terkejut saat Roger tiba-tiba menindih tubuhnya dan langsung menciumi wajahnya. 


"Kita bercinta dulu, setelah ini aku akan mengantarmu bertemu lelaki itu." 


Pada akhirnya, Nazura luluh oleh sentuhan Roger. Mengulangi hal semalam yang sudah mereka lakukan. 


Lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu bertemu lelaki itu sendirian. Aku penasaran apa yang akan dikatakannya. Awas saja kalau dia sampai mengatakan cinta padamu maka aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran untuknya. Batin Roger.