
Sambil menggendong Gavi, sesekali Bryan melirik Rosa yang masih tampak murung. Ada kesedihan yang bisa dirasakan oleh Rosa, lebih tepatnya rasa menyesal dan Bryan pun merasakan itu. Ia juga sama menyesalnya.
"Sudahlah, Ros. Biarkan semua berlalu. Tugas kita sekarang adalah membenahi semua ini. Aku juga menyesal dan merasa egois, tapi waktu terus berjalan dan kita tidak akan mungkin memutarnya kembali," ujar Bryan. Ia sengaja menatap Gavi untuk menghindari pandangan Rosa. Tidak ingin jika wanita itu melihat kesedihannya.
"Iya, Mas. Aku setuju itu. Aku akan terus berusaha memperbaiki diri," kata Rosa. Mendes*hkan napas ke udara secara kasar.
"Semangat, Ros. Aku akan selalu mendukungmu." Kali ini, Bryan menoleh ke arah Rosa yang sedang tersenyum simpul.
Lelaki itu merasa terpikat dan ingin sekali mencium wanita tersebut. Namun, ia masih gengsi. Jadi, Bryan mencium Gavi untuk melampiaskan rasa gemas yang dirasakannya.
"Ros, seandainya aku mengajakmu kembali. Hidup bersama selamanya dan berjanji akan saling menyayangi, apakah kamu akan menerimaku?" tanya Bryan hati-hati. Ia harus berani dan tidak ingin semakin lama hanya memendam perasaan itu.
Rosa membungkam rapat mulutnya karena hatinya belum sepenuhnya yakin. Banyak hal yang membuatnya meragu. Namun, ketika melihat sorot mata Bryan yang dipenuhi kesungguhan, membuat wanita itu merasakan debaran lain dan ingin sekali dekat dengan Bryan lagi.
"Kalau kamu tidak mau, tidak apa." Bryan tersenyum getir. Tidak mendapat jawaban dari Rosa membuat Bryan tersadar bahwa keinginannya mendapat penolakan. Ia pun tidak ingin makin berharap lagi. Biarlah berjalan sendiri-sendiri jika memang Rosa tidak ingin bersatu.
"Mas, maaf. Aku selama ini belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Roger. Aku benar-benar minta maaf sekali. Tapi aku akan menyetujui keinginanmu untuk kembali dan memperbaiki semuanya," kata Rosa lirih.
Bryan terpaku untuk beberapa saat. "Ka-Kamu serius, Ros?" tanyanya belum percaya. Rosa mengangguk cepat. "Syukurlah."
Tanpa sadar Bryan mendaratkan ciuman di pipi Rosa. Hal yang sejak tadi ingin dilakukannya. Sungguh, Bryan merasa sangat bahagia karena Rosa menerimanya kembali, sedangkan Rosa tak kuasa menahan air mata haru. Ia berharap semoga ini adalah awal kebahagiaan yang sempurna untuknya.
Roger dan Nazura yang sedang tadi diam-diam berdiri di belakang mereka pun, ikut merasa senang. Terutama Roger yang merasa begitu bahagia melihat kedua orang tuanya bersatu. Hal yang sangat diinginkannya sejak bertahun-tahun yang lalu.
"Ciee ... ada yang CLBK, nih." Roger mendekat dan terus menggoda kedua orang yang sedang saling malu-malu.
"Apaan, sih." Rosa memalingkan wajah. Ia benar-benar salah tingkah. Begitu pun dengan Bryan yang berusaha fokus kepada Gavi karena tidak ingin ikutan salah tingkah.
Andai orang tuaku masih ada. Aku pasti akan merasa lebih bahagia lagi. Lihatlah, Pa, Ma. Putrimu sudah bisa memberi cucu untuk kalian meskipun kalian tidak bisa menggendong. Aku yakin kalian pasti tersenyum bahagia dari atas sana. Semoga papa dan mama selalu bahagia di surga. Aku sayang kalian.
Nazura menghapus air mata dengan cepat. Tidak ingin jika ada yang tahu kalau ia sedang menangis saat ini. Nazura pun tidak berniat untuk bergabung, ia hanya berdiri cukup jauh dan menatap haru ke arah tiga orang yang masih berpelukan erat. Memberikan waktu kepada mereka saling meluapkan kebahagiaan.
"Eh, Na. Maaf, aku sampai melupakanmu." Roger melerai pelukan tersebut lalu berjalan menghampiri istrinya dan menarik tubuh wanita itu masuk dalam dekapan eratnya.
"Terima kasih banyak, Na." Roger mencium kening Nazura sangat lama.
"Terima kasih untuk apa, Mas? Kamu tidak perlu berterima kasih pada saya. Harusnya saya yang berterima kasih kepadamu." Nazura menimpali.
Roger melepaskan pelukan tersebut lalu menangkup wajah istrinya dan sedikit mendongakkannya hingga tatapan mereka pun beradu.
"Karena kamu, aku dan keluargaku bisa bersatu. Karena kamu, aku memiliki putra yang tampan. Karena kamu aku memiliki wanita yang luar biasa. Karena kamu kebahagiaanku terasa sangat sempurna. Semua karena kamu, Na. Terima kasih."
"Saya juga bahagia, Mas."
Roger pun mencium lembut bibir Nazura. Membenamkan ciuman itu makin dalam untuk meluapkan segala rasa bahagia yang mereka rasakan kali ini.
"Ehem! Sepertinya Gavi ingin bersama Daddy. Opa juga ingin bermesraan dengan Oma." Bryan menghentikan acara ciuman tersebut dan menyerahkan Gavi kepada Roger yang sedang terkekeh.
"Ayo, Ros. Lebih baik kita ke kamar. Aku tidak mau kalah dengan anak muda," ajak Bryan tanpa malu. Ia hanya tergelak ketika Rosa justru memukul lengannya dan terlihat kesal.
"Sana! Tapi ingat, aku tidak mau punya adik lagi. Jangan sampai Gavi punya om yang lebih muda dari usianya," ancam Roger dan langsung disambut gelakan tawa oleh mereka semua.