
Nazura menyenggol lengan Devi karena merasa penasaran dengan lelaki yang berdiri di depan mereka. Lelaki itu sejak tadi terus tersenyum meskipun tidak ada yang membalas senyumannya.
"Untuk apa kamu datang ke sini, Mas?" tanya Devi lagi karena tadi belum mendapat jawaban.
"Menyusulmu. Bapakmu bilang, aku harus menyusul kamu sekarang dan kita harus pulang segera," kata lelaki berkulit sawo matang memakai kemeja batik.
"Loh, memangnya ada apa? Apa ada sesuatu hal yang terjadi?" tanya Devi cemas. Melihat wajah Saifur, lelaki yang sebentar lagi menjadi suaminya, mendadak sendu membuat Devi berusaha untuk menerka-nerka.
"Nenek masuk rumah sakit lagi. Kami semua sudah berusaha menghubungi kamu, tapi ponselmu tidak bisa dihubungi dari semalam. Jadi, bapak nyuruh aku buat jemput kamu dan kita pulang sekarang juga," jelasnya.
Wajah Devi yang tadi terlihat biasa saja pun kini penuh dengan kecemasan. Pikirannya benar-benar kalut. Entah mengapa, ia merasa hatinya sangat khawatir dengan keadaan sang nenek.
"Ponselku sepertinya kehabisan baterai dari kemarin. Aku tidak memegang ponsel sama sekali. Kalau begitu kita pulang sekarang saja," ajak Devi.
Ia berpamitan kepada mereka semua terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang ke kampung. Nazura pun tidak bisa ikut karena masih ada acara di sana dan tidak mungkin meninggalkan para tamu begitu saja. Nazura hanya mendoakan semoga nenek Devi lekas membaik dan sehat seperti sedia kala.
***
"Duduklah, Na." Roger merasa pusing karena sejak tadi Nazura terus mondar-mandir di samping tempat tidur. Terus memegang ponsel dan beberapa kali melihat ke layar. Jika belum ada pesan, Nazura akan mengembuskan napas kasarnya.
"Saya cemas, Mas. Kenapa Devi belum menghubungi. Saya takut terjadi apa-apa," keluh Nazura. Saking cemasnya, Nazura sampai tidak selera makan dan hal itu membuat Roger mengomel. Padahal wanita itu sedang menyusui dan harus makan banyak terutama sayur.
"Mungkin masih sibuk di sana. Kalau sudah longgar pasti akan menghubungi kamu. Jadi, lebih baik sekarang kamu duduk tenang. Aku pusing melihatmu seperti kipas angin, Na." Roger menarik paksa istrinya dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.
Baru saja duduk, ponsel Nazura langsung berdering dan wanita itu kembali berdiri saat melihat nama sahabatnya tertera di layar. Ia menerima panggilan tersebut dengan tidak sabar.
"Hallo, Dev. Bagaimana keadaan nenekmu?" tanya Nazura. Hati wanita itu mendadak cemas ketika mendengar isakan dari seberang telepon.
"Na, aku minta doamu, semoga nenekku dimudahkan." Suara Devi tidak terlalu jelas karena penuh dengan isakan.
"Maksudnya? Katakan yang jelas, Dev." Nazura mendadak tidak sabar sendiri.
"Nenekku sudah kritis, Na. Kata dokter kita tinggal mendoakan saja dan aku sedang berusaha mengikhlaskannya," sahutnya.
"Mas, besok kita ke kampung ya. Neneknya Devi sedang kritis," ajak Nazura. Roger hendak menolak, tetapi Nazura terus memaksa. Pada akhirnya Roger pun mengiyakan dan sore harinya mereka langsung berangkat ke kampung bersama kedua keluarganya. Baik keluarga Bryan maupun Bima.
***
Dua mobil mewah berhenti di pelataran rumah nenek Devi yang tampak ramai. Perasaan Nazura pun cemas ketika melihat tenda terpasang di sana dan ada bendera putih yang menyambut mereka.
"Ma-Mas." Jantung Nazura berdegup kencang bahkan lidahnya mendadak kelu.
"Sabar dulu. Lebih baik sekarang kita turun." Roger sudah tahu pasti apa yang terjadi, tetapi ia harus tetap bersikap biasa saja di depan istrinya. Jangan sampai membuat istrinya makin panik.
Nazura tidak sabar. Bahkan, ia sampai meninggalkan mereka semua dan berlari masuk. Ketika sampai di ruang tengah, Nazura terkejut ketika melihat Devi sedang menangis di samping jenazah neneknya, sedangkan Saifur sedang berjabat tangan dengan Heru, ayahnya Devi.
"Ini ada apa, Dev?" tanya Nazura bingung. Ia menatap semua orang di sana satu persatu dan semuanya menunjukan kesedihan.
"Aku akan menikah, Na," sahut Devi di sela isak tangisnya.
"Sekarang?" tanya Nazura tidak percaya. Devi pun mengangguk lemah.
"Iya."
"Kamu jangan gila, Dev! Aku bahkan belum mengucapkan bela sungkawa," sergah Nazura. Ia menggeleng dan sesekali berdecak keras.
"Ini atas perintah nenek, Na. Sebelum pergi dia meminta aku menikah. Jika, dia sudah pergi sebelum aku menikah, maka aku harus menikah saat itu juga tepat di samping jenazahnya."
"Ya Tuhan, Dev." Nazura pun memeluk erat sahabatnya dan berusaha untuk memberi ketegaran.
Setelah suasana sedikit tenang, ijab kabul pun dilangsungkan. Devi pun kini resmi menyandang gelar sebagai istri Saifur.
Kemudian, jenazah nenek Devi pun dikembumikan setelahnya.