
Air mata Nazura tidak bisa ditahan lagi. Antara gelisah dan takut yang ia rasakan teramat dalam. Apalagi ketika melihat rahang Roger yang terlihat mengetat. Nazura benar-benar khawatir akan amarah lelaki itu. Namun, ia pun tidak mungkin menutupi semuanya lagi. Ia sudah berjanji kepada Soraya.
"Karena mereka kamu berani mengajakku bercerai?" tanya Roger menuntut jawaban.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi saya sudah berjanji akan bercerai dengan Anda. Saya tidak mau melanggar janji saya sendiri," kata Nazura begitu memohon.
"Janji yang gila! Kamu benar-benar gila karena sudah berjanji seperti itu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah—" Ucapan Roger tercekat di tenggorokan ketika melihat Nazura yang justru bersimpuh di depannya. Makin menambah amarah lelaki tersebut. "Bangun! Jangan menjadi wanita rendahan dengan tidak punya harga diri seperti ini!"
"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin memohon kepada Anda. Saya yang salah di sini. Seharusnya sejak awal saya tidak menerima tawaran untuk menikah dengan Anda. Saya sangat bersalah karena sudah menyakiti hati wanita lain." Nazura mengusap air matanya yang kian mengalir deras, sedangkan Roger hanya menatap tanpa berbicara apa pun.
"Tuan, saya mohon dengan sangat. Lepaskan saya. Ceraikan saya karena sungguh saya tidak akan pernah pantas menjadi istri Anda. Saya yang terlalu berlebihan karena menyanggupi pernikahan ini tanpa berpikir terlebih dahulu," ujar Nazura.
"Kamu menyesal karena sudah menikah denganku?" tanya Roger kesal.
"Tidak, Tuan. Saya justru senang dan berterima kasih kepada Anda karena sudah memberikan saya hidup yang mewah. Namun, sekali lagi, Tuan. Saya tidak ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milik orang lain. Saya tidak akan pernah pantas bersanding dengan Anda."
"Lalu, kamu pikir siapa yang pantas?" tanya Roger ketus.
"Nona Soraya." Nazura menjawab cepat.
Roger pun terdiam saat itu juga. Benar-benar melupakan satu hal bahwa ia memiliki Soraya. Ya, bahkan Roger menjaga wanita itu dengan sangat baik. Namun, di pertengkaran ini ia sungguh tidak mengingat Soraya sama sekali karena yang ada dalam pikirannya adalah Nazura.
"Lebih baik sekarang kamu pergi tidur. Jangan bahas apa pun lagi. Aku lelah dan butuh istirahat karena besok ada rapat," perintah Roger. Ia ingin menyudahi pembicaraan tersebut.
"Tapi, Tuan—"
"Kalau kamu tidak mau tidur juga maka jangan salahkan aku kalau besok pagi pamanmu sudah meninggal dunia," ancam Roger. Ia merebahkan tubuh di ranjang dan tidur membelakangi Nazura.
Merasa takut dengan ancaman suaminya, Nazura pun memilih naik ke atas ranjang dan ikut tidur membelakangi suaminya. Tubuh Nazura tiba-tiba menegang ketika tangan Roger sudah melingkar di perutnya. Nazura berusaha menyingkirkan, tetapi Roger terus saja menahan tangannya hingga membuat Nazura menyerah dan membiarkan tangan Roger tetap berada di sana.
***
Keesokan paginya Roger meraba samping tempat tidur dan hendak memeluk Nazura. Namun, ia sama sekali tidak merasakan ada orang di sana. Dengan segera, Roger membuka mata dengan paksa dan ketika menoleh ke samping, ia memang tidak melihat keberadaan Nazura sama sekali.
Roger pun bergegas turun dari ranjang dan berjalan tergesa keluar dari kamar. Berharap Nazura ada di dapur sedang memasak untuknya. Namun, lagi-lagi hanya bayangan wanita itu saja yang terlihat sedang memasak padahal kenyataannya tidak ada.
Hati Roger pun mendadak cemas dan khawatir. Takut Nazura pergi meninggalkannya. Ia beralih mengitari seluruh ruangan di apartemen tersebut, tetapi Nazura benar-benar tidak ada.
Roger pun menghempaskan tubuh ke sofa dan mengusap wajahnya secara kasar. "Ya Tuhan, ke mana Nazura."
Lelaki itu terlihat sangat frustrasi.