Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 73


Roger memijat pelipis saat merasakan pusing yang teramat hebat. Pandangannya terasa berputar cepat dan itu memicu rasa mual hebat setelahnya. Bahkan, terkadang Roger sampai mengeluarkan segala makanan yang sudah masuk ke perutnya. Roger pun sampai tidak berangkat ke kantor dan hanya rebahan di atas ranjang saja. 


"Kamu sudah merasa lebih baik, Mas?" tanya Nazura cemas. Memberikan secangkir air jahe hangat untuk suaminya sebagai pereda mual. 


"Sudah lumayan." Roger masih terus memijat pelipis meskipun rasa pusingnya tidak seperti tadi. "Apa Dokter Vena sedang ke sini?" 


"Ya. Tadi bilang sedang perjalanan ke sini. Mungkin sebentar lagi sampai," sahut Nazura. Roger pun mengangguk mengiyakan. 


"Mam ... Mam ...." 


Nazura menoleh ke arah pintu dan tersenyum melihat Gavi yang baru masuk bersama Rosa. Tidak ada pengasuh khusu untuk merawat Gavi karena memang Nazura ingin mengasuh putranya sendiri. Nazura pun berjalan mendekati sang putra, menggendongnya dan menghujami dengan banyak ciuman. Balita itu tergelak ketika merasa geli oleh ciuman sang mama. 


Gavi baru berusia sebelas bulan, belum bisa berjalan, tetapi sudah mulai bisa berbicara sedikit demi sedikit. Nazura pun merasa sangat bahagia dan tidak pernah melewatkan setiap momen perkembangan putranya. 


"Pa ... Pa ...." Gavi menunjuk Roger, bahkan memaksa turun dari gendongan Nazura. 


Nazura pun menurunkan Gavi tepat di samping Roger. Balita itu langsung rebahan di atas tubuh Roger bahkan sudah memukul-mukul dada bidang sang papa seperti sedang memukul drum. Tak ayal, hal itu membuat Roger terkekeh dan mengajak putranya bermain. Sampai ia lupa pada rasa pusing yang sedang dirasakan. 


Selang beberapa menit, Dokter Vena datang dan langsung memeriksa Roger. Namun, kening wanita itu mengerut dalam hingga membuat Roger cemas sendiri. 


"Kenapa, Dok?" tanya Roger tidak sabar. "Apa saya terkena penyakit mengerikan?" 


"Tidak. Semua normal dan baik-baik saja. Bahkan, tidak ada penyakit apa pun yang terlihat," sahut Dokter Vena. Kembali melakukan pengecekan. 


"Tapi kepala saya sangat pusing dan semua terasa berputar. Bahkan, sampai saya mual," keluh Roger.


"Apa itu berlaku sepanjang hari?" tanya Dokter Vena. 


"Tidak, Dok. Hanya pagi. Setelah lewat jam sepuluhan, mual dan pusing itu sudah mereda bahkan hilang. Makanya saya heran, Dok." 


Dokter Vena mengangguk sambil membulatkan bibir penuh. "Kalau begitu, yang seharusnya diperiksa adalah Nona Nazura."


"Loh, kenapa saya, Dok?" Nazura menunjuk dirinya sendiri karena bingung. 


Dokter Vena tidak langsung menjawab. Ia justru tersenyum simpul hingga membuat Nazura merasa makin bingung. Khawatir terjadi apa-apa dengan dirinya padahal ia merasa baik-baik saja selama ini. 


"Nona Nazura, apakah Anda melakukan KB?" tanya Dokter Vena memulai. 


"Tidak, Dok. Tapi kita selalu memakai pengaman ketika bercinta," sahut Nazura ragu. Sepertinya ia tahu ke mana arah pembicaraan Dokter Vena.


"Lalu, apa sekarang Anda sudah terlambat datang bulan?" tanyanya lagi. 


Nazura terdiam beberapa saat. Ah, iya baru ingat kalau dirinya sudah lebih dari dua minggu telat datang bulan. "I-iya, Dok. Sekitar dua minggu." 


"Kalau begitu, silakan gunakan tespack ini. Sepertinya, Tuan Muda Gavi sebnatar lagi akan memiliki adik," ujar Dokter Vena disertai senyum menggoda. 


Nazura pun mendadak gugup saat menerima alat test kehamilan dari Dokter Vena. Lalu bergegas ke kamar mandi untuk memeriksa. Rosa dan Roger menunggu di kamar dengan harap-harap cemas. Bahkan, saking tidak sabarnya Roger sampai meminta Rosa untuk menggendong Gavi dan dirinya menyusul Nazura di kamar mandi. 


"Bagaimana, Na?" tanya Roger tidak sabar. 


Nazura hanya diam dan menunggu. Ia pun memejamkan mata ketika mengangkat tespack itu. Lalu ketika membuka mata, Nazura dan Roger terpaku beberapa saat ketika melihat dua garis terlihat jelas di sana. 


"Ma-Mas, saya hamil." Nazura menatap suaminya dengan tidak percaya. 


"Ya Tuhan, kamu hamil, Na." Roger kegirangan. Bahkan, ia sampai menghujami Nazura dengan banyak sekali ciuman. Wajah mereka terlihat dipenuhi binar kebahagiaan. 


Roger pun menarik Nazura keluar dari kamar mandi. Lelaki itu sudah terlihat sangat sehat, tidak selesu tadi. Melihat gelagat putra dan anak menantunya, Rosa mengulas senyum dan mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh mereka. 


***


"Devii!!" 


Nazura berteriak histeris ketika melihat kedatangan Devi ke rumahnya. Sudah lama sekali mereka tidak bersua karena semenjak kepergian sang nenek, Devi menetap di kampung bersama suaminya. Selama beberapa bulan mereka hanya saling bertukar suara atau sesekali melakukan video call saja. 


"Aku kangen kamu, Na." Devi memeluk sahabatnya erat. Ia pun sama rindunya dengan wanita itu. 


"Aku juga." Nazura pun membalas pelukan tersebut tak kalah erat lalu setelahnya mengajak Devi agar duduk. Kedatangan Devi tidaklah sendiri, tetapi wanita itu datang bersama dengan Saifur. "Mari, Pak Lurah. Silakan masuk."


"Terima kasih, Mbak." Saifur sedikit membungkuk hormat. 


"Sama-sama, Pak Lurah." 


Nazura terkekeh ketika Devi sudah menyenggol lengannya. Bahkan, tatapan Devi sudah sedikit menajam. Ia kesal karena Nazura memanggil suaminya dengan embel-embel Pak Lurah. 


"Apaan, sih, Dev." Nazura berlagak santai dan mengajak mereka untuk masuk ke ruang tamu. 


"Ngapain kamu panggil suamiku Pak Lurah-Pak Lurah, menyebalkan," protes Devi. Menghempaskan tubuhnya secara kasar di sofa. 


"Loh, bukannya bener 'kan? Nanti kalau aku panggil suami kamu Pak RT, atau Pak Presiden sekalian, kamu makin protes," timpal Nazura santai. Devi tidak menyahut lagi karena ia memilih diam daripada kalah bicara dengan Nazura. 


"Siapa, Na?" tanya Rosa yang baru keluar dari ruang tengah bersama Gavi dalam gendongan. 


"Devi, Ma." 


Devi pun bangkit berdiri dan menyalami Rosa. Lalu hendak mengambil alih Gavi dari gendongan Rosa, tetapi balita itu justru menolak. Jarang bertemu membuat Gavi merasa asing dengan wanita itu. 


"Ayo, Sayang. Ikut tante." Devi masih berusaha merayu, tetapi Gavi menggeleng dan hampir menangis. Dengan terpaksa, Devi pun kembali duduk dan mengobrol bersama Nazura. Tidak mau memaksa daripada Gavi paduan suara, bisa jadi rumah itu akan penuh oleh suara nyanyian Gavi. 


"Kamu udah hamil belum, Dev?" tanya Nazura hati-hati karena takut menyinggung perasaan Devi. 


"Justru itu aku datang ke sini, Na. Aku mau memberi kabar bahagia untukmu. Karena kabar ini sangat penting jadi aku memilih untuk mengatakan langsung padamu." Devi menjeda ucapannya sesaat. "Aku hamil, Na." 


Senyum Nazura mengembang sempurna. "Wah, aku sangat bahagia dengan kabar ini, Dev. Selamat ya." Nazura memeluk Devi untuk meluapkan kebahagiaannya. 


"Makasih banyak, Na." 


"Semoga bayimu perempuan dan kita bisa besanan nanti," kata Nazura antusias. 


"Ya Tuhan, Na. Calon anakku aja belum lahir sudah mau kamu jodoh-jodohin.  Lagian, nih, ya. Kalau anakku cewek mah oke aja, gimana kalau ternyata anakku cowok? Masa iya cowok sama cowok," cebik Devi. 


"Ya, nanti kalau anakmu cowok, kita jodohin sama anakku yang masih di perut ini," ucap Nazura. 


"Maksud kamu?" Alis Devi saling bertautan karena belum paham maksud ucapan Nazura. 


"Aku sedang hamil lagi, Dev." 


"Apa! Kamu hamil lagi?" tanya Devi belum percaya. Nazura mengangguk cepat sambil tersenyum lebar. "Astaga, lancar sekali, Na." 


"Ish! Lancar apanya?" Senyum Nazura memudar berganti dengan dengkusan kasar. 


"Lancar buatnya. Gavi belum  setahun aja udah mau punya adek." Devi melipat bibir untuk menahan tawa, sedangkan Nazura sudah tampak kesal kepada sahabatnya. Ya, meskipun sebenarnya ia tidak benar-benar kesal kepada wanita itu.