Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 56


Alis Nazura terlihat saling bertautan ketika menyadari kalau mobil yang dikemudikan oleh Roger tidaklah mengarah ke rumah Rosa. Mobil tersebut justru melaju berlawanan arah dari jalan yang seharusnya dilewati. Nazura beberapa kali bertanya, tetapi Roger tidak sekalipun menjawab. Hanya tersenyum tipis dan itu mampu membuat Nazura makin merasa heran. 


"Sebenarnya kita mau ke mana, Mas?" tanya Nazura. Entah itu pertanyaan keberapa yang sudah dilontarkan oleh wanita itu dan tidak sekalipun mendapat jawaban dari Roger. Makin jauh mobil melaju, Nazura justru makin merasa tidak asing dengan jalanan yang dilewati. Persis seperti jalan menuju ke rumahnya atau lebih tepatnya rumah peninggalan orang tuanya.  


"Kenapa berhenti, Mas?" tanya Nazura ketika mobil itu berhenti di tepi jalan. Nazura mengamati area sekitar ia makin yakin kalau dirinya tidak salah mengenali tempat tersebut. Sudah dekat dengan rumahnya. Rumah yang sekarang sudah menjadi milik Roger. 


Walaupun waktu sudah malam, tetapi Nazura masih bisa memahami dengan jelas karena jalanan tersebut selalu dilewatinya setiap hari. 


"Aku ingin kamu menutup mata." Roger memasangkan sebuah penutup mata. Namun, Nazura menolak cepat. 


"Saya tidak mau, Mas. Katakan pada saya, sebenarnya ada apa ini? Dan kita mau ke mana." Nazura menatap dalam kedua mata suaminya untuk mencari jawaban. Namun, semua seperti teka-teki untuknya. 


"Aku hanya ingin memberi kejutan untukmu. Jadi, kumohon kamu mau menutup matamu." Roger berusaha untuk terus merayu. Dengan terpaksa Nazura pun mengiyakan dan membiarkan Roger membantunya menutup mata. 


Mobil itu pun melaju kembali, tetapi hanya sebentar lalu berhenti. Nazura hendak membuka penutup mata tersebut, tetapi Roger melarang dan meminta Nazura tetap memakainya. 


"Kamu benar-benar membuat saya penasaran, Mas." Nazura menggerutu. Roger tidak peduli dan tetap menuntut istrinya dengan hati-hati agar tidak terjatuh. 


"Surprise!!!" 


Nazura tersentak ketika Roger membantunya membuka penutup mata, ia langsung disambut oleh Rosa, Devi, dan beberapa orang terdekat mereka. Bahkan, Akmal yang barusan masih di rumah sakit pun kini sudah berada di sana. 


"I-Ini apa, Mas?" tanya Nazura bingung. Ia menatap Roger yang sedang tersenyum puas. 


"Kejutan untukmu." Roger mencium pipi Nazura dengan lembut. "Apa kamu suka? Selamat ulang tahun, istriku." 


Wanita itu membungkam rapat mulutnya dan tidak mampu lagi berkata-kata. Ia tidak menyangka jika Roger akan memberikan kejutan semanis ini. Mampu membuatnya terpukau. 


"Na, rumah ini sekarang sudah menjadi milikmu sepenuhnya. Aku sudah menggantinya atas nama kamu. Anggap saja ini sebagai kado ulang tahunmu," kata Roger dengan bangga. 


Lagi-lagi lelaki itu mampu membuat Nazura spechless. 


"Kamu tahu hari ini saya ulang tahun, Mas?" tanya Nazura masih belum percaya. 


"Tentu saja. Aku sengaja membuat kejutan untukmu. Kalau begitu sekarang kita bergabung dengan mereka." Roger merangkul Nazura dan mengajaknya bergabung dengan mereka. 


Namun, Nazura kembali terperangah ketika melihat teman kerja dan bosnya di toko kue, keluar dari ruangan dalam dengan membawa serta kue ulang tahun besar serta menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Yang membuatnya makin terkejut adalah kue besar tersebut sama persis dengan kue yang berada di tokonya tadi siang. 


"Ya. Aku yang memesan kue ini di toko tempatmu bekerja dan sengaja merahasiakan agar kamu tidak curiga sekaligus supaya kejutan yang sudah aku siapkan bisa berjalan lancar," jelas Roger memotong ucapan Nazura. 


Tidak ada yang dilakukan Nazura selain menutup mulut karena terharu sekaligus menahan tangisannya. Sungguh, ini adalah hal yang paling indah untuknya. Seperti apa katanya dan Nindy tadi pagi, ia adalah wanita beruntung karena mendapat suami yang romantis, gagah, dan kaya raya. 


Setelahnya acara pun dilanjut dengan makan bersama juga mengobrol banyak hal. kebahagiaan terlihat jelas terpancar dari mereka semua yang ada di sana. Bahkan, malam ini Roger mengajak Nazura untuk menginap di rumah itu. Tentu saja hal tersebut membuat Nazura merasa gembira. Saking senangnya, Nazura mengecup pipi Roger berkali-kali hingga membuat wajah lelaki itu merona merah. 


Ia salah tingkah sendiri. 


***


"Tuan, ada orang yang mencari Anda." 


Roger terheran ketika asistennya berbicara seperti itu. Padahal ia merasa tidak memiliki janji dengan siapa pun. 


"Siapa?" tanya Roger tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer. 


"Tuan Bryan. Saat ini sedang menunggu di lantai bawah, Tuan," sahutnya sopan. 


"Papa? Kalau begitu suruh dia masuk saja." Roger memberi perintah dan tetap melanjutkan pekerjaan sampai Bryan masuk ke ruangan tersebut. 


Ketika melihat Bryan sudah masuk, Roger pun segera menghentikan kegiatannya dan menyuruh lelaki paruh itu untuk duduk di sofa. Roger pun menyusul duduk di sana dan menyuruh anak buahnya agar pergi dan hanya meninggalkan mereka berdua saja. 


Cukup lama duduk berdua, Roger dan Bryan sama-sama saling menutup rapat mulut mereka. Tidak tahu dari mana mereka akan mulai berbicara. 


"Pa, ada apa datang ke sini? Papa sudah tidak di Jogja lagi?" tanya Roger pada akhirnya memecah kesenyapan itu. 


"Papa sudah kembali dua hari lalu. Semua urusan sudah selesai dan papa akan menetap di sini," kata Bryan. Kening Roger justru mengerut dalam dan menelisik wajah sang papa dengan teliti. 


"Menetap? Apa Papa akan kembali tinggal bersama mama?" 


"Sepertinya tidak. Hubungan kita sudah sangat asing dan papa tidak ingin mengganggu mama kamu. Dia sudah bahagia sekarang. Mungkin lebih baik jika kita berjalan dengan takdir masing-masing. Papa sudah membeli apartemen untuk tinggal di sini," jelas Bryan. 


"Pa, apa Papa yakin tidak ingin kembali bersama mama? Bagaimana kalau ternyata mama sayang sama papa? Bagaimana kalau aku mengharap kalian bersatu. Apa papa tetap tidak akan mengabulkannya?"