
Gadis bersimpuh dihadapan kedua orangtuanya, dia menangis sejadi-jadinya. Seorang perempuan tua duduk di pojok ruangan menyendiri dengan isak tangisnya. Hanya suara tangis yang terdengar di ruangan itu.
"Nek, bisakah nenek menolongku, lepaskan Gadis, Nek...Gadis ngga mau menikah, Gadis pengin kuliah seperti teman-teman Gadis...Gadis belum siap untuk menikah, huu huu..."tangis Gadis semakin menjadi. Ibu dari pak Rudi hanya bisa menangis sambil mengelus rambut cucu nya.
"Gadis...nenek ngga bisa bantu, kalau kamu tidak mau menikah kembalikan uang itu kepada Tuan Bagaskara, biarlah semua hutang papa mu menjadi tanggungannya, ini bukan tanggunganmu, ini salah papa mu yang lupa dengan kesenangan duniawi," ujar bu Halimah.
Tak seharusnya Gadis menangung semua kesalahan yang orangtuanya perbuat. Pak Rudi tak mampu menjawab apa-apa atas tuduhan yang ibu nya katakan barusan, ini memang salahnya.
"Gadis, papa akan mencari pinjaman untuk kembalikan mengembalikan uangnya ke Tuan Bagas, biar ini jadi urusan Papa sama Hendro, masa depanmu masih panjang, pergilah kamu dari rumah ini." pak Rudi bergegas masuk ke dalam kamar entah apa yang akan dia lakukan.
Gadis diam, dia memikirkan kembali apa yang terbaik buat dirinya dan keluarganya, selain dirinya dia juga masih punya adik yang masih sekolah. Sangat berat kondisi yang sedang mereka alami saat ini. Tiba-tiba Gadis bangun dan mengejar papa nya dan memeluknya dari belakang.
"Aku mau, menikah sama tuan Bagas, yang penting setelah ini Papa bener-bener tobat, tidak akan judi lagi, dan memcari pekerjaan atau berdagang."
Sejahat apa pun orangtuanya, Gadis tidak tega melihat keluarganya menderita, karena bukan pak Rudi saja yang menderita, tapi mama, nenek, dan juga adiknya.
"Apa yang kamu katakan, Nak...apa Papa tidak salah dengar Gadis? Kamu mau menikah dengan Bagas?" pak Rudi mbalikkan badannya dan memegang pundak Gadis. Gadis mengangguk pelan dihadapan Papa nya.
"Terimakasih sayang, maafkan Papa...Papa tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi, Papa janji..." Mereka saling berpelukan. Pelukan haru, dengan air mata mengalir dari sudut mata Gadis yang sudah kelihatan sembab, karena sedari tadi dia menangis.
Gadis pun akhirnya menerima lamaran dari Bagaskara yang telah meminjamkan uang kepada Papanya untuk menebus semua hutang-hutang Papanya kepada Pak Hendro. Ibu Halimah dan Mamanya menangis sedih melihat kondisi Gadis yang seolah terpaksa menerima pinangan dari Bagaskara, pak Rudi hanya duduk terdiam dia merasa sangat bersalah atas apa yang dia lakukan, karena ulahnya keluarga jadi menderita. Dia benar-benar menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Akhirnya mereka sepakat untuk segera menentukan hari pernikahan Bagas dengan Gadis walaupun hanya diadakan sederhana dan semua ini juga karena permintaan Bagaskara. Karena Gadis hanya dijadikan istri kedua tanpa sepengetahuan istri pertamanya. Harapan semua keluarga semoga Bagaskara adalah orang yang baik, yang bisa adil menyayangi Gadis tanpa membedakan sengan istri pertamanya.
"Papa akan secepatnya menghubungi Bagas supaya dia menentukan hari kapan pernikahan itu akan dilangsungkan. Kamu sudah siap kan kalau kamu hanya dijadikan istri kedua karena Bagas sudah mempunyai istri jadi Papa harap kamu mengikuti aturan yang Tuan Bagas berlakukan ya." kembali pak Rudi memeluk putrinya.
"Iya Pah Gadis nurut aja gimana baiknya menurut papa, yang penting keluarga baik-baik saja," jawab Gadis.
Bu Halimah mendekat dan duduk di samping Gadis," Kamu yang sabar ya, Allah pasti akan melindungi dan memberimu kekuatan," nenek Halimah menasehati.
"Iya, Nek...semoga Allah memberikan kebahagiaan buat kita semua."
Pak Rudi pun segera menelpon Bagas, dia memberitahukan bahwa Gadis putrinya bersedia menikah dan jadi istri kedua. Bagas pun langsung mencari hari untuk pernikahannya. Tak ada rasa curiga terhadap Bagas, yang pak Rudi tahu Bagas adalah orang yang baik.
Bagas menentukan hari pernikahannya dengan Gadis, dia juga memberitahu Nurlita mami nya untuk menyaksikan pernikahannya. Sebelum pernikahan itu terjadi, Bagas menulis perjanjian sepihak yang pastinya sama-sama menguntungkan menurutnya. Pernikahannya bersama Gadis hanya kontrak selama enam bulan, setelah istrinya selesai menempuh pendidikan dia akan menceraikan Gadis.
Usia pernikahannya dengan Delia yang baru tiga bulan terpaksa harus berpisah untuk sementara demi keinginan istrinya yang melanjutkan pendidikannya di Perancis.
"Maafkan aku Delia, cintaku tetap hanya milikmu, dia hanya untuk menemaniku tapi tidak akan memiliki cintaku," ucapnya lirih.
"Sreek sreek sreek..." suara sendal bergesekan dengan lantai mendekat ke arahnya.
"Mami...belum tidur, Mam..." sapanya.
"Belum, lagi mikirin apa yang kamu katakan, kamu sudah memikirkannya masak-masak, apa kiranya aman dari Delia?" tanya Nurlita.
"Selagi gadis belia dan keluarganya tidak membocorkan ngga bakalan ada yang tahu, aku sudah buat surat perjanjian untuk kedua belah pihak, dan untuk saksi cukup keluarga dia sama Mami dan juga Om Bakhtiar itu aja."
"Ya, sudah kalau dirasa menurut kamu itu aman ya ngga papa, Mami nurut aja." Nurlita mengedikkan kedua bahunya sebagai ekpresi pasrah dengan keputusan yang Bagas ambil.
Nurlita menatap wajah putranya yang sedang duduk termenung menatap lurus ke halaman rumahnya. Dia tak habis pikir, kenapa dia mengijinkan Delia melanjutkan kuliahnya ke Luar Negeri bukankah di sini juga banyak universitas yang bagus berkualitas. Aneh aja baru saja menikah tiga bulan sudah pisahan jauh beda negara.
"Kalau Mami udah ngantuk, istirahat aja Mam, aku belum ngantuk, besok libur ini santai."
"Emm, Bagas...akan kamu tempatkan di mana Gadis nanti setelah menikah?" sebuah pertanyaan yang belum sempat terlintas dalam pikiran Bagas.
Sesaat Bagas terdiam, di berfikir sebentar lalu menjawab pertanyaan Mami nya," nanti aku carikan apartemen buat dia, biar dia juga ngga bisa bebas keluar, harus ada pengamanan di sana dan orang yang membantu mengurus apartemen nantinya."
"Mami takut aja, kalau Delia nanti tahu keberadaan Dita, Mami tahu posisi kamu, dan Mami juga tidak akan menyalahkan kamu dalam kondisi seperti ini. Ya, udah...Mami ke kamar dulu ya, kamu juga ngga boleh begadang, jaga kesehatan."
"Iya, Mam...istirahatlah..." Bagas menatap kepergian orang yang sangat ia sayang menuju kamarnya.
Kalau saja Delia tidak melanjutkan pendidikannya ke Luar Negri mungkin jalan ini tidak akan Bagas tempuh. Dia sangat mencintai istrinya, hingga apa pun yang ia inginkan pasti dikabulkannya.
Bersambung...