Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 53


"Na ...." 


Rosa berjalan mendekati anak menantunya itu, tetapi Nazura justru kian menunduk dan jemarinya pun saling merem*s—ia takut. Melihat ketakutan yang dirasakan oleh Nazura, membuat Roger dengan segera merangkul pundak istrinya dan berusaha memberikan ketenangan. 


"Nyo-Nyonya. Maafkan saya." Suara Nazura terbata. Antara gugup dan juga takut. 


"Aku yang seharusnya minta maaf kepadamu, Na. Aku sudah salah selama ini karena menganggap kamu itu buruk padahal sebenarnya kamu ini baik. Tidak seperti yang aku pikirkan. Maukah kamu memaafkanku, Na?" Suara Rosa terdengar lembut dan penuh meminta. 


"Tentu saja, Nyonya. Anda tidak perlu minta maaf karena Anda tidak bersalah. Saya memaklumi sebagai seorang ibu pasti menginginkan apa pun yang terbaik untuk anaknya. Seharusnya saya yang sadar diri di sini." Nazura menjawab lirih tanpa berani mengangkat kepala. Ia masih terus saja menunduk. 


"Ya Tuhan, kamu memang benar-benar sangat baik. Maaf, kalau kemarin banyak ucapanku yang menyakitimu. Na, bolehkah aku memelukmu meski hanya sebentar?" Rosa memohon. Nazura pun mengangguk lemah dan ia terdiam seketika ketika Rosa sudah memeluknya erat. 


Tanpa terasa air mata Nazura mengalir ketika ia merasakan pelukan tersebut. Pelukan seorang ibu yang sangat ia rindukan. Meskipun Rosa bukanlah ibu kandungnya. Sejak kematian ibunya, Nazura sama sekali tidak pernah mendapat pelukan. Dulu ketika masih hidup bersama pamannya, Nety sama sekali tidak mau memeluk Nazura. Yang ada, justru wanita itu terus memarahi Nazura dan menjadikannya sebagai alat pencari uang saja. 


Namun, kini Nazura tidak mampu menahan tangis ketika merasakan pelukan tersebut. Apalagi, Rosa memeluknya sangat erat seperti seorang ibu yang takut kehilangan anaknya membuat Nazura makin yakin kalau wanita itu memang sudah berubah. 


"Kenapa kamu menangis, Na?" tanya Roger cemas saat melihat Nazura mengusap air matanya dengan cepat. 


Rosa pun segera melepaskan pelukan tersebut dan langsung menatap wajah menantunya yang memang terlihat jelas jejak air mata di sana. 


"Apa pelukanku terlalu erat hingga membuat kamu sakit?" Rosa bertanya dengan cemas sendiri. 


Nazura menggeleng cepat. "Tidak, Nyonya. Saya hanya terharu karena selama ini saya sangat merindukan pelukan seorang ibu, dan setelah sekian lama akhirnya saya merasakannya. Rasanya sangat nyaman hingga membuat saya tidak kuasa menahan air mata dan tidak rela saat harus melepaskan." 


"Syukurlah. Aku pikir kamu kenapa-napa." Roger segera mencium puncak kepala Nazura setelah mendengar jawaban wanita itu dan sudah menaruh curiga. Ternyata, jawaban Nazura membuat Roger merasa sedikit lega. 


***


"Ayolah, Na. Kita pulang saja. Sudah dua hari kamu di sini. Aku tidak bisa jika harus jauh darimu terus," rayu Roger. 


"Tapi aku masih betah di sini, Mas. Sejuk dan tentram. Sangat berbeda dengan suasana di kota," ucap Nazura karena memang ia belum ingin kembali ke kota untuk waktu ini. 


"Bagaimana kalau kita kembali ke kota dulu dan aku selesaikan pekerjaanku lalu aku ambil cuti. Setelah itu kita kembali ke sini bahkan aku akan membelikan kamu rumah di sekitar sini agar sewaktu-waktu kita ke kampung sudah punya tempat tinggal," ujar Roger. Masih terus berusaha merayu istrinya. 


Nazura diam dalam kebimbangan. Antara mengiyakan atau menolak. Namun, ketika melihat sorot mata suaminya yang memohon, membuat Nazura dengan berat mengangguk pelan. Hal itu pun sontak membuat senyum Roger mengembang sempurna bahkan lelaki itu tanpa ampun menghujami wajah Nazura dengan banyak ciuman. Lalu mereka tidur saling berpelukan dan berbagi kehangatan karena suasana malam di kampung sangat dingin dan sangat cocok untuk berkembang biak. 


Keesokan paginya, Devi terkejut ketika Nazura mengatakan akan pulang ke kota hari itu juga. Ia pun tidak bisa menolak keinginan sahabatnya karena bagaimanapun juga Roger lebih berhak atas Nazura daripada dirinya. 


Akan tetapi, sebelum pulang ke kota bersama dengan Roger dan Rosa, Nazura terlebih dahulu ke rumah sakit untuk berpamitan kepada nenek Devi yang masih betah dirawat di sana. Ia pun membawa serta Roger dan juga Rosa. 


"Mas, saya nanti mau mampir di toko oleh-oleh ya," pinta Nazura. Roger mengangguk mengiyakan, sedangkan Rosa hanya tersenyum melihat kemesraan mereka. 


"Memangnya kamu mau beli apa?" tanya Roger penasaran. 


"Beli oleh-oleh khas Jogja buat Akmal. Dia pasti senang kalau saya kembali bawa oleh-oleh," sahut Nazura santai. Ia terkejut ketika Roger tiba-tiba menghentikan langkahnya. Bahkan, lelaki itu terpaku cukup lama. Wajahnya yang tadi penuh dengan kelembutan kini terlihat garang dengan rahang yang mengetat. 


Nazura tahu kalau suaminya sedang marah saat ini. Mungkinkah karena ia menyebut nama Akmal hingga membuat lelaki itu cemburu. 


"Roger, kamu kenapa?" tanya Rosa yang juga merasa heran karena sejak tadi Roger hanya diam saja. 


"Mas, maaf kalau saya salah. Saya tidak jadi membeli oleh-oleh untuk Akmal. Saya tidak mau membuat kamu—"


"Papa," gumam Roger. Mengalihkan perhatian Rosa dan juga Nazura. Kedua wanita itu mengikuti arah pandang Roger dan mereka pun sama terkejutnya.


Rosa tidak menyangka akan bertemu dengan suaminya di rumah sakit itu, sedangkan Nazura terkejut karena pria tersebut adalah lelaki yang bertabrakan dengannya kemarin. 


"Papa! Tunggu, Pa!" Roger berteriak mengejar lelaki paruh baya berjalan cepat hendak keluar dari area rumah sakit.