
Soraya yang saat itu baru saja hendak memejamkan mata merasa heran ketika Roger sudah kembali masuk ke ruangannya. Wajah lelaki itu terlihat kusut dan napasnya pun sedikit tersengal. Bahkan, Roger menghempaskan tubuhnya secara kasar di atas brankar, tepat di samping Soraya.
"Kamu kenapa? Tidak menemukan Nazura?" tanya Soraya disertai kekehan.
Sungguh, Roger merasa sangat sebal saat melihat kekehan itu.
"Kamu mengerjaiku 'kan?" tukas Roger kesal.
"Tidak. Aku tidak berbohong padamu. Mungkin, mereka memang sudah pergi."
"Mereka siapa?" tanya Roger heran. Bahkan, keningnya sampai mengerut dalam.
"Nazura dan sahabatnya," sahut Soraya cepat.
"Cewek atau cowok?"
"Cowok. Hahaha." Soraya menjawab disertai gelakan tawa. Ia benar-benar merasa senang ketika melihat Roger yang tampak kesal. Namun, tawa Soraya mereda ketika Roger sudah menyentil keningnya.
"Kamu sangat menyebalkan!"
"Haha aku ingin melihat wajah kesalmu sebelum kita berpisah jauh," kata Soraya. Membuat Roger mengalihkan pandangan matanya kepada wanita itu.
"Kamu mau pergi ke mana?" Roger tampak cemas.
"Jangan khawatir gitu. Aku cuma mau kembali ke luar negeri. Bukankah ini yang kamu mau?" tanya Soraya setengah menyindir Roger.
"Kamu yakin akan kembali ke sana?" Roger berusaha memastikan.
"Tentu saja. Aku bahkan tidak tahu akan kembali ke sini atau tidak. Makanya aku mau pamit." Suara Soraya terdengar lirih dan tertahan. "Sebelum aku pergi, bolehkah aku mengucapkan salam perpisahan untukmu?" Tatapan Soraya begitu memelas.
"Katakan saja, tapi kuharap kamu tidak akan jauh meninggalkanku dan kita akan bertemu lagi suatu saat nanti," kata Roger.
"Tentu saja. Aku hanya ke luar negeri dan kamu bisa menjengukku kapan pun saat kamu merasa rindu." Soraya berusaha tersenyum meskipun batinnya sedang terluka saat ini.
"Roger ... sebelumnya aku mau minta maaf kepadamu karena sudah menyakiti Nazura kemarin-kemarin. Aku tahu kamu sudah mencintainya dan aku tidak akan mungkin bisa mendapatkan hatimu. Maka dari itu aku memilih untuk mundur karena aku lebih sayang pada diriku sendiri."
"Maksudnya?"
Soraya berdecak kesal karena Roger mendadak seperti orang bodoh saat ini.
"Huh! Dasar bodoh!" umpat Soraya tanpa sadar. Ia tidak takut meskipun Roger sudah melotot ke arahnya. Lelaki itu seperti hendak menelannya hidup-hidup. "Biasa aja. Apa kamu mau bola matamu copot?"
Roger sungguh merasa Soraya sedang sangat menyebalkan sekarang ini. "Jangan pancing aku untuk menggigitmu, Soraya."
"Silakan kalau kamu berani." Soraya justru menantang. Namun, Roger justru hanya diam di tempatnya. Melihat Roger yang hanya diam, Soraya pun memudarkan senyumnya perlahan.
Roger benar-benar telah berubah. Bahkan, Soraya merasa kalau Roger tidak seperti dulu lagi yang akan mencium pipi, menggigit lengan ketika sedang merasa gemas. Lelaki itu hanya mengucap akan menggigit, tetapi nyatanya hanya diam di tempat. Seperti sedang menjaga jarak darinya.
Hal itulah yang membuat Soraya lebih memilih untuk mundur sebelum hatinya makin terluka. Karena sadar diri itu sangat perlu. Yang terpenting, ia dan Roger masih bisa bersahabat dengan baik.
"Apa kamu tidak tahu kalau aku mencintaimu? Bahkan aku sangat berharap kita bisa menikah," ujar Soraya jujur. Ia tidak ingin menutupi semuanya lagi. Walaupun ia akan mendapat kenyataan pahit, tetapi itu lebih baik daripada memendam dan tetap akan terluka nantinya.
"Soraya, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa membalas perasaanmu karena bagiku, kamu adalah sahabat, adik, dan ya kesayangan. Tapi, untuk menjalani hubungan yang serius, apalagi menikah. Aku masih harus memikirkannya karena itu masalah perasaan," balas Roger.
"Apa kamu yakin dengan yang kamu ucapkan? Kenapa saat dengan Nazura kamu langsung menikahinya begitu saja padahal dia hanyalah gadis penebus hutang. Kamu bahkan mendaftarkan pernikahanmu secara resmi di agama maupun negara," sarkas Soraya.
Lelaki itu hanya menatap wajah Soraya dengan lekat. Wajah yang biasanya penuh senyum kini terlihat murung. Namun, Roger pun sama seperti Soraya yang tidak bisa menutupi semuanya. Biarlah ia bicara kenyataannya sesuai dengan kata hati.
"Sudahlah, kamu tidak perlu menjelaskan apa pun apalagi mencari alasan karena aku sudah tahu di mana hatimu berlabuh. Maka dari itu aku lebih memilih pergi, benar kata papaku kalau cinta itu tidak akan pernah dipaksa dan cinta juga tidak harus memiliki." Soraya memejamkan mata, menghalau cairan bening yang hendak memaksa keluar dari kedua sudut matanya.
"Maafkan aku, tapi apakah kita akan tetap bersahabat baik setelah ini? Aku tidak mau kehilanganmu," kata Roger cemas. Jujur, ia merasa sangat takut jika harus kehilangan sahabat sebaik Soraya.
"Tentu saja. Sampai kapan pun kamu akan selalu menjadi sahabatku. Kita hanya sebatas bertunangan saat kecil meskipun pada akhirnya tidak sampai pelaminan." Soraya terkekeh meskipun tatapannya tampak nanar.
Roger pun tanpa sadar mengecup kening Soraya. Membuat wanita itu bungkam dan langsung memejamkan mata. Merasakan sebuah ciuman yang mampu membuat jantungnya berdebar kuat. Bahkan, hatinya terasa berdesir—sakit.
***
Tiga hari berlalu, Roger tampak sibuk dengan Soraya yang sudah bersiap untuk kembali ke luar negeri. Ia bahkan hanya menjenguk Rosa beberapa kali itu saja ketika wanita itu sedang tertidur. Namun, Roger menyuruh dua orang pelayan wanita untuk menjaga Rosa karena Bryan sama sekali tidak bisa pulang.
Saking sibuknya dengan Soraya membuat Roger sampai melupakan Nazura beberapa saat. Karena dalam pemikiran Roger, ia akan mengejar cinta Nazura setelah Soraya kembali ke luar negeri karena tidak ada lagi yang menghalangi.
Sementara Nazura pun merasa lebih tenang setelah pembicaraan dengan Soraya kala itu. Ia sengaja tidak mengantar Soraya karena tidak ingin bertemu dengan Roger. Ia benar-benar ingin menghindar dari lelaki tersebut.
"Kamu mau ke mana, Na?" tanya Akmal ketika melihat Nazura sudah rapi padahal wanita itu baru saja pulang bekerja.
"Aku mau ke rumah sakit, Mal. Mau menjenguk seseorang," ujar Nazura.
"Siapa?" tanya Akmal ingin tahu.
"Ibunya temanku. Dia dirawat bahkan sebelum kamu masuk rumah sakit. Kasihan tidak ada yang menunggu karena anaknya sibuk," ujar Nazura.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu," tawar Akmal, tetapi Nazura menggeleng cepat. "Kenapa?"
"Tidak perlu. Sepertinya aku akan lama di sana dan bisa saja menginap. Kamu pulang saja supaya tubuhmu makin lekas pulih," perintah Nazura. Sebenarnya ia merasa tidak enak hati saat Akmal menjemputnya padahal lelaki itu masih sakit setelah mengalami kecelakaan. Namun, lelaki itu begitu memaksa.
"Aku hanya akan mengantar sampai depan rumah sakit, bagaimana? Kalau kamu menolak maka—"
"Baiklah."
Nazura lebih memilih untuk mengiyakan daripada lelaki itu terus memaksa. Ia tidak mau mereka saling mendebatkan hal yang tidak penting seperti itu.
Setelah mengantar Nazura sampai di rumah sakit, Akmal pun menepati ucapannya. Langsung pulang, sedangkan Nazura berjalan menuju ke ruang perawatan Rosa.
Embusan napas kasar Nazura terdengar memecah keheningan di kamar itu. Rosa terbaring lemah di atas brankar dan tidak ada siapa pun di sana karena dua pelayan yang berjaga, sedang keluar dari ruangan.
Ia benar-benar merasa tidak tega ketika melihat wanita itu. Wajahnya terlihat meneduhkan ketika sedang terlelap. Tidak semenyeramkan ketika sedang berbicara dengannya waktu itu.
"Kenapa aku jadi teringat ibuku," gumam Nazura lirih.
Uhuk-uhuk!
Tiba-tiba Rosa terbatuk. Nazura pun bingung dan takut Rosa akan marah kepadanya jika ia di sana, tapi rasa tidak tega membuat Nazura memilih untuk mengambilkan segelas air putih untuk wanita itu. Akan tetapi ....
Prang!
Gelas yang dipegang Nazura justru jatuh dan pecah berhamburan ke lantai setelah Rosa mendorongnya kuat.
"Untuk apa kamu datang ke sini!"