
Dalam sebuah pernikahan, kehadiran seorang buah hati adalah hal yang sangat dinanti. Diidam-idamkan bagi setiap pasangan. Begitu juga dengan Roger yang menikmati setiap momen kehamilan istrinya. Meskipun ia terkadang kewalahan menghadapi mood istrinya yang naik-turun.
"Saya tidak mau, Mas. Saya mual jika makan sayur," tolak Nazura. Menyingkirkan piring yang terletak di depannya. Ia sangat menghindari makanan sehat tersebut.
"Tapi, Na. Kamu harus banyak makan sayur agar calon bayi kita sehat." Roger tidak tahu cara apa lagi yang harus dilakukan agar Nazura bersedia makan sayur. Segala cara sudah dicoba, tetapi Nazura terus saja mual tiap kali ada sayuran yang masuk ke mulutnya.
"Kamu saja yang makan. Saya tidak mau." Nazura justru menaruh sendok dan bergegas masuk ke kamar. Mood wanita itu sudah memburuk dan tidak lagi berselera. Roger pun hanya menatap punggung istrinya dan mendes*h kasar karenanya. Ini bukanlah pertama kalinya Nazura bersikap seperti itu.
"Roger, kamu harus bersabar saat menghadapi Nazura. Wanita hamil memang sering seperti itu. Kita terkadang tidak menyangka dengan apa kemauannya," kata Rosa. Mengusap lengan putranya untuk meredam kekesalan lelaki itu.
"Iya, Ma. Aku pasti bisa melewatinya. Semoga trisemester pertama ini lekas selesai." Roger sangat berharap dan Rosa pun hanya mengamini saja.
Dengan lesu, Roger menyusul Nazura ke kamar. Seperti biasa ketika Nazura sedang kesal, wanita itu tidur di ranjang sambil memakai selimut sampai menutup seluruh tubuhnya. Langkah Roger sangat perlahan lalu naik ke ranjang pun dengan hati-hati agar istrinya tidak menyadari.
"Aku lapar."
Samar-samar Roger mendengar gumaman Nazura yang masih betah menutup diri di bawah selimut. Rasanya, ia ingin tertawa keras, tetapi khawatir jika Nazura mendengarnya, sudah pasti wanita hamil itu akan keluar sungut.
"Kalau lapar harus makan. Jangan ditahan. Kasihan anak kita, dia juga butuh makan." Roger melingkarkan tangan di perut Nazura yang kala itu langsung membuka selimutnya.
"Ish! Sejak kapan kamu di sini, Mas." Nazura membuka selimut secara kasar dan mengerucutkan bibir hingga membuat Roger gemas sendiri. Lelaki itu pun mengecup bibir istrinya dan sedikit melum*tnya.
Nazura yang awalnya hendak menolak, justru mengimbangi permainan lidah itu dan ia berpikir akan bercinta, tetapi salah. Roger menghentikan permainannya dan meminta Nazura untuk makan. Walaupun menolak, Roger tetap memaksanya.
***
"Ya ampun, ibu hamil! Tumben sekali kamu ke sini," pekik Devi yang terkejut melihat Nazura masuk ke dalam toko. Devi bahkan memeluk Nazura untuk meluapkan kerinduannya. Mereka tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama karena Nazura tidak diperkenankan pergi ke mana pun oleh Roger jika tanpa lelaki itu.
"Ya. Aku juga bosan, Dev. Terusan di rumah." Nazura mengeluh. Sambil memilih-milih sepatu yang cocok untuknya.
"Kamu hamil?"
Nazura dan Devi sontak menoleh dan mendengkus kasar ketika melihat Lolita berjalan tergesa mendekati mereka. Nazura dan Devi sama-sama memutar bola mata malas ketika melihat wanita tersebut. Bahkan, Devi terus mengusap perut Nazura sambil bergumam amit-amit. Semoga anak Nazura kelak tidak seperti wanita itu.
"Lolita, kamu di sini? Sedang apa?" tanya Nazura tanpa menjawab pertanyaan Lolita.
"Tentu saja membeli sepatu, dasar bodoh!" umpat Lolita. Devi mendelik dan hampir saja menendang wanita itu jika Nazura tidak segera menahan. "Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku. Apakah kamu sedang hamil?"
"Ya. Aku memang sedang hamil," sahut Nazura.
"Oh, brengsek!" Lagi-lagi Lolita mengumpat kesal.
"Jaga mulut kamu!" bentak Devi tidak terima. Ia tidak peduli meskipun pertengkaran itu memicu perhatian beberapa orang yang hendak membeli sepatu di sana.
Nazura tidak ingin ribut. Ia menyenggol lengan Devi agar menyudahi dan pergi menjauhi Lolita. Namun, Devi belum bisa tenang jika wanita itu masih terus mengumpati Nazura. Walaupun ia tahu Lolita adalah sepupu Nazura, tetapi ia sudah paham bagaimana perangai wanita itu.
Nazura terkejut ketika ponselnya berdering. Ia pun segera menerima panggilan tersebut dan berjalan menjauh dari mereka. Nazura tidak ingin jika Roger sampai mendengar ada suara Lolita di sana. Mendengar betapa mesranya Roger dengan Nazura, membuat hati Lolita serasa memanas.
"Aku benci kamu karena sudah mengambil semua kebahagiaanku!" Lolita mendorong Nazura hingga wanita hamil itu jatuh terjerembab dan Devi memekik keras.
"Nazura!" Devi berlari cepat mendekati Nazura yang sedang duduk sambil meringis kesakitan, sedangkan Lolita sudah kabur karena takut ketika melihat tatapan semua orang mengarah kepadanya.
"Sakit sekali, Dev," rintih Nazura. Ia tidak menyadari kalau sejak tadi Roger terus memanggilnya dengan penuh kekhawatiran karena panggilan itu belum terputus.
"Ya Tuhan. Ayo aku bantu kamu untuk bangun." Devi dengan perlahan membantu Nazura untuk berdiri. Wanita itu sangat khawatir dengan sahabatnya dan dengan segera membawanya ke rumah sakit. Nazura pun hanya menurut karena ia merasakan nyeri di perutnya.
Nazura tidak tahu kapan panggilan telepon dengan Roger terputus karena ketika ia melihat layar, panggilan itu sudah berakhir.