Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 64


"Dev, apa kamu mau menemaniku?" tanya Nazura saat panggilannya kepada sang sahabat baru saja terhubung. 


"Ke mana, Na?" 


"Ke rumah sakit. Pamanku sedang dirawat dan aku tidak boleh pergi sendiri, sedangkan Mas Roger sekarang ada rapat penting." 


"Loh, memangnya kamu tidak bersama pengawal?" 


"Ada, sih, pengawal. Tapi aku tidak nyaman jika dengan mereka. Kami tidak berteman dekat jadi aku ngerasa canggung gitu. Tapi kalau kamu tidak mau ya udah, tidak apa, Dev. Nanti aku—"


"Baiklah. Aku akan izin libur hari ini. Tapi kamu jemput aku ya." 


Nazura mengiyakan. Lalu mematikan panggilan tersebut dan bersiap untuk pergi. Ia merasa sangat khawatir ketika Roger mengatakan kalau Bima masuk rumah sakit karena serangan jantung. Pikiran Nazura sudah melayang ke mana-mana ketika mendengar kabar tersebut. Namun, saat Roger mengatakan bahwa Bima sudah sadar dan keadaannya sudah membaik, Nazura pun bisa menghela napas lega. 


Akan tetapi, hati Nazura belum merasa tenang jika belum menjenguk pamannya secara langsung. Ia ingin memastikan sendiri. Sebelum berangkat, banyak nasehat yang diberikan oleh Roger. Lelaki itu sebentar-sebentar telepon hingga membuat Nazura jengah sendiri. 


Ingin sekali ia mematikan ponselnya, tetapi takut jika Roger akan makin marah dan dirinya justru tidak mendapat izin untuk pergi. 


***


"Ini dia, Na." Devi menunjuk sebuah ruangan di mana Bima dirawat. Dengan gegas mereka pun masuk dan Nazura bisa melihat sang paman yang sedang terbaring lemah di atas brankar.


"Na  ...." Suara Bima terdengar lirih, tetapi Nazura masih bisa mendengarnya. 


"Loh, Paman sendirian? Di mana Bibi Nety dan Lolita?" tanya Nazura. Ia memindai seluruh ruangan dan tidak melihat siapa pun di sana. 


"Bibi sedang keluar, sedangkan Lolita pergi bersama Akmal tadi. Katanya, sih, tidak akan lama," jawab Bima. 


"Oh, begitu. Bagaimana keadaan Paman? Apa Paman sudah merasa lebih baik sekarang?" 


Bima mengangguk lemah dan tersenyum seolah menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja. Nazura pun ikut merasa lega. 


Kemudian, Nazura mengobrol banyak hal, sedangkan Bima mendengarkan dan sesekali terkekeh ketika mendengar cerita Nazura. Devi pun tidak mau tinggal diam dan ikut bercerita agar suasana di ruangan tersebut tidak sepi. 


"Nazura!" 


Mereka menoleh ke arah sumber suara dan melihat Nety yang sedang berjalan tergesa. Disusul oleh Lolita dan Akmal di belakang. Melihat sang bibi mendekat, Nazura pun beranjak bangun dan menunduk dalam. Jemarinya saling merem*s karena takut. Sementara Devi sudah memasang kuda-kuda, bersiap jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi kepada sahabatnya. 


"Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Nety. 


Belum juga Nazura menjawab, Nety sudah memeluk Nazura erat. Membuat tubuh wanita itu mematung seketika. 


"Maafkan bibi, Na. Selama ini bibi salah karena sudah menyia-nyiakan dirimu dan tidak pernah berbuat baik kepadamu," ujar Nety. Melepaskan pelukan tersebut dan melihat sang keponakan yang masih terbengong karena bingung.


"A-aku sudah memaafkan Bibi," kata Nazura terbata. 


"Terima kasih banyak, Na. Bibi mengaku salah karena sudah membuat kamu menderita selama ini. Bibi sudah melukai hatimu bahkan terkadang melukai fisikmu juga. Sekarang bibi sadar dan benar-benar tulus ingin meminta maaf padamu. Bibi harap kamu mau memberi kesempatan untuk bibi membenahi semuanya." Nety menatap Nazura lekat. 


"Iya, Bi. Aku sudah memaafkan Bibi jauh sebelum meminta maaf. Aku justru berterima kasih berkat Bibi aku bisa menjadi wanita yang mandiri dan tidak cengeng." Senyuman simpul di bibir Nazura menjadi tanda betapa wanita itu sangat tulus. 


"Lolita, kamu tidak ingin minta maaf kepada Nazura?" Nety menatap Lolita penuh harap, tetapi Lolita justru mendengkus kasar.


"Memang kenapa aku harus minta maaf? Aku tidak salah apa pun kepadanya," ujar Lolita ketus.


"Apa kamu sudah siap kehilangan papa?" Suara Bima memang lirih, tetapi penuh dengan ketegasan. 


Dengan malas, Lolita memeluk tubuh Nazura cukup lama. "Kalau bukan karena papa, aku malas meminta maaf padaku," bisiknya. 


"Tidak apa. Terkadang sebuah paksaan itu lebih baik menurutku. Satu hal lagi, jangan menutup pintu hatimu karena sebenarnya ada lelaki yang mencintaimu dengan tulus dan sudah sangat siap untuk melamarmu," balas Nazura sambil cekikikan. 


Lolita pun melepaskan pelukan tersebut dan menatap kesal ke arah sepupunya. "Jangan bercanda, Na! Tidak lucu! Kamu mau mengejekku?" 


"Tidak. Aku memang bicara apa adanya. Ada orang yang sangat sayang padamu sejak dulu bahkan sudah berniat untuk menikahimu," kata Nazura. Ia ingin tertawa keras ketika melihat wajah Akmal yang sudah sangat gugup dan lelaki itu terlihat salah tingkah sendiri. 


"Memang siapa?" 


"Kamu yakin ingin mengetahui siapa dia? Bagaimana kalau aku merahasiakannya? Dia sudah sangat tulus, tapi takut kamu tolak lagi." Nazura tergelak. Ia benar-benar tak kuasa menahan tawa saat melihat Akmal yang sudah melotot ke arahnya. 


"Tolak lagi? Perasaan aku tidak pernah menolak siapa pun." Lolita bingung sendiri dan berusaha untuk mengingat lelaki mana yang pernah ditolaknya. "Siapa, Na? Jangan buat aku penasaran." 


"Paman, apa Paman sudah siap jika memiliki anak menantu?" tanya Nazura kepada Bima. 


"Tentu saja. Yang terpenting dia bisa menjaga Lolita dengan baik," sahut Bima. Ia tersenyum dan merasa senang. 


"Syukurlah karena Paman sudah memberi izin. Akmal, apa kamu sudah siap melamar Lolita?" 


"Nazura!" Akmal sudah mendelik dan rasanya ingin sekali mencekik sahabatnya yang sangat ember. 


"Akmal?" Kening Lolita mengerut dalam. Menatap Nazura dan Akmal secara bergantian. "Maksudnya ...." 


"Akmal sangat sayang padamu dan ingin melamarmu. Kuharap kamu tidak pernah menolaknya lagi, Ta."