
"Angga! Ini beneran kamu, nak?!"
Hampir saja tidak percaya, saat melihat siapa yang datang. Angga anak pertama Nurlita tiba-tiba saja muncul memberi kejutan dengan pulang tanpa mberi kabar terlebih dahulu.
"Iya mam, ini aku Angga..." Angga memeluk maminya yang telah lama tak bertemu. Nurlita membalas peluknnya dengan tangis bahagia. Lama mereka saling berpelukn melepas rindu.
"Ayo masuk dulu jangan di pintu." ajak Nurlita.
Keduanya masuk ke ruang tengah, dan duduk si sofa. Setelah lama tidak bertemu ada rasa kangen yang sangat mendalam. Angga pergi setelah merasa risih dengan urusan perjodohan, dia belum siap untuk menikah. Berbeda dengan Bagas, dia menikah di usia yang terbilang muda.
Angga tidak bisa melupakan gadis belia yang pernah ia temukan di pantai, entah itu cinta atau apa. Tidak mungkin juga dia jatuh cinta pada gadis belia yang pernah ia temukan di pantai kala itu.
"Kamu mau makan atau mandi dulu? Biar mami siapkan dulu ya..."
"Ngga usah mam, aku mau istirahat dulu...gampang nanti kalau laper aku langsung makan."
"Beneran nih..." Nurlita mengulangnya kembali.
"Iya..." Angga bergegas masuk ke kamarnya meninggalkan Nurlita yang masih duduk di sofa.
"Kamar ini masih sama, tak sedikitpun mami merubahnya. Aahhh..." Angga menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Dia mencoba untuk istirahat melepas lelah. Tidak lama setelahnya Angga pun terlelap tidur.
Sementara di luar Nurlita baru saja mberikan kabar kepada Bagas kalau Angga sedang berada di rumah, Bagas diminta segera ke rumah.
******
Bagas keluar dari kamarnya menuju mobil yang terparkir, tanpa pamit ataupun ijin dari sang istri. Dia adalah penguasa rumah itu, semau dia berbuat apa Gadis tak pernah melarangnya. Gadis hanyalah seorang tumbal, barang yang tergadai.
"Huuhhh!" Gadis menjatuhkan bokongnya di sofa, tatap mata kosong. Berulang kali dipikir pun dia tetaplah seorang istri sementara, tak akan ada belas kasihan dari Bagas untuk melepasnya.
"Ayah...ibu, nenek...apa kalian baik-baik saja, lama kalian tak memberi kabar." Tiba-tiba Gadis teringat keluarganya yang lama tak bertemu, dia segera berlari ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.
"Di mana ponselku ya, aku taruh di sini kok ngga ada. Jangan-jangan ini ulah Bagas." Gadis menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Dia merasa Bagas sudah menyiksanya berlebihan. Dia dikurung tidak boleh berkomunikasi dengan siapapun. Gadia menjatuhkan tubuhnya dan menangis meratapi nasibnya.
Di tempat lain Bagas telah sampai di rumah Nurlita, dia langsung bergegas masuk. Di sana ada Nurlita yang sedang duduk membaca majalah di ruang tengah.
"Mas Angga mana Mam?" tanya Bagas mengagetkan.
"Masih tidur, bentar lagi juga bangun, sini duduk...Gadis nga diajak?" tanya Nurlita sekenanya.
"Mami itu kalau tanya yang susah dijawab, ya ngga mungkin lah aku ngajak Gadis ke sini, kalau Mas Angga tahu gimana, bisa berabeh nanti." Bagas duduk dihadapan Nurlita.
"Ya, kali aja kamu ngajak ke sini," jawab Nurlita tetap fokus ke majalah yang dibacanya.
"Sreek-sreek," bunyi suara sendal bergesekan dengan lantai mendekati ke arah mereka.
"Hai, broo..." Sapa Angga.
Lama mereka tak jumpa, tentu rasa kangen sebagai kakak adik meluap-meluap. Mereka saling berpelukan untuk melepas rindu. Angga tidak mengetahui keberadaam Gadis, yang dia tahu hanya Delia.
Angga belum cerita keberadaan Delia di sana seperti apa, dia pernah melihat tak sengaja jalan bersama dengan laki-laki yang mungkin itu pacar gelapnya. Dia akan cerita nanti kalau suasana sudah santai.
"Ya, mungkin sudah nasibku, Mas...tapi dia berjanji akan sering pulang mengunjungi aku sih..." ucap Bagas masam.
"Selama ini udah? Apa Delia pernah pulang ke Indonesia, atau kamu mungkin yang menyusul Delia ke Paris?"
Bagas menggeleng pelan, karena apa yang mereka ucapkan bersama tidak satupun ditepati. Sejak Delia pergi dia tidak pernah pulang begitu pub sebaliknya. Komunikasi pun terkesan buru-buru karena Delia selalu sibuk. Bagas tak menyadari bahwa hubungan rumah tangga mereka sudah mulai terlijat tidak sehat.
"Dia pasti punya impian tentang kariernya, dia tidak bisa tinggal di rumah seperti menantu yang diharapkan oleh mami. Aku juga tidak bisa mencari istri seperti impian mami tapi aku juga mencintai. Di jaman seperti sekarang, perempuan lebih milih karier ketimbang jadi istri yang dudul manis diam di rumah."
"Ada!" sela Nurlita. Bagas langsung membulatkan kedua bola matanya. "Mami!"
Nurlita tidak sadar bahwa apa yang diucapkannya akan membawa masalah dalam rumah tangga Bagas nantinya.
"Maksud mami, mami udah nemu yang seperti itu, siapa mam...kenalkan aku sama dia." jawab Angga santai. Tapi tidak dengan Bagas, dia seperti kebakaran jenggot dengan cepat langsung menjelaskan apa yang di maksud Nurlita.
Belum saatnya Angga tahu tentang Gadis, dan Bagas tidak mau sampai Angga memgetahuinya. Biarlah hanya Nurlita, Bagas dan supirnya saja yang tahu.
"Sepertinya kalian menutupi sesuatu dari aku, apa ada yang kalian sembunyikan?" tanya Angga yang mulai curiga ada yang tidak beres.
Bagas saling tatap dengan Nurlita. Dia lebih memilih diam dan mencari pembahasan lain.
"Makan aja dulu yuk, pasti kalian udah lapet kan?" Nurlita mengalihkan.
Kemudian mereka masuk ke ruang makan, Bagas berusaha meengalihkan perhatian Angga. Mereka menikmati sajian menu makan siang bersama. Tak ada suara di antara mereka, hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring.
"Kamu belum pengin punya anak? Atau memang sengaja menundanya?" celetuk Angga yang baru saja selesai makan..
"Ya, gimana lagi...Delia belum mau punya anak, dia mengutamakan karier, ya aku harus siap dengan konsekuensinya dong. Aku sangat mencintai Delia, apapun yang dia minta pasti aku kabulkan Mas."
"Cinta...oh Cinta...kalau aku pulang ke Paris kamu ikut ya, kamu bikin surprise sama Delia, gimana dia menyambutmu di sana." ucap Angga sembari meainkan buah yang adda di tanggannya.
"Aku tidak mungkin membuka kedok Delia di hadapan mami, biad Bagas tahu sendiri kelakuan istrinya di sana seperti apa," ucap Angga dalam hati.
"Oke, kapan Mas Angga pulang ke Paris, pasti Delia akan sangat senang dan bahagia sekali melihat aku datang tanpa memberi kabar dulu," ucap. Bagas yakin.
"Semoga saja begitu dan sesuai yang kamu harapkan," ucap Angga sinis.
"Mas Angga seperti meyimpan sesuatu deh, apa yang dia tahu tentang Delia di sana...ahh sudahlah, mungkin ini hanya pikoranku saja." Bagas membuang jauh-jauh pikiran negatif tentang istrinya.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka tentang perusahaan yang orangtua mereka tinggalkan. Nurlita membagi adil aset dan harta peningglan suaminya untuk kedua putranya. Dia hanya bergantung kepada kedua putranya di hari tua nanti.
******
Bersambung...